Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #3

Topeng Sang Elf #3

Kelopak bunga anyelir putih jatuh perlahan, mengambang di atas permukaan air kolam pualam yang jernih. Di sekeliling kolam itu, pilar-pilar batu marmer setinggi belasan meter berdiri anggun, diukir dengan relief tanaman sulur yang dialiri cahaya magis keperakan. Di atas sana, langit berwarna biru safir sempurna tanpa sebutir pun debu. Angin bertiup lembut, membawa aroma wewangian nektar dari taman gantung yang melingkari Aethelgard, satu dari sekian banyak pulau melayang raksasa yang menjadi tempat tinggal bangsa Elf. Sebuah peradaban agung yang tampak seperti surga.

Namun, bagi Adelaine, semua kemegahan ini terasa hambar, bahkan cenderung memuakkan.

Adelaine berdiri di tepi balkon istananya, sepasang mata peraknya menatap menembus lapisan awan putih di bawah pulau melayang. Jauh di bawah sana, di balik tabir awan, terbentang bumi yang hancur, tertutup jelaga hitam dan asap belerang. Tempat di mana miliaran manusia merangkak di dalam lumpur dan debu tambang kristal, memeras keringat dan darah demi menyokong kemewahan yang sedang dia saksikan saat ini.

"Kau menatap ke bawah lagi, Adelaine," sebuah suara merdu namun dingin membuyarkan lamunan wanita itu.

Adelaine tidak menoleh. Dia hanya merapikan jubah militer putih bersihnya yang terbuat dari serat sutra. "Aku hanya sedang mengingat tugas kita yang sebenarnya, Elendil. Kita turun ke dunia bawah bukan untuk menjadi tuhan yang tiran."

"Tutup mulutmu. Dinding-dinding di istana ini memiliki telinga milik Faksi Dominion," bisik Elendil, seorang perwira Elf pria berambut emas yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. "Ikut aku. Yang lain sudah menunggu di ruang bawah tanah kuil."

Pertemuan itu diadakan di bagian terdalam Kuil Lumina yang sudah lama ditinggalkan, jauh di bawah fondasi kota melayang yang bising. Ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu kristal redup di tengah meja batu bundar. Di sana, dua perwira Elf lainnya, seorang wanita bernama Cynthia dan pria paruh baya bernama Theron sudah menunggu dengan wajah tegang.

Mereka berempat adalah inti dari Faksi Ascendancy, sebuah gerakan bawah tanah rahasia di kalangan bangsa Elf yang menolak keras penjajahan total terhadap bumi. Mereka percaya bahwa takdir bangsa Elf dan manusia seharusnya saling mendukung dan hidup setara, bukan memperbudak.

"Waktu kita tidak banyak. Faksi Dominion baru saja menyetujui mutasi penanggung jawab untuk Sektor Tambang 04 di bumi bawah," Theron membuka percakapan tanpa basa-basi. Dia membentangkan sebuah sabak sihir di atas meja batu. Sabak itu memancarkan proyeksi holografik berupa grafik, data statistik, dan berkas militer resmi dari Angkatan Darat Pembantu Bumi.

"Mengapa kau begitu mendesak agar aku mengambil alih sektor kumuh itu, Theron?" tanya Adelaine, matanya mulai memindai barisan data yang bercahaya kebiruan.

Cynthia, perwira wanita di sebelah Theron, mengetuk sabak sihir tersebut. Proyeksi data langsung membesar, menampilkan dua berkas unit manusia. "Karena ada anomali yang sangat tidak wajar di sana, Adelaine. Data intelijen Dominion menganggap ini hanya nasib buruk, tetapi analisis faksi kita melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Atau... jauh lebih potensial."

Cynthia menunjuk berkas pertama yang berlambang ayam jantan merah. "Ini adalah Regu Rooster. Unit infanteri pembantu manusia yang bertugas di garis depan sektor luar. Selama satu tahun terakhir, perwira Elf yang ditugaskan sebagai penanggung jawab operasi di regu ini memiliki tingkat kematian tertinggi di seluruh belahan bumi timur. Semuanya dilaporkan KIA, tewas akibat perang akibat sergapan tak terduga dari pasukan Iblis atau monster Graknir."

Adelaine menyipitkan matanya, membaca detail nama di dalam berkas tersebut. "Siapa pemimpin manusianya?"

"Sersan Gavin Pramana," jawab Theron. "Di bawahnya ada dua komandan tim kecil, Korporal Dimas Sanjaya dan Korporal Roni Alexandro. Laporan kematian perwira Elf terakhir yang dikirim oleh Gavin kemarin sangat rapi. Jasad perwira hancur total karena cakaran Graknir. Namun, tim analis forensik sihir kita mendeteksi sisa-sisa fluktuasi mana murni dari jarak dekat pada sisa tulang jasad tersebut. Itu bukan perbuatan monster. Perwira itu dieksekusi secara sengaja di tengah kekacauan perang."

Lihat selengkapnya