Kipas di sudut kelas berputar malas.
Nero Kartayana duduk di bangku ketiga dari depan, menghadap papan tulis yang penuh coretan rumus kimia yang sama sekali tidak ia mengerti. Pak Danu sedang berbicara tentang ikatan kovalen, suaranya pelan dan ritmis seperti mesin cuci yang sudah terlalu tua, ada tapi tidak benar-benar terdengar.
Di depannya, Raka dan Sinta berbisik soal kantin. Di belakangnya, Hendra menonton video di ponsel dengan earphone satu sisi. Di luar, lapangan olahraga kosong di bawah matahari siang yang datar dan tidak dramatis sama sekali.
Ini hari Rabu. Tidak ada yang spesial dari hari Rabu.
Nero menatap bukunya. Ada tulisan yang ia coret-coret sendiri, lingkaran-lingkaran kecil yang terhubung satu sama lain tanpa makna jelas. Kadang tangannya bergerak sendiri saat pelajaran membosankan. Gambar yang ia buat pagi ini adalah sebuah pulau terbalik, dengan akarnya menggantung di udara.
Ia tidak tahu kenapa menggambar itu.
Ia menghapusnya.
Keributan pertama dimulai dari grup kelas.
Nero mendengarnya saat istirahat. Suara notifikasi bertubi-tubi, lalu orang-orang berkerumun di sudut koridor dengan masing-masing memegang ponsel seperti sesaji. Raka menarik lengannya tanpa basa-basi.
"Udah lihat videonya?"
"Video apa?" Tanya Nero dengan ekspresi bingung.
"Ini, makanya." Raka menyodorkan layarnya.
Videonya pendek. Dua puluh tiga detik. Direkam dari jarak jauh, mungkin dari atap gedung atau bukit, dengan tangan yang gemetar dan zoom yang terlalu berlebihan. Gambarnya buram, penuh noise digital. Tapi objeknya... objeknya tidak bisa disalahartikan.
Sebuah pulau. Di langit.
Bukan pesawat. Bukan balon. Sebuah massa tanah yang padat, dengan pepohonan di atasnya yang masih berdiri tegak, dengan tanah cokelat dan batu yang menggantung di bawahnya. Ia melayang di antara awan, diam, tidak bergerak ke mana pun.
Dan di sekitarnya, di langit tepat di sekelilingnya ada sesuatu yang tampak seperti retakan. Garis-garis tipis vertikal yang tidak teratur, seperti kaca yang retak dari dalam.
"Editan parah," kata Sinta di belakangnya. "Keliatan banget."
"Mau bilang apa? Ini footage asli dari Sulawesi," balas seseorang yang tidak Nero kenal namanya.
"Bro CGI udah secanggih itu sekarang." Ucap Sinta dengan santai.
"Terus retakan langitnya itu CGI juga? Siapa yang nge-render langit retak buat konten?"
Perdebatan berlanjut. Nero tidak mengikutinya.
Ia menatap videonya diam-diam. Ada sesuatu yang aneh saat ia melihatnya bukan takut, bukan juga skeptis. Perasaan yang lebih tidak nyaman dari keduanya. Seperti ia pernah melihat ini sebelumnya, di suatu tempat yang tidak bisa ia ingat, dalam konteks yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia menutup layar Raka dan mengembalikan ponselnya.
"Nggak tau sih," kata Nero. "Mungkin editan."
Beberapa hari setelah video viral itu, Nero menyadarinya pagi itu, saat menunggu angkot di ujung gang. Langit berwarna merah, bukan merah fajar yang indah di kartu pos, tapi merah yang sedikit terlalu pekat, terlalu tinggi di cakrawala, seperti seseorang menumpahkan tinta ke atmosfer dari ketinggian yang tidak terjangkau.
Di sekolah, sinyalnya putus-putus. Wi-Fi sekolah mati total sejak pagi. Beberapa guru bilang ada gangguan provider. Beberapa murid bilang ini berhubungan dengan video viral itu. Pak Danu bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan melanjutkan pelajaran tentang ikatan ion.
Nero tidak melihat satu pun burung hari ini.
Biasanya ada sekawanan di pohon mangga dekat gerbang. Bising, berisik, menjatuhkan kotoran di motor guru yang parkir sembarangan. Hari ini pohonnya kosong. Tidak ada satu pun.
Suhunya aneh juga. Panas tapi tidak gerah. Seperti udara sudah tidak punya kelembaban sama sekali, hanya panas kering yang menempel di kulit tanpa bisa diidentifikasi asalnya.
Jam dua siang, saat pelajaran Matematika berlangsung, Nero mendengarnya untuk pertama kali, suara gemuruh sangat jauh, seperti guntur yang bersumber dari bawah tanah, bukan dari atas. Ia menegakkan punggungnya. Beberapa murid lain juga menoleh ke jendela. Bu Ratna berhenti sebentar, menatap langit-langit kelas, lalu melanjutkan menulis di papan tulis.