Bacalah dengan Nama Tuhanmu

Shelbi Asrianti
Chapter #1

Memori yang Kembali

Belasan kamera profesional menyorot. Lampu kilatnya menyilaukan, membuatku sedikit memicingkan mata. Tak terhitung jumlah ponsel yang mengabadikan momen. 


Duduk di atas kursi roda, di antara gugup dan sedikit demam panggung, aku mempertahankan senyum terbaik. Ini hari bersejarah. Perayaan besarku. Tak akan kubiarkan apa pun merusaknya. 


Pemandu acara menyebut namaku. Neni Komala. Ketua Umum Yayasan Langkah Setara. Dengan gagah dan tanpa bantuan, aku menggulirkan kursi rodaku melewati jalur landai ke atas panggung. 


Kini, di sampingku berdiri Wali Kota Bogor Abimana Aryatama, memamerkan jempol ke arah rekan-rekan wartawan foto yang gesit membidik.


MC lanjut memanggil nama-nama penting, para petinggi yayasan, juga pejabat setempat, akademisi, hingga pegiat inklusi nasional. Beberapa di antaranya, serupa denganku, dianggap cacat dan tak sempurna oleh dunia. Difabel. Berkebutuhan khusus. Namun, pagi ini kami berbangga hati.


Langkah Setara yang terbentuk sejak tiga tahun lalu di Surabaya resmi merambah Kota Bogor, sekaligus berekspansi secara nasional. Organisasi pemberdayaan difabel Langkah Setara kini memiliki 1.500 anggota yang tersebar di 12 kota/kabupaten dan tujuh provinsi. 


Hatiku penuh. Sejak pagi, ballroom Hotel Asih di pusat Kota Bogor ini dipadati tamu-tamu tak biasa, juga riuh rendah yang tak jamak terdengar. Desir halus kursi roda yang menggelinding di atas karpet mewah, ketukan tongkat tunanetra yang ritmis, hingga tawa lepas anak-anak cerebral palsy yang bersahutan. Di sisi kiri panggung, kami hadirkan pula Juru Bahasa Isyarat (JBI) agar para teman tuli yang hadir bisa mengikuti jalannya acara.


“Selamat, Bu Neni. Semoga semakin banyak program pemberdayaan difabel yang bisa kita sinergikan bersama.” Wali Kota Abimana menjabat tanganku.


“Terima kasih, Kang. Hatur nuhun pisan Kang Abimana dan Teh Yana sudah berkenan hadir,” kataku, berusaha cair berbincang dengan bahasa Sunda ala kadarnya. Barangkali tak cocok, sebab logat Jawa Timur masih kental menempel pada ujaran lisanku, warisan masa lalu yang tak akan pernah luntur dari lidah.


Yana Andriana, istri Wali Kota, bergegas naik panggung usai sesi foto official. Tercium wangi parfum mahalnya saat dia tiba di hadapanku. Menunjukkan gestur akrab, perempuan modis itu membungkukkan tubuhnya untuk cipika-cipiki denganku.


“Ampun, Bu Neni, saya mah cirambay dari pagi. Tanggung jawab hayo!” katanya kenes. Sisa-sisa air mata terlihat di sudut matanya yang memerah. “Atuh nggak nyangka anak-anak difabel bisa pinter-pinter gini, gening,” lanjutnya sambil membetulkan hijab.


Aku tersenyum, lega karena alur acara yang kugagas telah menyentuh para tamu yang kebanyakan berasal dari kalangan awam. 


“Teh Yana belum lihat kan, bagaimana anggota-anggota kami yang tidak bisa berjalan tapi mahir mengendarai motor modifikasi, tidak punya tangan tapi bisa berenang, bisa main basket, bisa melukis indah, bisa bikin kerajinan. Sebenarnya kami bisa apa saja, Teh,” ungkapku.


“Percaya, percaya saya mah. Sukses terus ya Bu Neni. Undang saya lagi, insyaallah selalu hadir. Saya mau borong kerajinan di bazar dulu ya. Brosnya lucu-lucu,” kata Teh Yana berpamitan.


Aku memandanginya beranjak ke area penjualan hasil karya perajin dan pelaku UMKM yang merupakan dampingan inkubator bisnis Langkah Setara. Sejauh yang kutahu, Teh Yana yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bogor memang selalu berburu pernak-pernik kerajinan unik di setiap kesempatan.


Aku melihat sekelilingku. Pak Wali Kota sedang meladeni doorstop wartawan di bawah panggung. Tadi ia mengajakku turut serta untuk wawancara bersama, namun aku menolak dengan halus. Aku katakan cukup diwakilkan Pak Wali saja. Lagi pula, aku yakin para pemburu berita itu pasti lebih memburu kabar soal kota dan pemerintahan.


Di sudut dekat meja registrasi, terlihat beberapa petinggi yayasan berkoordinasi dengan panitia untuk mendampingi tamu undangan VIP yang masih belum beranjak. Anak dan orang tua difabel saling mengobrol, berbaur dengan cair. 


Bisa berbangga aku sebab pilihanku menampilkan rangkaian pentas seni difabel sukses besar. Sebagai penanda berkembangnya Langkah Setara, aku memang ingin secara elegan mempertunjukkan kepada dunia beragam talenta kawan-kawan difabel yang merupakan anggota yayasan yang kami dampingi.

Lihat selengkapnya