Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #2

Lari! #2

Nero belum sempat mengangguk sepenuhnya saat langit di atas mereka berguncang.

Bukan gempa. Bukan ledakan. Sesuatu yang berbeda, seperti udara sendiri yang menolak untuk diam, seperti atmosfer yang sedang robek dari dalam oleh tangan yang terlalu besar untuk dilihat. Dan dari dalam guncangan itu, suara itu datang.

RAAAAUUGHHH—

Panjang. Dalam. Berlapis, seperti bukan satu tapi banyak suara yang digabungkan menjadi satu raungan.

Kepala Gadis bertelinga runcing itu berputar ke kanan dalam sepersekian detik, matanya menyapu sekeliling reruntuhan dengan ekspresi yang dalam satu momen berubah total, dari penilaian menjadi kalkulasi, dari tenang menjadi siaga penuh.

"Berapa jauh?" bisiknya, tapi Nero menyadari gadis itu tidak sedang berbicara padanya.

Dua detik sunyi.

Lalu raungan kedua datang, dari arah yang berbeda. Lebih dekat.

"Kita harus pergi." Gadis sudah bergerak bahkan sebelum kalimatnya selesai, melangkah cepat di atas reruntuhan dengan keseimbangan yang sama sekali tidak masuk akal untuk medan sepecah ini. "Sekarang."

"Ke mana?" Nero mengikuti, kakinya refleks bergerak meski otaknya masih tertinggal tiga langkah di belakang. "Sekolah ini—"

"Sudah tidak ada." Gadis itu memotong tanpa menoleh. "Ikut. Dan jangan berhenti untuk alasan apapun."

Nero menatap punggungnya selama setengah detik.

Lalu berlari.

Reruntuhan sekolah tidak terlihat seperti reruntuhan sekolah lagi.

Nero tahu itu. Ia bisa mengenali beberapa potongan-potongan sudut papan tulis yang masih berdiri sendiri di tengah puing, lemari loker yang gepeng seperti kertas, setengah gawang sepak bola yang tertancap miring di tanah. Tapi itu tidak membentuk sekolah. Ia membentuk sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak punya nama di kosakata Nero.

"Tetap di belakangku," kata Gadis itu tanpa menoleh. "Dan jangan lihat ke bawah."

Nero sudah terlambat.

Ia sudah melihat ke bawah. Potongan tubuh manusia berserakan di puing-puing bangunan sekolah, hingga tidak bisa diidentifikasi lagi orangnya.

Ia mempercepat langkahnya dan memindahkan pandangan ke depan, ke punggung Gadis itu, ke busur hitam di punggungnya, ke mana pun selain ke bawah. Jantungnya memompa terlalu keras dan terlalu cepat, dan di dalam dadanya ada tekanan aneh seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tidak bisa menemukan jalannya.

Mereka menembus sisi barat sekolah, atau di mana sisi barat sekolah seharusnya berada dan masuk ke jalan raya.

Jalan raya yang sudah bukan jalan raya.

Aspal retak dalam pola yang menyerupai tulang yang patah. Kendaraan-kendaraan berserakan dalam posisi yang tidak logis. Ada sedan yang menancap tegak lurus di tembok gedung ruko, ada motor yang entah bagaimana terbalik di atas pagar, ada truk yang terbelah dua bersih seperti dipotong pisau raksasa. Api menyala di mana-mana, dalam titik-titik yang tidak bisa Nero hubungkan dengan sumber bahan bakar yang masuk akal.

Dan suara.

Bukan suara satu monster. Bukan dua. Ada banyak, dari berbagai arah, kadang dekat dan kadang jauh, kadang terdengar seperti satu makhluk besar dan kadang seperti kawanan kecil. Di sela-sela suara itu, ada suara manusia. Teriakan, tangisan, nama-nama yang dipanggil berulang-ulang tanpa jawaban.

"Kak," kata Nero sambil berlari. "Itu— di sana, ada—"

"Aku tahu."

"Mereka—"

"Aku tahu." Nada yang sama. Datar. Tidak dingin, tapi datar dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sedang menggunakan seluruh energinya untuk tetap berfungsi. "Kita tidak bisa berhenti."

"Tapi mereka butuh—"

"Kita juga butuh hidup." Gadis itu berbelok tajam ke kiri, melewati celah sempit di antara dua gedung yang sebagian runtuh. "Terus berlari."

Nero berbelok mengikutinya. Di belakangnya, suara teriakan itu mengecil tapi tidak menghilang. Tidak benar-benar menghilang, tidak dari telinganya dan tidak dari pikirannya.

Mereka keluar dari celah itu ke sebuah taman kecil... Atau yang tersisa darinya. Bangku-bangku besi bengkok. Pohon-pohon tumbang. Kolam air mancur di tengahnya pecah dan kering.

Nero tersandung di tepi kolam yang retak dan hampir jatuh. Gadis itu meraih lengannya tanpa menoleh, menopangnya dalam setengah detik, lalu melepaskan begitu Nero sudah menemukan keseimbangannya.

"Terima kasih," Ucap Nero sambil terengah.

Tidak ada respons.

"Apa ini?" Nero akhirnya meledak, karena otaknya sudah tidak bisa menampung semuanya dalam diam. "Apa yang terjadi? Itu tadi... makhluk di sekolah... dan sekarang ini semua—"

"Nanti."

"Bukan nanti, sekarang. Aku berhak tahu—"

"Kau berhak tahu saat kita sudah aman." Adelaine berhenti sebentar, matanya memindai jalan di depan dengan cepat. "Sekarang kita belum aman. Jadi kau tidak berhak atas penjelasan apa pun."

Nero menutup mulutnya.

Bukan karena setuju. Tapi karena di ujung taman itu, di balik pagar besi yang sebagian sudah roboh, ia melihat sesuatu bergerak.

Sosok manusia.

Lihat selengkapnya