Sore hari, matahari masih bersinar terang. Langit terlihat cerah tanpa awan. Siswa-siswi SMA Merah Putih mulai berjalan keluar gerbang sekolah dengan wajah lelah setelah seharian belajar.
Hari ini aku pulang sendiri. Rika masih harus menyelesaikan tugas kelompoknya di kelas. Jadi, aku berjalan sendirian menuju gerbang. Kacamataku berkali-kali merosot karena hidungku yang pesek. Aku menghela napas pelan. Beruntungnya mereka yang punya hidung mancung.
Aku sudah melewati gerbang dan berbelok ke kanan, berjalan santai seperti biasa.Tiba-tiba—“Hei.”
Seseorang mencolek bahuku. Aku langsung menoleh. “Kenapa?” jawabku sedikit bingung.
Dimas berdiri di sampingku.
“Kamu jalan sendiri? Di mana temanmu?” tanyanya.
“Dia masih di kelas, kenapa?” jawabku singkat.
“Aku cuma mau ngajak kamu pulang bareng. Mau?” katanya santai, tapi terdengar seperti merayu.
“Maaf, aku gak bisa,” jawabku cepat tanpa menatap wajahnya.
“Kenapa? Maksudku, kita jalan bareng sampai halte aja. Kamu gak mau?” tanyanya lagi.
Aku terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. “Oh… itu. Ayo.”
Akhirnya kami berjalan bersama menuju halte. Sepanjang perjalanan, suasana terasa canggung.
Aku hanya sesekali meliriknya. Tidak berani menatap lama. Aku takut, takut dengan responnya, takut terlihat aneh di matanya.
“Kamu selalu jalan kaki ke halte?” tanyanya.
“Iya,” jawabku pelan.
“Sama Rika?”
“Iya, kadang juga naik sepeda.”
“Sepeda? Sepeda gayuh itu?” tanyanya sedikit terkejut.
Aku mengangguk.
“Kenapa gak pakai mobil atau apa gitu?”
Aku menggeleng. “Kalau kakak? Biasanya naik bus atau jalan kaki?”
“Kalau aku sih naik mobil. Tapi tadi bannya bocor, jadi mau naik bus, terus ketemu kamu,” katanya sambil menatapku.
Aku langsung menunduk. Bus datang dan berhenti di depan halte. Siswa-siswi langsung berdesakan naik. Aku dan Dimas ikut masuk. Di dalam, semua kursi penuh. Hanya tersisa satu kursi kosong di dekat jendela. Dimas mendorongku pelan untuk duduk.
Aku menurut. Dia berdiri di sampingku, memegang gantungan pegangan tangan. Bus terasa sesak. Orang-orang saling berdesakan. Aku menatapnya sebentar. Kasihan, Dia harus berdiri, sementara aku duduk dengan nyaman.
Pelan-pelan, aku menarik ujung bajunya, “Duduklah… biar aku yang berdiri,” kataku.
“Udah, tenang aja. Aku gak apa-apa kok,” jawabnya sambil tersenyum.
Senyumnya, anehnya membuatku semakin tidak enak. Aku ingin memaksanya, tapi tidak berani. Akhirnya, sampai di pemberhentian berikutnya, dia tetap berdiri. Entah kenapa, aku merasa bersalah. Seolah-olah, kalau tangannya pegal, itu semua karena aku.
*
Kamarku dipenuhi nuansa merah muda. Dindingnya lembut, dihiasi glow in the dark yang berkilau seperti bintang di langit-langit. Buku dan aksesoris tersusun rapi. Aku duduk di depan meja belajar dengan lampu menyala terang, berusaha fokus membaca.
Tanpa kacamata, semuanya hanya terlihat samar.
“Wenda.”
Aku terkejut. “Kamu mengagetkanku,” kataku saat Rika masuk dan menutup pintu.
“Lagi apa? Jangan belajar terus, nanti kamu makin pintar,” godanya sambil duduk di tempat tidur.
“Bukannya itu kewajiban kita?” balasku.
Rika hanya memonyongkan bibir, lalu tiba-tiba tersenyum. “Taraaa~ aku bawa masker. Ayo maskeran!”
Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku. Masker yang ia bawa berupa bubuk yang dicampur air hingga seperti bubur. Aku mengoleskannya ke wajahnya, lalu dia bergantian mengolesi wajahku. Aromanya alami, lembut, tanpa bau kimia.
“Aku suka aromanya,” kata Rika sambil bercermin.
Setelah selesai, kami berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang berkilau seperti bintang.