Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #21

Tambah Hari

Belanja Bulanan

Seminggu tinggal bersama Nadine, Kirana mau tidak mau ikut rutinitas bulanan sahabatnya. Seperti hari ini, mereka berada di sebuah supermarket yang cukup ramai karena vibes gajian masih terasa di awal bulan. Nadine mengisi trolley-nya dengan berbagai cemilan, mie instan, sampo, sampai sabun cuci piring. Setelah melewati section ready to eat -yang setiap jam delapan malam selalu diskon untuk semua jenis makanan-, mereka mengantri di kasir dengan dua orang berdiri di depannya.

“Nyokap sama Prama masih nelponin lo, Ran?”

“Masih. Cuma gue diemin aja. Males… paling ngomel sama nyuruh gue pulang doang.”

Saat perempuan di depan Nadine sudah membayar belanjaannya, dia mulai meletakkan barang-barang dari trolley ke meja kasir dengan dibantu Kirana. Satu per satu barang Nadine mulai di-scan kasir. Tanpa sadar, seorang ibu di belakang Nadine mulai meletakkan barang-barang dari keranjang belanjanya ke meja kasir.

Masalahnya, ibu itu meletakkan barangnya terlalu dekat dengan barang-barang Nadine.

“Bu, ini belanjaannya digeser sedikit, ya. Nanti belanjaan ibu kecampur sama punya saya.” Ucap Nadine sopan.

“Barang mbaknya kan juga lagi di-scan. Tinggal pisahin aja yang bukan punya mbak. Lagian di sini ada tempat kosong, ya saya taro lah belanjaan saya.”

“Tapi saya juga nggak bisa jagain semua barangnya. Kan saya sambil masukin ke kantong. Nanti barang ibu malah masuk ke tempat saya.” Nadine berusaha sabar.

“Ya elah… Ribet amat sih, mbak. Saya yang jagain, deh.” Ibu tersebut memasang muka kesal dan membuka ponselnya. Matanya hanya fokus di layar, tanpa memperhatikan barang-barangnya.

Nadine memperhatikan seorang perempuan di belakang mereka yang menatap tajam ibu di depannya dengan wajah kesal. Begitu Nadine bertatapan dengannya, perempuan itu menunjuk ibu tersebut sambil berbicara kepada Nadine tanpa suara, ‘Nyelak dia.’ Yang dijawab Nadine dengan senyuman.

Saat kembali melihat belanjaannya di meja kasir, Nadine menyadari barangnya yang sudah tercampur dengan barang ibu di belakangnya. Sepertinya karena tangan si ibu mendorong barangnya terlalu maju ke depan. Nadine menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya. Daripada membuang energi untuk menegur, dia memilih menggeser barang-barang milik si ibu yang bukan miliknya. Namun dengan sengaja Nadine mendorong tiga pack sushi ke samping bungkus mie instan miliknya, agar sushi tersebut ikut ter-scanned oleh kasir.

Setelah semua belanjaannya terbayar, Nadine dan Kirana meletakkan dua tas spunbound besar miliknya -yang sekarang penuh dengan barang-barang- ke dalam trolley.

Menyadari Nadine sudah selesai bertransaksi, ibu tersebut mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Saat melihat barang-barangnya, dia bingung mencari tiga pack sushi yang dia letakkan di awal tadi.

“Sushi saya mana?!” Tanya si ibu ke kasir yang sedang men-scan barangnya satu per satu.

“Saya nggak tau sushi punya ibu. Tapi mbak tadi juga beli sushi. Tiga pack.”

“Kamu ngambil makanan saya?!” Teriak si ibu ke Nadine yang sudah berjalan lima langkah meninggalkan kasir.

Nadine berbalik dengan santai. “Kan tadi saya udah bilang, sabar. Nanti belanjaan ibu kecampur. Nah, bener kecampur kan? Saya nggak tau, udah terlanjur saya bayar juga. Mau gimana lagi.”

Perempuan yang tadi mengantre di belakangnya tersenyum menahan tawa. Terlebih saat si ibu mulai marah-marah tidak terima, karena sushi diskonannya diambil begitu saja. Tapi Nadine sama sekali tidak peduli dan langsung meninggalkan tempat itu.

“Kalau udah dibilangin baik-baik dia masih ngeyel, kadang harus dikasih pelajaran, Ran.” Ucap Nadine santai.

 

Bali Lagi

Lihat selengkapnya