Dibawah teriknya matahari, Gerry berjalan seorang diri di tepi jalan yang nampak sepi. Dia baru saja pulang dari sekolahnya yang berada tak begitu jauh dari tempat tinggal. Tampak wajahnya begitu lesu dan tak bersemangat, seakan ada pikiran yang mengganggunya.
Usianya kini menginjak 13 tahun. Dan saat ini dia duduk dibangku SMP. Gerry terkenal sebagai siswa pendiam disekolahnya.
Tentu bukan tanpa sebab Gerry menjadi seperti ini. Permasalahan keluarga menjadi alasan dibalik semuanya.
Kedua orangtuanya baru saja bercerai karena sebuah perselisihan kecil diantara mereka. Beberapa cara sudah mereka coba untuk rujuk demi kedua anaknya. Namun, situasi yang mereka hadapi sudah terlalu rumit hingga memaksa mereka tetap untuk bercerai.
Kini, Gerry tinggal dengan ibu(Sindi) dan kakaknya(Yuna). Sementara sang ayah(Toni), memilih pergi dan coba memulai hidup yang baru.
***
Gerry sampai di depan rumahnya.
Tampak rumah Gerry tak begitu besar, dengan cat warna putih dan beberapa paduan warna lainnya yang membuat rumah itu terlihat berwarna.
Dia berhenti sejenak dan menatap rumahnya sembari menghela nafas panjang. Setelah itu Gerry melangkah masuk kedalam rumah.
Tanpa sepatah kata pun dia menuju kamar tidur.
Sementara sang ibu sedang memasak di dapur. Dia melihat Gerry sudah pulang. Sindi segera memanggilnya.
"Gerry, sini sayang. Ayo makan dulu. Ibu bikinin sup kesukaan kamu lo ini." Ucap Sindi dengan semangat.
"Nanti aja." Jawab Gerry dengan wajah datar.
"Ayo dong sini, makan dulu. Dimana-mana kalau pulang sekolah itu pasti laper. Makanya ibu cepet-cepet siapin makanan buat kamu." Coba membujuk Gerry untuk makan.
Gerry masuk kedalam kamar.
"Ibu taruh di meja ya. Nanti kamu makan." Terlihat Sindi begitu sabar menghadapi anaknya.
Gerry meletakkan tas di samping kasur. Dia tidur dengan sepatu yang masih terpasang di kedua kakinya. Wajahnya tampak begitu lelah dengan kehidupannya kini.
***
Sebuah mobil berwarna hitam pekat parkir di dekat pot bunga depan rumah. Lalu keluar seorang pria yang kemudian berjalan masuk kedalam rumah Sindi. Pria itu adalah Toni(mantan suami Sindi). Dia masuk kedalam rumah tanpa mengetuk.
Toni tak menemui siapapun disana. Dia coba mencari kedua anaknya sembari memanggil-manggilnya. Namun, justru tanpa sengaja dia bertemu Sindi yang sedang berada didapur.
Raut wajah Sindi terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Toni secara tiba-tiba.
Suasana berubah jadi canggung. Mereka sudah tak bertemu beberapa bulan ini.
"Astaga...!(Terkejut)" Sindi sedikit kesal karena Toni muncul tiba-tiba.
"Eh... Maaf maaf, tadi nggak ngetuk pintu dulu. Aku mau tanya soal Gerry. Dia udah pulang apa belum ya? Soalnya aku janji mau jemput dia tadi. Tapi, pas aku sampai sekolahnya udah nggak ada orang. Makanya aku kesini, buat mastiin kalo Gerry udah pulang." Ucap Toni.
"Dia baru aja pulang. Jalan kaki." Jawab Sindi yang terlihat mencari kesibukan dengan menata piring.
"Boleh ketemu sama Gery bentar??" Toni berharap Sindi mengizinkan.
"Ya. Silahkan. Dia ada dikamar. Aku tinggal ke depan dulu." Sindi kemudian pergi ke depan.
Toni berjalan ke kamar Gerry. Lalu mengetuk pintu kamar Gerry dengan pelan. Tak ada jawaban dari dalam. Toni membuka pintu kamar Gerry perlahan.
"Gerry? Hei. Ini ayah. Kamu tidur??" Toni melangkah ke arah Gerry. Gerry terbangun dan melihat sang ayah di depannya.
Gerry kemudian duduk di tepi kasur.
"Maaf ya, ayah telat jemput. Ada urusan mendadak tadi sebentar." Toni merasa bersalah.
Gerry hanya menganggukkan kepala.