Langit semakin gelap. Toni masih belum menemukan jalan menuju pantai. Sindi, Yuna Dan Gerry terlihat masih begitu cemas menghadapi situasi ini. Mereka sudah sangat putus asa.
Setelah terlepas dari jalanan sepi, kini mereka dihadapkan dengan sebuah desa yang tampak kosong. Bangunan-bangunan terlihat sudah sangat tua dan tak layak huni. Bahkan jalanan begitu kotor disertai bau menyengat dari sampah yang berserakan dimana-mana.
"Bu, kok jadi serem gini tempatnya(Mulai takut)... Kita kan cuma mau ke pantai," Yuna memeluk Sindi.
Sindi tak bisa lagi menenangkan Yuna. Sebab didalam hatinya juga mulai muncul rasa takut.
"Udah kamu tenang dulu. Ibu disini jagain kamu," Ucap Sindi yang tidak begitu yakin.
Sementara Toni masih sangat berhati-hati dalam mengendarai mobil. Dia sudah tak tau harus kearah mana lagi. Sinyal dihandphonenya sudan lenyap. Tidak ada map yang bisa mereka lihat. Hanya insting yang bisa digunakan. Tentu saja itu tidak akan bisa akurat.
Toni kemudian menghentikan mobil di dekat sebuah pohon. Dia paham Sindi dan 2 anaknya sudah lelah. Begitupun dengannya, terlihat begitu lelah menyetir.
"Kita istirahat dulu disini. Jalanan makin gelap, nggak baik kalau kita teruskan. Besok pagi baru kita lanjutin, biar lebih aman." Toni kemudian mematikan mobil. Mereka coba untuk istirahat.
Sindi dan Gerry langsung lelap tertidur. Sementara Toni masih terus menatap jalan dari dalam mobil. Di dalam dirinya muncul rasa kesal karena terjebak di keadaan ini. Dia menyalahkan dirinya atas ini semua.
Yuna melihat sang ayah yang masih terjaga.
"Yah(Yuna menepuk pundak sang ayah). Kok nggak tidur, kenapa??" Tanya Yuna yang juga tak bisa tidur.
"Nggak papa. Ayah masih belum ngantuk aja(senyum)," Menjawab dengan tenang.
Yuna kemudian meminta maaf kepada sang ayah. Dia merasa bersalah, karena memang ini semua berawal dari keinginannya.
Toni sebagai seorang ayah, tentu tak ingin anaknya merasa bersalah. Dia coba menenangkan Yuna dengan kata-kata yang dia rangkai sehalus mungkin. Ucapan itu sedikit membuat Yuna merasa lega, dan tak lagi menyalahkan dirinya sendiri.
***
Satu jam berlalu, Yuna nampak sudah tertidur lelap. Kini giliran Sindi dan Gerry yang terbangun. Mereka mendapati bangku kemudi kosong. Toni pergi entah kemana. Sindi coba keluar untuk mencari Toni. Namun, dia tak ingin meninggalkan 2 anaknya didalam mobil. Sindi bingung harus bagaimana sekarang.
Tak berselang lama Toni datang dan langsung masuk kedalam mobil.
"Kamu darimana sih!? Kok nggak bilang kalo keluar," Sindi sedikit kesal ke Toni dan nampak khawatir.
"Aku habis keliling barusan. Coba cari petunjuk buat keluar dari sini. Tapi, nggak ada orang satupun. Maaf aku nggak bilang dulu," Ucapan Toni yang sangat heran.