Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #25

Tentang Kirana

Teori Baru

Semalam Kirana menemukan sebuah istilah baru di Threads, namanya post-traumatic growth (PTG). Istilah yang dikembangkan oleh psikolog Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun di pertengahan 1990-an. Artinya perubahan atau transformasi psikologis positif yang dialami seseorang, sebagai hasil dari perjuangan keras menghadapi trauma atau krisis kehidupan yang berat. Proses ini bukan menghapus rasa sakit akibat peristiwa tersebut, melainkan membentuk perspektif dan kapasitas diri yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Begitulah penjelasan yang ditulis Google saat Kirana mengetik PTG di search bar.

Sesungguhnya Kirana tidak tahu apakah semua kejadian beberapa tahun terakhir benar-benar membuat dirinya menjadi pribadi lebih baik. Namun, menurut sahabat dan pacarnya memang ada yang berubah dari diri Kirana. Dia kini lebih menghargai dirinya sendiri dan lebih paham boundaries yang sehat bagi dirinya. Meskipun hingga saat ini, dia belum dapat berkata ‘tidak’ secara terus terang.

Setidaknya, Kirana merasa hidupnya kini memiliki ruang yang lebih banyak untuk memikirkan dirinya sendiri. Hal yang dia lakukan sekarang hanya bekerja, jalan-jalan tanpa memikirkan masalah orang lain, menulis, dan melakukan semua hal yang dia suka. Sama seperti manusia normal lainnya.

Kali ini dia ingin lebih egois untuk dirinya sendiri.

 

Untuk Mama

“Udah tiga bulan nih dia berenti ngomong sama orang rumah.” Ucap Anjani di telepon, setelah menerima plastik dari ojek online.

“Dia jadi lebih pendiem. Terus jarang keluar kamar. Kalau nggak perlu keluar, ya nggak keluar. Paling kalau butuh apa-apa ngomongnya lewat gue.” Lanjut Anjani.

“Iya… Iya… Nanti gue bilangin. Terima kasih pisangnya ya, Kak.” Anjani menutup ponselnya, lalu membuka plastik yang dikirimkan oleh Dimas. Di dalamnya terduduk manis sebuah kotak bertuliskan pisang waras.

Setelah beberapa minggu Kirana menerapkan silent treatment ke keluarganya, Prama dan Fitri akhirnya berhenti menitipkan Caca di rumah Mama. Entah bagaimana caranya, sekarang Caca benar-benar diurus oleh orang tuanya sendiri. Sesekali Anjani bercerita, jika Mama terkadang pergi ke rumah Prama untuk menjaga Caca jika kedua orang tuanya sedang sibuk.

Saat Anjani ingin mengeluarkan kotak pisangnya, tiba-tiba dia melihat Mama keluar dari kamar. Mengingat pesan Dimas jika pisang itu diberikan khusus untuk dirinya dan Kirana, Anjani mengikat kembali plastik tersebut dan menyembunyikannya di atas kulkas. Dia kemudian kembali fokus ke mie gorengnya yang sempat terlantar di atas meja makan.

Melihat Anjani duduk sendiri, Mama mendekati dan duduk di sampingnya.

“Kirana mana?”

“Pergi. Dijemput Kak Arga barusan.” Anjani tidak mengalihkan pandangan dari piringnya.

“Kirana… waktu dulu kayak apa?”

“Kayak apa gimana?” Tanya Anjani balik, masih mengunyah mie goreng.

“Dia capek… mmm… beban ya, waktu Mama suruh jagain kamu?”

“Aku tau kakak sayang sama aku. Aku tau dia tulus dan seneng nemenin aku setiap hari, walaupun harus buru-buru setiap pulang sekolah.” Anjani meneguk air putihnya. “Tapi aku juga tau kalau dia mau kayak temen-temennya. Dia mau ikut ekskul jurnalistik, tapi harus jemput aku. Dia mau nonton sama temen-temennya, tapi nanti aku kelamaan nunggu di sekolah. Dia mau jalan-jalan ke mal sampe malem, tapi nggak ada yang jagain aku.”

“Kirana nggak pernah cerita ke Mama.”

“Walaupun waktu itu aku masih SD, tapi aku tau dia pernah ngomong ke Mama. Dia pernah ijin ikut ekskul, tapi nggak didenger. Dia pernah ijin jalan-jalan, tapi nggak dibolehin. Sama aja kaya ngomong ke Kak Prama, nggak pernah diperhatiin.” Ucap Anjani santai, tanpa bermaksud menyindir.

Mama terdiam mendengar alasan Anjani.

“Kakak pernah satu kali telat jemput aku. Aku nangis di depan gerbang sekolah soalnya dia nggak dateng-dateng, padahal temen aku udah pulang semua. Sampe ditenangin guru-guru, Ma. Waktu akhirnya sampe, dia minta maaf berkali-kali. Ternyata kakak diajak temennya main Timezone di mal deket sekolah, soalnya anak SMP pulang cepet. Aku inget banget.” Anjani tertawa kecil.

“Kok Mama nggak tau?” Mama mengerutkan keningnya.

“Kakak nggak bilang lah. Soalnya pasti Mama ngomel gini. ‘Itu tanggung jawab kamu, Ran. Masa kamu bisa main sementara adik kamu nungguin di sekolah.’ Iya, kan?” Ucap Anjani sambil mengaduk isi piringnya, tidak melihat ke arah Mama.

Mama kembali terdiam, tidak menyangkal kalimat Anjani.

“Abis itu dia nggak pernah telat. Mau hujan, mau sakit, dia tetap jemput. Menurut kakak, ngurus aku itu udah jadi tugas dia. Soalnya Mama dan Papa sibuk cari uang biar kita bisa sekolah, itu yang selalu dia bilang.” Anjani mengambil satu suapan mie.

Lihat selengkapnya