Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #2

Bara Api dibalik Topeng #2

Tatapan perak Adelaine seolah menusuk langsung ke belakang bola mata Gavin, mencari celah kebohongan. Di bawah tekanan mana yang mencekik itu, Gavin tidak menurunkan pandangannya. Dia mempertahankan sorot mata seorang sersan pembantu yang lelah, pasrah, namun tetap patuh. Topeng terbaik yang diasahnya selama bertahun-tahun.

"Kami hanya beruntung, Yang Mulia Perwira," jawab Gavin, suaranya dibuat sedikit bergetar, meniru intonasi prajurit manusia yang terintimidasi. "Kabut perang saat itu sangat tebal. Pasukan Iblis merangsek dari sayap kiri, dan mendiang Letnan berada di garis paling depan untuk memimpin mantra pembuka. Kami yang berada di belakang hanya mengeksekusi perintah mundur sesuai prosedur ketika jasad beliau tercakar habis oleh Graknir. Jika laporan itu terlihat rapi, itu karena Kopral Roni mencatatnya tepat setelah kami berhasil mengamankan perimeter pos."

Adelaine diam beberapa saat. Hening yang tercipta begitu pekat hingga suara detak jantung Dimas di sebelah Gavin terdengar jelas. Sudut bibir sang perwira Elf terangkat tipis, sebuah senyuman dingin yang tidak bisa diartikan. Dia tidak mengiyakan, tidak juga membantah. Adelaine hanya membalikkan badannya dengan anggun, jubah putihnya berkibar saat dia melangkah kembali menuju kendaraan layangnya.

Deru halus angin sayap griffon milik Adelaine perlahan memudar, tenggelam di balik pekatnya langit malam yang diselimuti awan belerang. Bersamaan dengan hilangnya cahaya keperakan dari kendaraan sang perwira elf, tekanan mana yang tadinya mencekik dada para serdadu manusia di pos penjagaan itu runtuh seketika. Menyisakan helaan napas berat dan lutut yang gemetar akibat ketakutan yang tertahan.

"Waktu penjagaan selesai. Unit satu, turun dari anjungan. Ganti shift," suara Gavin memecah keheningan, terdengar datar tanpa emosi, seolah interogasi menegangkan dengan Adelaine beberapa menit lalu hanyalah angin lalu.

Gavin memimpin barisannya menuruni tangga beton yang retak-retak. Dinding-dinding benteng pertahanan itu tampak merana, kombinasi dari sisa-sisa pilar beton perkantoran masa lalu yang dipaksa berdiri tegak oleh balutan pualam sihir hitam milik bangsa Elf. Di setiap sudut koridor yang remang-remang, obor magis memancarkan cahaya ungu kehijauan yang tidak alami, memantulkan bayangan panjang para serdadu manusia yang berjalan lesu dengan sarung tangan kulit mereka yang hampa senjata.

Saat mencapai persimpangan tangga menuju barak bawah tanah, sebuah langkah kaki yang berirama tegas terdengar dari arah berlawanan. Unit pengganti telah tiba. Di depan barisan itu, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap dengan seragam Sersan yang sama lusuhnya dengan milik Gavin.

Arya.

Kedua pasang mata mereka bertemu di bawah temaram cahaya obor magis. Arya Yudhayana, mantan mahasiswa teknik yang wajahnya kini dihiasi bekas luka bakar tipis di pipi kanan, menatap Gavin dengan pandangan penuh arti. Dia tahu tentang 'kematian' perwira Elf sebelumnya di garis depan pertempuran kemarin. Dia tahu persis siapa yang sebenarnya mencabut nyawa makhluk telinga lancip itu di tengah kekacauan kabut perang melawan Iblis dan Graknir.

Di dunia di mana setiap gerak-gerik manusia diawasi oleh mata-mata Elf, kata-kata adalah bahaya. Maka, saat mereka berpapasan di koridor sempit itu, tidak ada seuntai kalimat pun yang keluar.

Bugh.

Gavin mengangkat tangan kirinya, dan Arya menyambutnya dengan tos tinju cepat yang tegas. Sebuah kode rahasia persaudaraan yang telah mereka jalin sejak bumi pertama kali pecah. Detik berikutnya, tangan mereka terpisah, dan Arya memimpin unitnya naik ke atas anjungan benteng, sementara Gavin terus melangkah turun menuju kegelapan bawah tanah.

Bagi Gavin, Arya bukan sekadar rekan sesama Sersan. Pemuda itu adalah alasan mengapa Gavin bisa berdiri tegak hari ini. Mendiang ayah Arya dulu adalah seorang anggota tim demolisi militer bumi lama, seorang ahli penjinak dan perakit bahan peledak. Sebelum militer manusia lumat total oleh sihir Elf, Arya telah mewarisi seluruh catatan cetak biru, teori fisika, dan formula kimia dari ayahnya. Di masa-masa pelarian awal, Arya-lah yang mengajari Gavin bagaimana melihat rongsokan besi bukan sebagai sampah, melainkan sebagai wadah mematikan yang siap meledak jika dikombinasikan dengan manipulasi yang tepat.

Barak unit Gavin terletak belasan meter di bawah tanah, memanfaatkan sisa-sisa stasiun kereta komuter yang telah mati bertahun-tahun lalu. Udara di dalam stasiun itu terasa pengap, berbau besi berkarat, oli tua, dan debu tebal yang seolah menolak untuk pergi. Di sepanjang rel yang telah bengkok, beberapa gerbong kereta yang telah hangus dijadikan dinding pembatas antar tempat tidur darurat.

Lihat selengkapnya