Baby Si(s)tter

Annisa Diandari Putri
Chapter #27

Wedding of the Year

Resepsi Pernikahan

Malam itu, Nusantara Ballroom di The Dharmawangsa Jakarta disulap menjadi taman bunga yang megah. Kain-kain satin berwarna putih gading dipasang bergelombang di seluruh ceiling, seperti awan yang menggantung di langit. Chandelier klasik kecil terlihat bercahaya di beberapa titik. Focal point malam itu adalah sebuah instalasi megah di bagian tengah ruangan. Sebuah chandelier besar yang dikelilingi oleh rangkaian bunga wisteria biru menjuntai ke bawah, yang disorot oleh spotlight.

Dinding tanaman hijau vertikal yang rimbun dan rapat memisahkan antara area tengah ruangan dengan deretan gubuk makanan di pinggir ruangan. Sementara di beberapa sudut, pilar-pilar putih berdiri menopang vas porselen yang berisi perpaduan bunga lily putih, hortensia ungu, serta mawar baby pink.

Resepsi ini memang bukan pernikahan anak presiden, tapi banyaknya tamu dan keluarga kedua pengantin membuat gubuk Sushi Tei tidak berhenti menyajikan stamina roll. Apalagi saat acara mencapai puncaknya pada pukul delapan malam.

Kirana dengan kebaya hitam dan rambut panjang yang ditata dengan konde modern sejak sore tadi, mengawasi dua orang yang sedang berbincang sambil tertawa di samping gubuk Tuku. Kirana meletakkan mangkok bakwan malangnya di meja piring kotor, lalu menerima piring berisi hakau dari Arga yang baru kembali dari gubuk dimsum. Sambil mengunyah, matanya tetap tidak lepas dari mereka.

“Udah, sayang, biarin aja.” Arga memasukan satu potong dimsum ke mulutnya.

“Nggak gitu…”

“Dimas itu kalau beneran sayang sama cewek malah nggak macem-macem, kok.”

“Itu aku tau. Kan aku juga saksi hidup percintaannya dari SMA.”

Sepanjang malam, Kirana sibuk mengamati Anjani yang memakai kebaya yang persis dengannya. Adiknya tampak asyik berjalan dari satu gubuk ke gubuk yang lain ditemani oleh Dimas.

“Maksud aku gini, lho. Ini kan nikahan sepupu aku. Nadine aja nggak dateng. Kenapa Dimas ada di sini? Kenal siapa lagi dia? Nggak mungkin diundang Anjani, kan?”

“Ohhh… aku pikir kamu khawatir sama Anjani.”

“Tapi itu juga, sih.”

Kirana melepaskan pandangannya dari mereka berdua dan berjalan menuju gubuk bebek peking.

“Lagian kalau udah aku galakin gitu, tapi Dimas tetap nggak mundur. Ya gimana… aku udah harus terima nasib.”

“Tapi kalau kamu jadi kakaknya Dimas, kan kamu jadi bisa nyuruh-nyuruh dia.”

“Ih… Bener juga kamu!”

Keduanya berdiri di sudut ruangan, ditemani sepiring bebek peking yang teksturnya lebih empuk dari suara Afgan yang mengalun sepanjang acara.

“Kalau nanti kita nikah, kamu mau resepsi yang kayak gini?”

“Sayang, di antara kita nggak ada yang anaknya komisaris bank kayak sepupu aku. Jadi ngapain kita bikin resepsi yang ngundang Afgan?” Kirana menunjuk ke arah panggung dengan dagunya.

Di panggung di samping ruangan, Afgan -yang malam ini tidak berkacamata- sedang menyanyikan lagu kacamata diiringi teriakan ibu-ibu di depannya.

“Maksud aku… kamu mau yang vibes-nya kayak gini?”

“Aku sebenernya pengen outdoor, garden party. Dress-nya bohemian style gitu. Terus kita mingle aja sama tamu.”

Kirana mengusap sisa saus bebek yang belepotan di ujung bibir Arga menggunakan ibu jarinya dengan lembut.

“Eh, lomba nulis kamu gimana? Udah ada update-nya lagi belum?” Tanya Arga.

“Baru kemarin pengumumannya, tapi aku kalah lagi. Cuma sampe dua puluh besar aja.”

“Dua puluh besar itu bagus, sayang. Mungkin belum waktunya aja. Berarti nanti harus ikut lagi, ya.”

“Kayaknya aku emang seneng nulis. Minggu depan mau diajak Dimas ketemuan sama temennya yang kerja di PH itu.”

“Lo pasti pengen nanya kan, kenapa gue di sini?” Obrolan mereka terpotong karena Dimas tiba-tiba berdiri di belakang mereka. Membuat Kirana hampir tersedak potongan bebeknya.

“Penganten ceweknya temen les gue waktu kelas tiga.”

“Bukannya kita les bareng waktu kelas tiga? Gue nggak inget kita sekelas sama istrinya sepupu gue.”

“Les drum.”

 

Closure

Setelah menyelesaikan lima lagu sesuai set list, Afgan akhirnya turun panggung, diikuti teriakan encore dari ibu-ibu yang belum puas mendengarnya bernyanyi.

“Aku mau ambil kambing guling, kamu mau nggak?”

Kirana mengangguk.

“Gue ikut, Ga.”

“Kamu tunggu sini dulu, ya. Soalnya tadi aku lihat antri banget.”

Baru beberapa menit Arga dan Dimas pergi, sekumpulan wanita berkebaya yang serupa dengan Kirana tampak berjalan mendekat. Karena begitu cantik dan mewahnya resepsi ini, Kirana sampai lupa satu fakta krusial. Resepsi pernikahan keluarga adalah saat di mana bude, pakde, om, tante, sepupu, sampai saudara jauh, akan menanyakan pertanyaan interogasi dengan tingkatan sebagai berikut.

1.    Kapan lulus?

Lihat selengkapnya