Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #3

Tempat Beristirahat #3

Nero menarik napas.

Banyak pertanyaan mengantre di kepalanya. Terlalu banyak, sampai ia tidak tahu mana yang harus keluar pertama. Akhirnya yang keluar adalah yang paling bodoh dari semuanya, "Kau tidak lapar?"

Gadis itu berkedip. Satu kali. Seperti ia tidak mengantisipasi pertanyaan itu. "Tidak."

"Sudah berapa lama kau di sini? Di kota ini?"

"Beberapa jam sebelum kau bangun."

"Dan selama itu kau—" Nero menghentikan dirinya, mengalihkan pandangan ke busur hitam yang disandarkan ke rak. Jarak dekat seperti ini membuatnya bisa melihat detailnya lebih jelas. Permukaan busur itu ada pola yang sangat halus terukir di gagang dan badannya, pola yang bergerak sedikit setiap kali cahaya dari luar toko mengenainya dari sudut yang berbeda. "Itu busur apa?"

"Busur." Jawab gadis itu dengan ekspresi datar.

"Bukan itu yang aku maksud."

"Aku tahu." Gadis itu menatap busur itu sebentar, seperti mempertimbangkan seberapa banyak yang akan ia jawab. "Namanya Void Bow. Dibuat dari material yang tidak ada di duniamu."

"Duniaku." Nero mengulang kata itu. "Duniamu."

Gadis itu tidak menjawab. Tapi ia tidak menyangkal juga.

Nero menggeser posisi duduknya, meluruskan punggung, dan akhirnya memungkinkan dirinya untuk benar-benar memperhatikan gadis di depannya, bukan melirik seperti yang ia lakukan selama ini sambil berlari, tapi memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Usianya susah ditebak. Mungkin seumuran Nero, mungkin lebih muda, mungkin lebih tua dari yang ia terlihat. Rambutnya yang perak tidak terlihat seperti efek bleaching. Teksturnya berbeda, tidak rusak, terlalu bercahaya untuk cat. Matanya yang bergradasi biru-ungu tidak berubah warna tergantung cahaya. Warnanya tetap, seperti itu memang warna aslinya. Dan telinganya...

"Kau menatap telingaku lagi," kata Adelaine.

"Aku tidak—" Nero berhenti. "Mungkin iya. Maaf."

"Tidak perlu minta maaf." Ia tidak terdengar tersinggung. "Reaksimu wajar."

Nero menunduk sebentar, mengumpulkan kata-kata, lalu mendongak lagi. "Siapa kau?"

"Adelaine."

"Bukan nama. Siapa kau."

Adelaine menatapnya. Matanya tidak bergerak, tidak berkedip, dan untuk beberapa detik Nero merasa ia sedang dievaluasi dengan cara yang tidak ia punya alat ukur untuk memahaminya.

Kemudian Adelaine menghela napas, bukan napas kesal, tapi napas seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk percakapan yang ia tahu akan rumit.

"Aku bukan berasal dari dunia ini."

Nero menunggu lanjutannya.

Tidak ada lanjutan.

"Itu saja?" katanya.

"Untuk sekarang, ya."

"'Bukan dari dunia ini' itu bisa berarti banyak hal. Luar angkasa. Dimensi lain. Mimpi. Simulasi. Kau maksudnya yang mana?"

Sesuatu di ekspresi Adelaine bergerak — sangat sedikit, di sudut bibirnya, ke arah yang hampir menyerupai terkesan. "Kau tidak panik?"

"Aku sudah kehabisan kapasitas panik sejak tiga puluh menit yang lalu," kata Nero. "Sekarang aku cuma mau informasi."

"Dunia di atas." Adelaine mengangkat dagunya sedikit, ke arah langit-langit toko, ke arah pulau melayang di luar sana. "Di atas sana. Bukan langit biasa. Itu lapisan kedua. Tempat dari mana aku berasal."

"Lapisan kedua..." Ucap Nero sambil membaringkan tubuhnya di lantai toko.

"Duniamu ini adalah lapisan pertama. Ada lapisan di atasnya. Sudah ada sejak lama, sudah lama terpisah, sudah lama tidak ada kontak. Sampai—" ia berhenti.

"Sampai?"

"Sampai tiga hari lalu."

Nero menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Tiga hari lalu adalah saat video itu pertama beredar. Saat langit pertama kali kelihatan salah. Saat ia menggambar pulau terbalik di margin bukunya tanpa tahu kenapa.

"Kenapa sekarang?" katanya. "Kenapa tiga hari lalu dan bukan sepuluh tahun lalu? Seratus tahun lalu?"

"Itu pertanyaan yang tepat." Nada Adelaine berubah sedikit lebih serius, lebih berhati-hati, seperti ia sedang memilih kata-katanya dengan sangat presisi. "Dan itu pertanyaan yang tidak bisa aku jawab dengan jujur tanpa informasi yang belum aku punya."

"Berarti kau juga tidak tahu."

"Berarti ada yang aku ketahui dan ada yang belum." Ia menatap Nero. "Yang aku ketahui adalah bahwa ini bukan kecelakaan. Batas antara dua lapisan tidak roboh sendiri."

Nero membiarkan kalimat itu duduk di udara selama beberapa detik.

"Dan monster-monster itu?"

Lihat selengkapnya