Malam hari tiba. Gerry dan Yuna berada di sebuah tempat yang tampak seperti tenda. Dan itu rumah si pria kekar. Gerry dan Yuna bersiap untuk istirahat meski merasa tak begitu nyaman. Gerry mulai memikirkan rumahnya saat ini. Dia ingin sekali pulang dan bertemu sang ibu. Rasa rindu yang terlalu berat membuat air matanya tak terbendung. Yuna yang melihat sang adik berusaha untuk menenangkan dengan memeluknya.
"Kakak janji, bakal bawa kamu keluar dari sini. Jadi, adek jangan khawatir ya. Kalau boleh jujur, kakak kangeen banget sama ibu. Pingin meluk rasanya," ucap Yuna dari hatinya paling dalam. Disamping itu, dia nampak begitu sayang dengan adiknya itu meski hubungan mereka tak begitu dekat sebelumnya. Tak terasa mereka tertidur dengan nyenyak didalam rumah pria kekar. Sementara si pria kekar berada didepan tenda. Dia tak ingin mengganggu Yuna dan Gerry sembari menjaganya.
Hari berganti pagi. Yuna terbangun dari tidurnya. Dia mendapati sang adik sudah tidak ada disampingnya.
"Adek. Deek..." Yuna segera bangun dan keluar tenda. Dia melihat sang adik sedang membakar ikan di atas kayu yang sudah disiapkan. Yuna menghampiri adiknya itu dengan perasaan lega.
"Kak, maaf tadi nggak bangunin. Dia(menunjuk pria kekar) ngajak cari ikan," Gerry menjelaskan sembari membalik-balik ikan agar tidak gosong.
"Iya nggak papa. Emangnya kamu ngerti dia bilang apa?" Yuna merasa sang adik sudah mulai paham dengan bahasa isyarat pria kekar.
"Ngerti, dikit-dikit. Nih ikan buat kakak," Gerry kemudian membakar ikan lagi. Mereka menikmati pagi hari ini dengan begitu tenang.
Setelah selesai menikmati ikan hasil tangkapan Gerry dan pria kekar, mereka lanjut berjalan menyusuri hutan. Hubungan Yuna dan Gerry sebagai kakak adik mulai begitu terjalin dengan baik. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol dan bercanda gurau. Pria kekar menatap mereka dengan senyuman kecil di wajahnya. Dia fokus menuntun Yuna dan Gerry keluar dari hutan yang sangat luas ini.
Keadaan yang tampak seperti sudah sangat aman bagi mereka, tiba-tiba saja berubah dengan sangat cepat. Penduduk asli hutan kembali mengejar Yuna, Gerry dan pria kekar. Kali ini jumlah mereka sangat banyak dibanding sebelumnya. Sontak hal ini membuat Yuna dan Gerry berlari sekencang-kencangnya meninggalkan pria kekar. Segerombolan penduduk asli hutan dengan sangat marah mengejar Gerry dan Yuna sembari membawa tombak di tangan mereka.
Gerry berlari begitu cepat, Yuna yang mulai kelelahan tampak tertinggal.
"Adeek... Tungguin kakaak," nadanya sangat lirih, sudah tak sanggup lagi berlari.
Yuna tersandung sebuah batu sesaat dia berlari, dan terjatuh begitu keras. Kakinya berdarah, wajahnya begitu kesakitan. Dia sudah pasrah dengan keadaanya saat ini. Namun, pria kekar datang disaat yang tepat. Sebuah tombak hampir saja mengenai Yuna, beruntung pria kekar menangkap tombak itu dengan tangannya, meski hal itu membuat tangannya terluka.