Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #26

Pada Akhirnya

Jadi Gimana?

“Nad, lo nggak pake nasi?” Tanya Dimas setelah menciduk empat centong nasi, sementara di sampingnya Nadine hanya mengambil dua potong ayam bagian dada. Padahal Nadine itu pecinta paha atas garis keras.

“Lagi diet.” Jawab Nadine cepat.

“Deket sama cowok mana lagi?” Bisik Dimas ke Kirana yang sedang mengantri nasi di belakangnya.

“Doyan olahraga, sampe ikut HYROX cowoknya. Makanya piringnya sepi kayak gitu.”

Pertemuan Jumat malam kembali dilakukan di apartemen Nadine yang hari ini beraroma ayam goreng kremes yang dibawa Kirana. Ceritanya mereka sedang merayakan Kirana yang baru.

“Lo jadi ikut lomba cerpen itu, Ran?”

“Jadi, tapi kalah. Gue mau coba ikut lomba nulis novel, deh. Kayaknya gue udah siap nih nulis panjang. Temanya rumah… ngomongin apaan, ya?”

Dimas dan Nadine saling bertatapan satu detik, lalu menyahut kompak, “Ya… cerita hidup lo, lah!”

“Monyet lo berdua!” Kirana melemparkan timun ke wajah sahabatnya yang sedang tertawa.

“Kata Martin Scorsese, the most personal is the most creative. Kurang personal apa, cerita lo sama Prama?”

“Ah… udah, lah… Males gue nginget-ngingetnya.”

“Anjani kenapa nggak ikut? Dia kan ikut berjasa.” Tanya Nadine yang piringnya hanya berisi dada ayam, tempe, tahu dan banyak daun-daunan.

“Lagi lembur.” Ucap Kirana dan Dimas hampir bersamaan.

Selama beberapa detik semua terdiam. Rasanya ada yang janggal dalam jawaban spontan tadi. Kirana dan Nadine saling berpandangan, sebelum menoleh bersamaan ke satu arah yang sama.

“Kok lo bisa tau?!?!” Kali ini ucap Kirana dan Nadine bersamaan.

Dimas panik tapi berusaha untuk tetap tenang, seperti anak kecil yang tertangkap mencuri rambutan oleh pemilik pohonnya. Sementara dia berusaha mencari alasan, Arga menahan tawa melihat wajah Kirana yang kesal.

“Ya… lihat Instastory, lah. Ya… kan tadi dia update masih di kantor jam segini. Ya… berarti lembur, dong.” Jawab Dimas dengan mata tetap di ayamnya. Mencoba menyembunyikan kepanikannya.

“Eh, Caca gimana?” Dimas berusaha mengalihkan pembicaraan. Sementara Nadine sedang membuka ponsel untuk memastikan alasan Dimas yang sebelumnya.

“Kata nyokap masih diurus Fitri. Tapi lagi nyari mbak.”

“Si Fitri di rumah ngapain aja?” Tanya Nadine setelah menutup ponselnya karena yakin Anjani memang men-update Instastory-nya. Melihat gelagat Nadine, diam-diam Dimas menghela nafas lega.

“Kata Anjani sih, dia masih cari kerja WFH, cari freelance, buka-buka Upwork, LinkedIn. Gitu gitu, lah.”

“Eh tapi ya, gue berapa kali pernah WhatsApp Prama nawarin penyalur ART. Malah pernah gue kasih langsung CV ART-nya. Tapi dia nggak pernah mau.” Ucap Dimas.

“Lo dapet CV ART dari mana?” Kirana mengerutkan keningnya.

“Temen gue, namanya Katia. Dia punya penyalur gitu, namanya Agensi Rumah Tangga.”

“Ada-ada aja temen lo, Dim.”

“Aku juga pernah nawarin temennya mbak aku ke Prama, tapi nggak mau juga dia.” Tambah Arga.

“Iya, gara-gara kejadian sama mbaknya Caca yang dulu, dia jadi nggak percayaan sama orang luar. Tapi kan malah nyusahin keluarga sendiri, ya.”

“Terus lo di rumah gimana?”

Kirana menggigit sepotong tempe.

“Fitri datengin gue… Seminggu yang lalu. Kata Anjani dia sering nanya, gue udah mau ngomong apa belum.”

 

Take It For Granted

Tok… Tok…

Saat Kirana membuka pintu, Fitri sudah berdiri di depannya. Di sebelah ibunya, Caca yang memeluk boneka kelinci menatap Kirana dengan mata berbinar.

“Tante Rana!” Caca langsung masuk ke kamar dan memeluk kaki Kirana.

Kirana tersenyum tipis, lalu membungkuk dan mencubit gemas pipi Caca yang bulat. Tanpa berkata apa-apa, Kirana kembali ke tempat tidur, lalu menghentikan film yang sedang ditontonnya di laptop.

Dengan lincah, Caca ikut naik dan duduk di samping Kirana, sementara Fitri memilih duduk di kursi belajar.

“Kata Mama, sekarang kalau aku mau main sama Tante, aku harus nanya dulu. Hari ini Tante Rana lagi capek nggak? Soalnya kita kan udah lama nggak main bareng. Aku mau denger cerita princess lagi.”

Lihat selengkapnya