Percobaan Keempat
Setelah proses pembuatan brownies yang penuh drama itu akhirnya diselesaikan oleh Dimas, mereka sepakat jika dunia baking memang tidak cocok untuk Kirana. Karena hasilnya jauh dari yang dibayangkan sebelumnya.
Sorenya, Nadine dan Dimas mengantarkan Kirana pulang. Arga terpaksa pulang lebih dulu karena budenya dari Jogja mendadak datang ke Jakarta. Kirana yang sebenarnya juga ingin bertemu, langsung dilarang oleh Arga. Dia tidak ingin kedatangan Kirana malah menimbulkan pertanyaan, ‘kapan kalian nikah pake adat Jawa lengkap?’.
“Besok-besok kita coba lagi ya, Ran. Gue punya temen yang bisa ngajarin lukis, atau panjat tebing, atau ngerajut, atau……”
“Ran, kalau gue potong jempol kaki kanannya Dimas, gue kena pasal apa ya?” Ucapan Nadine membuat Kirana tertawa.
Sampai di rumah, garasi terlihat kosong. Tidak ada mobil abu-abu yang biasa terparkir di sana. Hanya ada sebuah motor yang terlihat familier.
“Perasaan gue kenapa nggak enak, ya?” Ucap Kirana.
Baru menginjakkan kaki di depan pintu, terlihat Prama dengan baju olahraga yang Kirana benci. Backpack hitam dengan tas raket padel yang menyembul keluar terduduk di kursi ruang tamu. Melihat Kirana datang, Prama langsung mengambil tasnya.
“Titip Caca. Gue pergi dulu, mau padel.” Ucapnya tanpa basa-basi.
Tanpa menghiraukan keberadaan Nadine dan Dimas, Prama langsung memakai sepatunya.
“Anak lo nggak diajak?” Tanya Nadine cepat.
“Kan ada Kirana, nitip dulu lah. Mumpung lo lagi ramean.” Ucap Prama, masih tanpa melihat ke arah mereka.
“Ibunya padel juga?” Nada suara Nadine mulai naik.
“Fitri lagi ketemu temennya.”
“Ini rumah kosong? Papa Mama nggak ada?” Tanya Kirana perlahan.
“Mama ikut Papa ke acara reunian SMA-nya, Anjani pergi.”
“Pantes tadi Mamah WhatsApp, nanyain gue pulang jam berapa. Ternyata buat…”
Tanpa salam, tanpa pamit, dan pastinya tanpa kata tolong, Prama berlalu keluar rumah lalu menghilang dengan motornya. Hanya terlihat Caca yang duduk di sofa ruang tengah.
“Setiap nitip… eh naro anaknya, kelakuannya kayak gitu, Ran?” Tanya Dimas heran.
“Untung mood gue lagi bagus. Kalau nggak, udah gue gedig palanya pake sapu.”
“Nad, lo udah lama di London kok bahasanya masih gedig? Gue curiga kemarin lo kuliah di Bekasi.”
Saat melihat Kirana, Nadine menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. Matanya terlihat kosong. Wajahnya panik seperti tiba-tiba dipanggil maju ke depan kelas oleh guru killer. Dimas yang juga menyadari ada yang salah dengan Kirana, langsung membuat rencana melalui telepati dengan Nadine.
“Gue temenin Caca ya, Ran.”
Dimas berlari kecil menghampiri Caca di depan televisi dan mengajaknya mengobrol. Sementara Nadine mengajak Kirana ke ruang tamu, agar menjauh dari Caca.
Setelah Kirana duduk, Nadine menarik kursi ke depan sahabatnya yang bernapas semakin cepat dan semakin memburu. Nadine mencoba mengingat isi notes dari psikolog yang Kirana perlihatkan dari ponselnya kemarin.