Pulang
Kirana akhirnya memutuskan pulang setelah adiknya memberitahu jika Prama dan Fitri sudah kembali ke Jakarta. Sesampainya di rumah, ruang tengah tampak ramai karena kakaknya sedang membuka koper sambil membagikan oleh-oleh. Sementara Anjani menemani Caca di meja makan sambil menonton YouTube di ponselnya.
Tanpa mempedulikan keberadaan mereka, Kirana langsung melangkah lurus menuju kamarnya. Namun saat berjalan melewati mereka, ternyata bukan sapaan ramah yang diterimanya.
“Inget pulang juga, lo.” Sindir Prama, tanpa menatapnya.
“Kirana, kamu itu bener-bener, ya. Telepon nggak diangkat, WhatsApp Mama nggak dibales. Dua minggu, Mama jagain Caca sendirian. Kamu nggak ada bantuin sama sekali.”
“Telepon sama WhatsApp aku juga nggak dibales, Ma.”
Kirana yang tadinya berniat berdiam di kamar seharian, menarik nafas panjang dan berat. Kalimat mereka membuat rasa tidak nyaman itu kembali muncul perlahan di tubuhnya.
“Baru juga dua minggu, aku bertahun-tahun jagain anak sama cucu Mama nggak pernah tuh ngeluh capek.” Ucap Kirana pelan. Dia bahkan terdiam sejenak saat mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Maksud kamu apa?” Mama mengerutkan dahinya. Kaget dengan respon Kirana.
Anjani yang mulai khawatir, meninggalkan Caca dan menggandeng lengan Kirana untuk mengajaknya masuk kamar. “Udah, Kak. Istirahat dulu, yuk.”
“Ya elah, dari dulu kan lo di rumah aja. Nggak ikut ekskul, nggak ngurus acara kampus, kerja juga WFH, capeknya apa sih?”
“Prama!” Ucap Papa tegas.
Kirana tidak mempedulikan ajakan adiknya. Kepala Kirana berdenyut, rasa tidak enak itu menjalar ke perutnya, batas sabarnya benar-benar sudah habis. Dia berbalik badan dan menatap Fitri tajam.
“Fit, ngurus Caca capek nggak?”
Fitri yang sejak tadi duduk diam di samping Prama -dengan tatapan yang tidak dapat ditebak-, awalnya diam. Dia tampak untuk ragu-ragu menjawab, sebelum akhirnya mengangguk. Pelan.
“Itu kan salah satu alesan lo ngajak Fitri ke Bali? Fitri capek, stres jagain Caca, mana Caca susah makan. Padahal belum juga setahun ngurus anak sendiri. Bukan anak orang lain.”
Mengeluarkan kalimat tersebut membuat jantung Kirana berdegup kencang. Tangannya mencengkeram pegangan koper. Dia mencoba menarik napas panjang, namun gagal. Paru-parunya seperti menolak oksigen yang masuk. Meskipun wajahnya mulai terasa panas, Kirana tidak peduli dan melanjutkan ucapannya.
“Gue tanya, selama lo berdua kerja, dari Caca umur tujuh bulan, bertahun-tahun, sampe enam bulan yang lalu, emang dia ngurusin hidupnya sendiri? Caca bikin makan sendiri? Pulang sekolah sendiri? Menurut lo, siapa tuh yang ngurus?”
Kirana menghela nafas, saat tidak ada yang menjawab. Dia melepas tas yang sejak tadi tersampir di bahunya, lalu duduk di sebelah Caca di meja makan.
“Ca, Tante Rana mau nanya.” Kirana mengelus rambut Caca. "Waktu Mama sama Papa kerja, yang ngajakin kamu main siapa? Eyang bukan?”
Caca menoleh dari ponselnya dan menggeleng. “Tante Rana yang nemenin.”
“Yang jemput Caca pulang sekolah, nemenin makan siang, meluk sama ngobatin Caca waktu jatuh main otopet, siapa?”
“Tante Rana juga. Kan semuanya sama tante.”
Kirana kembali mengelus rambut Caca, lalu kembali ke tempatnya berdiri. “Pram, menurut lo… gue capek nggak ngelakuin semua itu?”
Prama tidak menoleh sama sekali ke Kirana. Matanya hanya fokus ke kopernya.
“Oh, ada lagi. Lo bilang nggak pernah punya quality time berdua. Masa sih?” Kirana tersenyum sinis. “Gue tau kok, lo berdua kalau pulang kantor suka makan bareng, nonton bioskop, ke mal. Sampe rumah tinggal bilang lembur. Tau dari mana? Instastory Fitri, dong."