Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #22

Dimas dan Anjani

Terima Kasih

Malam mulai larut.

Saat semua makanan sudah habis, ini waktunya untuk pamit. Walaupun setengah hati, tapi Kirana menitipkan Anjani untuk diantar pulang oleh Dimas. Berita-berita tentang taksi online yang mulai mengerikan jadi alasannya.

“Kakak lo masih ngawasin kita. Ini kalau gue gandeng lo, pasti gue langsung ditendang dua kaki.” Ucap Dimas saat mereka berjalan di lorong apartemen menuju lift.

Ketika melirik ke belakang, Anjani tertawa karena tatapan tajam Kirana benar mengikuti mereka dari balik kusen pintu.

“Kak… Gue mau nanya deh. Kok lo baik banget sama Kak Kirana?”

“Yang pasti, bukan karena gue naksir sama dia.”

“Serius.” Anjani tertawa kecil. “Kalau Kak Nadine kan jelas, mereka emang temenan dari embrio.”

“Kakak lo juga baik sama gue. Udah mau adopsi gue di kelas, walaupun Nadine nolak mentah-mentah sampe bikin petisi segala.”

“Kak… Serius ah…”

Anjani menekan tombol turun.

“Temen gue banyak, tapi yang kayak Kirana cuma satu. Dia hafal ulang tahun adik gue, hafal gerak gerik gue, tau kapan cukup nemenin diem sebelah gue tanpa ngobrol.” Dimas tersenyum. “Waktu SMA, gue sering skip makan kalau lagi sibuk ngurusin acara sekolah. Tapi setiap Kirana lewat meja panitia, dia suka bawain gue somay, batagor, atau cuma minum.”

“Tapi yang pasti, bukan karena gue naksir dia, ya.” Dimas kembali mengulang kalimatnya di awal. “Gue cuma ngehargain perhatian dia… as a friendas a best friend.”

Pintu lift terbuka. Tidak ada orang di dalam.

“Terima kasih ya, Kak.” Ucap Anjani sambil memasuki lift.

“Terima kasih kenapa?” Dimas bingung dengan ucapan Anjani.

“Terima kasih udah baik sama Kak Kirana. Gue bersyukur banget dia punya temen kaya kak Dimas, Kak Nadine. Juga pacar kayak Kak Arga. Orang-orang yang beneran care sama dia.”

“Kita kan emang udah temenan lama, Jan. Wajar lah.”

“Gue tau keadaan dia lagi berat. Tapi kalau di depan gue, dia selalu berusaha kelihatan kuat, kayak nggak ada apa-apa, kayak semuanya baik-baik aja. Mungkin karena dari dulu, dia selalu kayak gitu ke gue. Dari gue kecil.”

Anjani menghapus air mata yang mengambang di sudut matanya, sebelum benar-benar turun ke pipi.

“Waktu gue SMA, kakak bahkan nggak ngebolehin gue bantuin dia jagain Caca dan nyuruh gue buat ikut ekskul yang banyak. Katanya biar gue punya kehidupan remaja normal.” Anjani tersenyum tipis. “Tapi gue tuh sebenernya waktu SD cuma ikut ekskul hari Selasa, Rabu doang tau, Kak. Sisanya boong. Maksud gue, biar Kak Kirana punya waktu main sama kalian.”

Dimas teringat Anjani kecil yang berkata setiap hari ada ekskul di sekolah. Tapi saat dia menemani Kirana menjemputnya, baju Anjani masih tetap rapih. Tidak seperti teman-teman sekolahnya yang lain.

“Ya… kalau Kirana nggak mau open juga, kita sebagai temen kan nggak bisa apa-apa.”

“Dengan Kak Kirana open ke kalian, berarti dia percaya sama kalian. Terima kasih udah nggak nyerah sama dia. Gue cuma takut suatu hari, kakak nggak kuat terus meledak.”

Lagi-lagi air mata Anjani turun. Tapi kali ini Dimas melihat lebih dulu dan tangannya refleks menghapus setetes air mata itu.

Merasa pipinya disentuh, Anjani melihat ke Dimas.

Saat mereka saling bertatapan, pintu lift terbuka. Seorang satpam yang biasa berjaga di lobi, ikut menatap mereka berdua.

“Oh, pantes dari tadi saya tungguin nggak turun-turun liftnya.”

Mereka berdua tersenyum canggung. Seolah baru sadar pintu lift sudah terbuka sejak tadi.

“Nggak apa-apa lho kalau masih mau di sana. Saya pencet tombol tutup lagi aja, ya?”

“Kalau naik lagi, nanti kita nggak lihat-lihatan doang, Pak.” Ucapan asbun Dimas membuat Anjani refleks memukul punggungnya.

“Ya maksudnya… kalau naik berarti kita balik lagi ke kamar Nadine. Gitu. Iya, kan…” Dimas berjalan keluar dari lift. “Yuk, misi, Pak.”

Anjani menyusul Dimas keluar dengan menahan tawanya. Air matanya sudah masuk kembali. Saat Dimas keluar, si satpam menepuk pelan bahunya.

“Tenang, Mas, saya nggak lihat apa-apa kok. Mata saya minus.” Bisik si satpam.

Lihat selengkapnya