Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #1

Dibawah Rantai Penindasan #1

Angin malam berembus kencang, membawa aroma belerang yang pekat bercampur bau anyir besi yang menguap dari tanah gembur di bawah sana. Sersan Gavin Pramana berdiri kokoh di tepi anjungan pos penjagaan, sepasang matanya menatap lurus ke arah lembah tambang Mana Crystal yang membentang di bawahnya.

Struktur pos itu dibangun dari sisa-sisa reruntuhan beton gedung perkantoran bumi yang telah hancur, namun kini diperkuat oleh pilar-pilar batu hitam berkilat yang dialiri sihir pelindung bangsa Elf. Di sekeliling pos, tidak ada satu pun senapan serbu, senapan penembak jitu, atau peluncur misil yang dulu dibanggakan militer manusia. Yang ada hanyalah barisan serdadu manusia yang kedua tangannya dibalut sarung tangan kulit tipis, siap menyalurkan aliran mana dari dalam tubuh mereka untuk ditembakkan menjadi sihir dasar berkali-kali pakai, persis seperti senapan hidup yang diciptakan untuk mati di garis depan.

Dari atas anjungan, pemandangan di bawah tampak seperti neraka personal bagi umat manusia. Di bawah temaram cahaya pualam sihir yang dipasang di sudut-sudut tambang, ribuan manusia bumi merangkak. Orang-orang tua dengan punggung bungkuk, wanita dengan pakaian compang-camping, hingga anak-anak kecil, semuanya dipaksa menyeret keranjang-keranjang berat berisi sebongkah kristal bercahaya biru pekat.

Plakkk!

Suara cambuk kulit bergaung keras, disusul jeritan melengking seorang wanita yang jatuh tersungkur karena kelelahan.

"Bajingan..." bisik salah satu anak buah Gavin, seorang pemuda bernama Dimas. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit gemetar hebat, perlahan mulai memancarkan kilatan cahaya mana biru tipis. "Sersan, lihat itu. Anak kecil di sebelah wanita itu... mereka akan mencambuknya juga jika dia tidak bergerak. Izinkan aku menembak mandor Elf di bawah itu. Hanya satu tembakan Mana Bolt, Sersan. Tolong."

Gavin tidak bergeming. Wajahnya yang kaku tetap menatap lurus ke depan.

"Sersan!" Dimas merangsek maju, memotong jarak di antara mereka. "Kau punya mata, kan?! Mereka memperlakukan bangsa kita seperti binatang! Kerja tanpa makan, disiksa, dilecehkan tiap hari! Dan kita hanya berdiri di sini, memakai seragam sialan ini dan berpura-pura menjadi anjing penjaga mereka?!"

Gavin memutar tubuhnya dengan perlahan, namun gerakannya begitu dingin hingga membuat dua prajurit lain di dekat mereka menahan napas. "Turunkan tanganmu, Prajurit."

"Tidak! Aku tidak mau terus-menerus jadi pengecut!" teriak Dimas, frustrasi. Cahaya mana di tangannya makin terang. "Kau selalu menyuruh kami bersabar! Apa kau sudah kehilangan kemanusiaanmu setelah diberi pangkat Sersan oleh telinga lancip itu, Gavin?!"

Sret!

Gavin bergerak dalam sekejap mata. Tangannya mencengkeram kerah seragam militer Dimas dengan cengkeraman baja, menarik tubuh pemuda itu hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Di balik kegelapan malam, mata kiri Gavin berkilat kebiruan, sebuah urat-urat halus bercahaya menjalar di sekitar pelipisnya, tanda dari evolusi paksa mana yang bergejolak di dalam tubuhnya.

Lihat selengkapnya