Yuna sedang menelfon sang ayah di depan teras rumah dengan nada pelan. Nampak obrolan itu cukup serius hingga membuatnya tak mau di dengar orang lain termasuk sang ibu dan Gerry adiknya.
"Bisa nggak nanti ayah kesini. Ada yang mau aku obrolin. Penting." Yuna sangat ingin bertemu.
"Kenapa nggak ngomong sekarang aja?" Ucap Toni yang tak ingin kembali ke rumah mantan istrinya itu.
"Udah pokoknya nanti ayah dateng aja. Aku tungguin. Awas ya kalo ayah nggak dateng. Aku nggak mau ngomong sama ayah selamanya!" Yuna memaksa.
"Eh, kok gitu ngancemnya. Yaudah iya, nanti ayah kesana. Tapi nanti malam ya, ayah masih kerja ini." Toni menyetujui ajakan anaknya itu.
"Oke." Yuna berhasil membujuk sang ayah.
Toni terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan anak perempuannya itu.
Yuna kemudian menutup telfon. Lalu masuk kedalam rumah, dan menutup pintu perlahan.
***
Gerry berdiam di dalam kamarnya. Dia sedang membaca komik untuk mengisi waktu.
Sementara Sindi baru saja sampai setelah mengantar pesanan nasi kotaknya. Wajahnya terlihat begitu letih. Namun, dia tak lantas pergi istirahat. Sindi pergi ke dapur untuk merapikan piring dan peralatan lainnya. Dia benar-benar coba menjadi ibu yang baik untuk Gerry dan Yuna, meski kini harus berjuang seorang diri tanpa seorang suami.
Setelah semua selesai, Sindi duduk dibangku dekat meja makan. Dia termenung, memikirkan hidupnya saat ini. Dalam benaknya dia hanya ingin membuat kedua anaknya hidup bahagia. Namun, yang dia dapat justru sebaliknya. Yuna dan Gerry tidak begitu dekat. Gerry juga seringkali menghiraukan dirinya. Sementara hubungannya dengan Toni sudah hancur.
***
Waktu berganti malam. Toni menepati janjinya ke Yuna untuk berkunjung. Dia bersiap mengetuk pintu rumah Sindi. Namun Yuna menariknya ke samping rumah.
"Astaga!!" Toni sedikit terkejut.
Toni menatap anak perempuannya itu, dan merasa lega.
"Maaf. Yuna nggak mau ibu tau. Yuna rahasiain ini soalnya. Ayah jangan ngomong ke ibu dulu ya." Ucap Yuna yang semakin membuat Toni penasaran.
Dia kemudian mengeluarkan selembar brosur. Terlihat gambar sebuah pantai yang cukup indah di dalamnya. Yuna ingin mengajak orangtuanya dan sang adik pergi berlibur bersama.
"Ayah kan tau, selama beberapa bulan ini kita udah jarang berkumpul lagi. Semenjak, ayah sama ibu pisah. Yuna cuma pingin keluarga kita bareng-bareng lagi kayak dulu. Walaupun cuma sehari, tapi Yuna rindu sama momen itu." Tampak sedih dan berharap sang ayah menuruti keinginannya.
Toni tak tega melihat anaknya bersedih. Dia lantas mengambil brosur itu dan membacanya dengan detail.