Yuna membuka mata perlahan. Terlihat sang adik berada disampingnya dan tak sadarkan diri. Yuna coba membangunkan Gerry dengan badannya yang masih lemas.
"Dek, bangun... Adek," dengan suara yang begitu lirih. Yuna terus coba menggoyang-goyangkan badan Gerry.
Lalu Yuna mengamati area sekitar. Terlihat pepohonan yang sangat tinggi mengitarinya dan sang adik. Yuna nampak bingung. Dia coba berdiri sembari memanggil-manggil sang ibu dan ayah.
"Ibu... Buu! Ayaah!" Yuna mulai panik.
Gerry terbangun perlahan. Seketika dia terkejut melihat hutan yang cukup lebat. Gerry kemudian melihat sang kakak yang sedang kebingungan, lalu dia menghampiri Yuna.
"Kak. Kita dimana??" Bertanya dengan nada pelan. Wajahnya tampak sedikit takut.
"Kakak juga nggak tau dek. Tadi pas kakak bangun udah ada di tempat ini. Ibu sama ayah juga nggak ada," tak tahu harus bagaimana menjelaskan tentang semua ini.
Tak ingin berlama-lama di tempat itu, Yuna segera memegang tangan sang adik sembari mengambil tas miliknya dan langsung mengajak Gerry pergi.
"Kak, mau kemana?" Gerry tak ingin beranjak dari tempatnya.
"Kamu pegang tangan kakak terus, jangan dilepas. Kita cari jalan keluar dari sini," ucap Yuna coba meyakinkan sang adik. Dengan penuh keterpaksaan Gerry mau mengikuti sang kakak.
Mereka berjalan menyusuri hutan tanpa arah yang jelas. Berharap segera bertemu kedua orangtuanya.
***
Hampir 2 jam Gerry dan Yuna berputar-putar di hutan. Tak kunjung mereka temukan Toni dan Sindi. Yuna semakin cemas, dia coba terus berusaha mencari jalan keluar. Sementara Gerry semakin erat memegang tangan sang kakak. Kini wajahnya nampak mulai kelelahan.
"Kak, istirahat dulu bentar. Aku capek," Gerry sudah tak kuat lagi berjalan.
"Iya iya. Kita duduk sini dulu. Kakak juga capek," Yuna dan Gerry duduk di dekat sebuah pohon. Gerry langsung terlelap tidur dipangkuan Yuna. Sementara Yuna berjaga-jaga mengamati sekitarnya meski matanya sudah sangat mengantuk.
***
Hari berganti sore. Yuna terbangun, sementara sang adik masih tertidur. Yuna coba mengecek makanan didalam tas. Terdapat beberapa camilan didalamnya. Yuna memakan sebuah roti. Dia coba menikmati makanannya, namun didalam pikirannya sudah sangat kacau. Yuna terpikirkan orangtuanya. Dia tak ingin kedua orangtuanya terluka. Tak terasa air mata menetes cukup deras, hingga membasahi pipinya.
"Bu... Ibu dimana. Yuna takut Bu..." Yuna sudah tak sanggup lagi mencari jalan keluar.