Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #20

Menjaga Prinsip

Kirana 1.5

Menjelang malam, Arga datang ke apartemen Nadine bersama Dimas dan meletakkan sebungkus martabak tipker di atas meja.

“Kirana mana, Nad?”

“Lagi ikut kelas nulis. Paling sebentar lagi selesai.”

Arga mengintip di kusen pintu kamar tamu. Dengan headphone di telinga dan tangan yang tidak berhenti mencatat, Kirana terlihat sangat serius. Arga yang tidak pernah melihat wajah pacarnya seperti itu, tersenyum lebar.

“Dia gimana?” Tanya Arga kepada Nadine dengan berbisik agar Kirana tidak terganggu.

“Ini baru kelas kedua, tapi waktu kelas pertama selesai dia cerita panjang banget.”

Arga menutup pintu perlahan dan beranjak ke ruang tengah. Ikut duduk di sofa bersama Dimas.

“Iya sih, dia juga kalau cerita ke gue excited banget. Gue seneng banget dengernya.” Arga mengambil satu potong pisang coklat. “Kalau kerja serius juga sih, cuma yang ini beda. Matanya kayak ada isinya.”

“Iya kan! Gue juga mikir gitu. Untung belum dipanggilin dukun sama Dimas.”

Tidak lama, Kirana keluar kamar dengan senyum mengembang.

“Lama juga kelasnya. Nggak laper lo?” Tanya Dimas.

“Laper banget. Makan ayam kremes yang waktu itu yuk, Nad.”

Nadine menyenggol lengan Dimas. “Sekarang dia udah bisa milih.”

Sepertinya Self-Concept Clarity (SCC) dari Jennifer Campbell et al. (1996) yang dibaca Nadine di Google, berlaku untuk keadaan sahabatnya saat ini.

Ketika seorang people pleaser menemukan passion-nya, sesuatu yang unik terjadi pada struktur kognitifnya. Passion menuntut perhatian penuh ke dalam (fokus pada yang dia rasakan, bukan yang orang lain pikirkan). Proses ini membangun aspek 'Temporal Stability' dan 'Internal Consistency' dari teori Campbell. Passion menjadi titik yang stabil di mana dia bisa bilang, 'Sekarang gue tahu siapa diri gue dan apa yang gue suka.'

“Makan langsung di sana aja, yuk. Biar lo nggak di sini terus.” Ajak Nadine.

 

Ayam Bakar Dada

Restoran yang terletak tidak jauh dari apartemen Nadine ini terlihat cukup ramai. Pengunjung tidak berhenti-berhenti datang. Nadine berharap ini hanya efek tanggal muda dan bukan karena tiba-tiba viral di TikTok.

Saat semua orang di mejanya sudah kerepotan memotong daging ayam yang masih panas dengan tangannya, hanya Arga yang baru ditemani segelas es teh manis. Setelah dibantu Nadine dan Dimas bertanya untuk ketiga kalinya, akhirnya sebuah piring hijau tersaji di depannya. Tapi ternyata isinya bukan nasi uduk seperti yang dia pesan, melainkan nasi daun jeruk dengan serpihan hijau-hijau di nasinya.

“Saya pesen nasi uduk, Mbak.”

“Maaf, Mas.” Perempuan itu mengangkat piring nasinya kembali.

Tiga menit kemudian, perempuan yang sama kembali dengan sepiring nasi uduk dan sepotong ayam goreng kremes, bukan ayam bakar seperti yang dia inginkan.

“Saya pesen ayam bakar, Mbak.”

“Aduh… Maaf ya, Mas. Kita lagi kurang orang.”

Lihat selengkapnya