Back To Home

Rizqy Kurniawan
Chapter #6

Bab 6

Tio mengetuk pintu beberapa rumah warga. Tak ada jawaban satu pun dari salah satu rumah itu. Dia nampak bingung dan tak tau harus melakukan apa saat ini. Sementara sang mantan istri masih tak sadarkan diri, berada di kursi panjang milik salah satu rumah warga. Toni kemudian duduk disamping Sindi, sembari mengamati desa yang sangat sepi. Dia menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di tembok rumah. Dia terpikirkan Gerry dan Yuna yang sudah tak ada didekatnya setelah dia terbangun dari pingsannya.

Sesaat Toni sedang berfikir keras, Sindi bangun. Dia coba berdiri perlahan.

"Hei, pelan pelan. Duduk dulu," membantu Sindi untuk duduk.

"Ini dimana? Anak-anak manaa??" Tanya Sindi dengan wajahnya yang mulai panik.

Toni berusaha menjelaskan sebaik mungkin, berharap Sindi bisa sedikit tenang. Namun, Sindi tak mendengarkan ucapan Toni sedikitpun, dia segera pergi sambil memanggil manggil Yuna dan Gerry. Mau tak mau Toni pun mengikutinya. Dia coba terus membujuk Sindi untuk tak berjalan terlalu jauh karena baru saja pingsan. Sindi masih menghiraukannya.

"Harusnya kamu jagain Gerry sama Yuna. Ngapain malah jagain aku! Kalo kayak gini gimana terus?? Mau cari mereka kemana," Sindi nampak kesal dengan Toni.

Toni tak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia tak ingin ada pertengkaran disituasi seperti ini. Toni justru meminta maaf ke Sindi dengan rasa bersalah di dalam dirinya.

Hampir 4 jam mereka berjalan di desa yang tak berpenghuni itu. Jalanan semakin rusak dan rumah-rumah warga terlihat semakin sedikit menyisakan pepohonan lebat di sekitar. Toni mulai merasa ini sudah terlalu berbahaya. Dia lantas menahan Sindi dengan memegang tangannya. Seketika Sindi berhenti dan menoleh ke Toni.

"Udah, jangan dipaksain. Sekarang kita istirahat dulu. Aku tau kamu khawatir sama Yuna dan Gerry, tapi kamu juga nggak boleh paksain keadaanmu sekarang," Toni kembali berusaha membuat Sindi untuk tenang.

Sindi meneteskan air matanya. Dia sangat cemas akan kedua anaknya. Disamping itu, Sindi juga tak tau dimana tepatnya dia sekarang. Jauh dari rumah, tak ada orang satupun. Seperti berada di dunia yang lain.

Mereka kemudian menuju kesalah satu rumah warga. Toni coba membuka pintu perlahan. Beruntung bagi mereka pintu tak terkunci. Toni menyuruh Sindi diam sebentar di depan rumah, sementara dia mengecek keadaan didalam. Rumah itu tak terlalu besar. Bahkan bangunannya terbuat dari rotan.

"Aman. Ayo masuk," Toni menyuruh Sindi.

Sindi masuk perlahan meski masih tak yakin. Toni berdiam didepan pintu untuk berjaga-jaga. Dia tak ingin sang mantan istrinya itu kenapa-napa.

Sindi nampak lelah, dia haus dan juga lapar. Toni yang mengamati Sindi seakan sudah mengetahui hal itu. Dia teringat tas miliknya tertinggal dirumah pertama saat Sindi pingsan.

"Aku, mau ambil tas dulu dirumah yang tadi pas kamu pingsan. Ada makanan di dalemnya. Itu makanan kesukaan Gerry sama Yuna, emang sengaja aku bawa buat kasih ke mereka," Toni bersiap pergi.

"Udah jangan. Kamu itu nggak tau diluar situasinya kayak gimana," Sindi tak ingin ditinggal sendiri.

Lihat selengkapnya