Panic Attack
Dimas meletakkan plastik putih dengan banyak tulisan korea dan logo ayam di atas meja kecil, lalu merebahkan badannya ke sofa panjang di dekat pintu.
“Kalau abis ini gue dengerin Cortis, lo jangan kaget, ya.” Dimas merespon tatapan Kirana ke bungkus makanan yang dibawanya. “Kalau mau ambil aja tuh, Ran. Tadi gue bungkus kimbab.”
“Abis ketemu match Tinder, jadi lo korea-koreaan sekarang?” Kirana membuka kotak hitam di dalam plastik yang berisi mayak kimbab.
“Tapi yang ini gue nyerah, nggak ngerti omongannya. Kayaknya beda sepuluh tahun emang kejauhan deh.”
“Temen lo kan banyak, Dim. Emang nggak ada yang nyangkut di hati gitu?” Tanya Kirana setelah memasukkan satu potong kimbab ke dalam mulutnya.
“Temen sih banyak, tapi yang pas belum ketemu. Kalau dari temen bisa langsung jadi pacar, mending gue pacarin lo atau Nadine dari dulu.”
“Tapi nggak deh.” Lanjut Dimas setelah berpikir beberapa detik. “Yang satu high maintenance, yang satu terlalu sabar. Yang satu bikin gaji gue nangis, yang satu emang cocoknya sama Arga yang bisa sabar sayang-sayangin lo.”
“Untung kita bukan seleranya.” Ucap Nadine dan Kirana bersamaan.
Jawaban mereka membuat Dimas memasang wajah pura-pura sedih.
“Tadi lo jadi ditemenin Arga ke psikolog?” Tanya Nadine.
“Jadi, sebelum dia meeting. Nanti kalau udah selesai, dia mau jemput ke sini.”
Siang tadi menjadi pertama kalinya Arga bisa menemaninya ke klinik psikologi. Kirana menyadari satu hal, ternyata ada rasa aman yang berbeda dan menenangkan ketika setelah berbicara panjang lebar dengan psikolog, dia bisa melihat senyum Arga lalu berdiam di pelukannya. Semua cemasnya seperti menguap begitu saja.
Kirana lanjut menceritakan sesi konsultasinya hari ini.
“Jadi rasa nggak enak yang lo rasain kalau lihat Prama sama Fitri itu, tanda lo lagi cemas?” Tanya Nadine dari mejanya.
“Dia bilang, trauma dan memori buruk itu tersimpen di otak dan tubuh kita. Makanya waktu ada kejadian yang mirip sama satu pengalaman buruk, walaupun cuma warna baju atau suasana yang sama, semua itu langsung bisa memicu trauma gue. Yang efeknya ke badan. Perut nggak enak, keringet dingin, nafas berat, yang gitu-gitu deh.”
Pertemuan Jumat malam ini dilakukan di kantor Nadine karena sejak pagi si pemilik ruangan masih sibuk. Matanya bergantian antara AutoCAD dengan Sketchup. Memastikan revisi keduanya align. Project rumah old money, yang bujetnya unlimited. Pokoknya menurut Nadine, mereka pasti kaget jika mengetahui siapa kliennya. Padahal personel sembilan naga yang mereka tahu hanya Anthoni Salim dan Robert Budi Hartono.
Dimas mendengarkan cerita Kirana sambil berbaring di sofa. “Makanya kalau ada apa-apa tuh cerita. Jangan kebanyakan dipendem. Nanti kalau nggak jadi jerawat, ya jadi trauma. Nanti sekalinya keluar, langsung jebol kayak keran bocor.”
“Terus dia bilang apa lagi?” Tanya Nadine tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
“Jadi kalau deg-degannya mulai muncul, kalau gue mulai cemas, gue tuh jadi overthinking. Otak gue otomatis nyusun semua skenario terburuk yang bisa terjadi. Padahal mungkin nggak akan ada apa-apa juga.”
Jawabannya membuat Dimas menengok ke arahnya. “Emang lo gitu, Ran?”
“Iya, gue juga baru sadar. Jadi buat nenangin isi kepala, gue harus ngelakuin ini.” Kirana memberikan ponsel ber-casing pink miliknya ke Dimas, memperlihatkan catatan di bagian notes. Lalu mengopernya ke Nadine untuk membacanya.
“Terus gue juga harus cari sesuatu yang bisa ngalihin perhatian gue. Kegiatan yang gue suka, pokoknya biar gue nggak overthinking.”
“Emang lo udah tau, lo sukanya ngapain?”
“Ya… Belum, sih.” Kirana mengangkat kedua bahunya.
“Eh, lo berdua kok bisa jalan-jalan hari Jumat. Nggak kerja?” Tanya Nadine.
“Hari ini tanggal merah, Nad.”
“Cuma lo sama komputer lo doang yang kerja. OB aja libur.”
Nadine mengecek kalender di atas meja yang beberapa tanggalnya dihiasi lingkaran merah dengan deadline project tertulis di bawahnya
“Ampuunn… project gue mepet-mepet semua. Pokoknya abis yang ini kelar, kita ke Korea, yuk. Seminggu aja gitu. Pengen healing!”
Dua makhluk di depannya bertukar pandang. Seperti bisa telepati, mereka sama-sama mencari barang apa yang bisa dilempar ke kepala Nadine karena idenya tadi.
“Nad, gue sama Kirana masih kacung kampret. Kalau bikin rencana yang napak tanah, kek.”
“Ya udah… Lombok, deh. Tapi dua minggu.”
“Gini nih kelakuan orang yang Spotify-nya nggak ada Rony Parulian nemenin sarapan.”
“Di playlist gue ada kok lagunya Rony Parulian. Emang di lo nggak ada?”
Ucapan Nadine membuat dua sahabatnya tertawa.
“Apa gue bilang, Ran. Dia nggak ngerti konteks becandaan kita.”
“Shopee-nya Nadine aja yang VIP, Dim. Dia nggak kenal free ongkir sama promo tanggal kembar.”
Mereka berdua kembali tertawa. Nadine yang tidak paham, langsung kembali ke pekerjaannya.