Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #24

Konsekuensi

Rebranding NARA

Pagi Kirana hari ini ramai karena group call dari dua sahabatnya. Kirana berbaring di tempat tidur, menatap lurus ke ceiling kamar.

“Gue nggak pernah kebayang lo ngamuk gini. Gue pikir Nadine duluan yang bakal ngomel ke Prama. Gimana rasanya, Ran?” Tanya Dimas. Sayup-sayup terdengar lagu Maliq & D'Essentials dari balik suaranya. Sepertinya dia sudah di mobil dalam perjalanan ke kantor.

“Ternyata nggak selega itu. Cuma… lumayan, lah.”

“Walaupun ngamuk ke keluarga itu nggak bagus, but i'm so proud of you, sister!” Suara Nadine terdengar terengah-engah, dia pasti sedang berlari di atas treadmill.

“Terus sekarang gue harus ngapain?” Tanya Kirana, masih menatap ceiling.

“Ya nggak ngapa-ngapain. Biar aja kakak lo mikir. Itu juga kalau isi kepalanya nggak karatan gara-gara kebanyakan padel.”

“Yang penting sarapan dulu, Ran. Kesel juga butuh tenaga.” Ucap Dimas.

Kirana melirik piring kosong di meja belajarnya. “Udah makan, udah mandi juga.”

“Kalau butuh tempat hibernasi, apartemen gue selalu terbuka, ya.”

Setelah menutup telpon, Kirana bangun dan bersandar di headboard kasur sambil membuka Instagram. Sebuah iklan skincare NARA muncul di timeline-nya. Brand skincare yang konsep rebranding-nya dirancang oleh Kirana dan tim. Setelah banyak revisi dan perdebatan internal NARA, akhirnya konsep barunya launching.

Skincare minimalism (skinimalism).

NARA memutuskan untuk fokus ke essential core. Cleansing, moisturizing, dan protecting.

NARA. True to Your Skin.

Kulit yang sehat tidak butuh sepuluh produk.

Berhenti mencoba menjadi segalanya.

Mulai merawat yang benar-benar penting.


Interview Lagi

Masih dengan baju tidurnya, Kirana keluar kamar membawa gelas dan piring kotor bekas sarapannya untuk dicuci. Di meja makan, Prama dan Fitri -yang berpakaian rapih- sudah selesai sarapan dan sedang mengobrol dengan Mama. Sementara Caca asyik bermain sendiri di depan televisi.

Di kitchen sink tertumpuk piring kotor milik kakaknya seperti biasa. Kirana hanya melihat sekilas, lalu menyalakan keran air. Saat sedang mencuci piring, sayup-sayup dia mendengar Fitri bercerita tentang rencananya hari ini.

“Aku ada interview lanjutan sama user hari ini, Ma.” Ucap Fitri.

“Doain ya, Ma.” Prama menambahkan dengan semangat. “Kantornya itu punya satu kompleks gedung sendiri. Perusahaan multinasional yang produknya ada di mana-mana.”

Lihat selengkapnya