SMA Merah Putih, 07.30 AM
Panas matahari di pagi hari sudah terasa menyengat, menjadi keluhan hampir semua siswa. Halaman sekolah yang luas membuat kegiatan bersih-bersih terasa seperti hukuman tersendiri. Daun-daun kering berserakan di mana-mana, sisa dari musim kemarau yang panjang.
Semua siswa bergotong royong. Tidak ada yang benar-benar santai—meskipun beberapa terlihat mencuri waktu untuk mengeluh.
“Aku udah lelah,” keluh Rika sambil menyeka keringat di dahinya. Nafasnya terdengar berat, wajahnya memerah karena panas.
“Tinggal sedikit lagi,” kataku, masih fokus menyapu halaman. Tumpukan daun di depanku sudah hampir selesai. “Aku buang sampahnya ya,” lanjutku sambil mengangkat tempat sampah yang sudah penuh.
“Buang sendiri ya,” jawab Rika sambil nyengir, memperlihatkan gigi gingsulnya yang khas.
“Iya, iya... Pokoknya tunggu di sini, jangan duluan masuk ke kelas,” kataku setengah mengancam, setengah bercanda.
“Iya, jangan lama-lama!” balasnya.
Aku berjalan ke belakang sekolah, menuju tempat penampungan sampah. Di sana, tumpukan daun terlihat menggunung, bercampur dengan suara riuh siswa lain yang juga sibuk membuang sampah.
“Minggir! Minggir! Minggir!” teriak dua siswa sambil mendorong gerobak penuh daun.
Aku segera menyingkir agar tidak tertabrak. Mereka lewat dengan tergesa, hampir membuat debu beterbangan. Setelah itu, aku meletakkan sampahku dan segera berbalik pergi.
Rika sudah duduk di bawah pohon rindang saat aku kembali. Angin bertiup cukup kencang, membuat beberapa helai rambutnya beterbangan. Ia terlihat lebih santai sekarang, meskipun keringat masih membasahi pelipisnya.
Hari ini benar-benar panas. Kadang aku berpikir, bagaimana rasanya kalau di negara ini turun salju? Pasti menyenangkan. Main salju setiap hari, tanpa harus kepanasan seperti ini.
Lamunanku buyar saat Rika melambaikan tangan ke arahku.
“Ayo ke kelas!” serunya penuh semangat, seolah tadi bukan dia yang mengeluh kelelahan.
“Aku haus banget,” kataku sambil terengah. Padahal aku tidak berlari.
“Ayo, aku juga haus. Aku beliin minuman,” jawabnya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
“Okay,” jawabku singkat.
Kami berjalan menuju kantin yang mulai ramai. Suara siswa bercampur dengan aroma makanan membuat suasana terasa hidup.
_______________________________________________________________________
Aku dan Rika berjalan menuju kelas sambil bersenda gurau. Namun, begitu melangkah masuk, kami langsung terdiam. Suasana kelas terasa tegang. Teman-teman terlihat sibuk menunduk di meja masing-masing, wajah mereka penuh gugup dan ketakutan.
“Kenapa dengan mereka?” tanya Rika pelan.
“Aku juga gak tahu,” jawabku, masih memperhatikan keadaan.
Rika mendekati salah satu meja. “Kalian ngerjain apa?” tanyanya penasaran.
“Kalau udah selesai diam aja!” bentak seorang siswa dengan nada kesal.
Aku melirik soal di meja depan, lalu membacanya sekilas. “Ah, ini aku udah selesai,” ucapku spontan.
Semua mata langsung tertuju padaku.
“Apa kau ke sini cuma mau pamer?” sindir seorang siswi berambut tipis bergelombang.
Aku tak menanggapi. Aku berjalan ke bangkuku, mengambil buku tulis dari laci, lalu memberikannya ke siswa di depanku. “Ini.”
“Makasih,” katanya senang.
Dalam hitungan detik, yang lain ikut mendekat. Mereka berebut bukuku.
“Jangan berebutan, nanti sobek—” belum selesai aku bicara, buku fisikaku yang berwarna merah muda benar-benar sobek jadi dua.
Semua langsung terdiam.
“Heh! Apa-apaan kalian!” bentak Rika marah. “Wenda udah bantu, bukannya disalin malah disobek! Kalian mau tanggung jawab?!”
“Maafkan aku, Wen…” ucap seorang siswa pelan.
Aku hanya diam. Ingin marah, tapi aku menahannya.
“Tadi kita buru-buru…” tambahnya.