Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #19

Protes

Terjadi Juga

Jam setengah enam pagi.

Nadine yang sedang bersiap pilates di depan televisi terganggu karena suara ketukan di pintunya yang terus menerus. Tapi marahnya langsung menghilang ketika matanya mengintip lewat peep hole. Saat pintu terbuka, terlihat ekspresi wajah Kirana yang hampir tidak pernah dia lihat. Matanya menyala dan bibirnya terkatup erat. Tanpa menyapa, dia menyerbu masuk sambil membawa koper berwarna abu-abu ke dalam kamar tamu, lalu menutup… eh… lebih tepatnya membanting pintunya.

Di belakangnya, Anjani terdiam melihat kakaknya. Nadine yang belum siap dengan sapaan pagi itu hanya bisa bengong. Melihat pintu kamar depannya terbuka, Nadine menyuruh Anjani untuk masuk.

“Kirana kenapa?” Tanya Nadine setelah mereka duduk.

“Tadi pagi Kak Prama jadi berangkat ke Bali.”

“Emang bangke si Prama!”

“Jadi tadi pagi tiba-tiba Kak Prama dateng ke rumah bawa koper. Nggak ngabarin dulu malemnya, kalau mereka jadi liburan. Kita yang baru kelar sholat Subuh kan kaget. Terus gue lihat mukanya Kak Kirana udah nggak enak tuh.”

Anjani mengambil sebotol air putih di meja, dan langsung menghabiskan setengahnya.

“Terus Kak Kirana langsung nanya, siapa yang mau jagain Caca. Mama kekeuh bilang dia yang bakal jagain. Ya… Kak Nadine tau lah Mama kayak apa. Aku yang anaknya aja tau, nggak mungkin Mama dua puluh empat jam ada di rumah terus.” Anjani menghabiskan air minumnya.

“Kak Kirana langsung masuk kamar, terus bawa koper keluar rumah. Jadi sebelum Kak Prama pergi, Kak Kirana udah cabut duluan. Ternyata dia udah prepare semalem, kayaknya jaga-jaga kalau Kak Prama beneran pergi.”

Nadine menghembuskan nafas cemas. Hal yang dia takutkan benar terjadi.

“Terus tadi ke sini naik apa?”

“Kak Kirana minta tolong dianterin sama temen gue yang rumahnya di belakang. Itu juga ternyata udah dia WhatsApp dari semalem. Dia suruh jaga-jaga dari pagi buat nganterin ke sini. Ya… kan nggak mungkin gue biarin dia berangkat sendirian.”

Nadine baru menyadari Anjani masih menggunakan piyama tidur dan sandal jepit yang modelnya berbeda kiri dan kanan.

“Orang rumah gimana?”

“Semua kaget, lah. Langsung pada manggilin kakak, tapi dia tetap aja jalan. Nggak pake marah, nggak pake ngomel, langsung cabut gitu aja. Sepanjang jalan di mobil juga dieeemmm aja. Untung temen gue ngerti. Dia tau gimana waktu dulu kakak jemput gue, terus sekarang ngurus Caca.” Anjani menyenderkan punggungnya ke sofa.

“Bener-bener nggak ada otaknya si Prama!”

“Dari tadi semua nelponin gue, nelponin kakak, tapi nggak ada yang gue angkat. Nanti kalau pulang, gue harus gimana ya, Kak?”

Nadine berpikir sebentar. Walaupun sebetulnya masih terlalu pagi untuk menggunakan otaknya, tapi dia tetap harus mencari sebuah ide bagus di dalam kepalanya.

“Gini… Bilang aja nggak tahu. Bilang… kalau lo cuma nganter sampe stasiun MRT terus Kirana nggak mau diikutin. Kenapa lo pulangnya lama? Lo main dulu di rumah temen lo yang tadi nganter, karena suasana rumah lagi nggak enak. Gimana?”

“Oke, Kak.” Anjani mengangguk setuju dengan saran Nadine.

“Terus Kirana gimana nih? Gue nggak pernah lihat dia sekesel ini.” Tanya Nadine bingung.

“Diemin aja dulu, sampe dia mau keluar kamar sendiri. Kalau papasan tapi dia belum mau ngomong, nggak apa-apa diemin dulu sampe anteng sendiri. Dia mau nginep di sini sampe Kak Prama pulang. Gue titip dulu ya, Kak.”

Nadine mengangguk.

Tanpa sadar, mereka berdua menarik nafas panjang bersamaan, lalu terdiam. Pagi ini terlalu sibuk. Hari mereka dimulai terlalu pagi.

“Eh… Tadi Kirana nggak bawa kunci gue? Kok ngetok?” Tanya Nadine.

“Bawa. Cuma Kak Kirana nggak enak kalau langsung masuk. Takutnya Kak Nadine masih tidur.”

“Udah marah, masih aja nggak enakan.”

“Namanya juga kakak gue.” Anjani mengangkat bahunya.

Melihat Anjani yang berkeringat dengan rambut acak-acakan, Nadine merapihkan poninya yang belah tengah sambil tersenyum.

“Lo ngantor kan?” Tanya Nadine.

Anjani mengangguk.

“Lo mandi aja di sini, pake baju gue, jadi nanti di rumah tinggal ambil tas. Jadi lo nggak ditanyain macem-macem. Gue juga mau mandi, biar nanti gue anterin lo sekalian ke kantor. Udah lah, udah nggak konsen pilates juga gue.”

Satu setengah jam kemudian, mereka sudah siap. Sepanjang waktu ini, tidak ada pergerakan yang berarti dari kamar tamu.

Lihat selengkapnya