Lilin kecil di atas mesin tiket otomatis yang hancur itu berkedip sekali lagi, sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan seutas asap hitam tipis yang berbau sumbu terbakar. Kegelapan pekat kembali menyelimuti sudut terdalam stasiun bawah tanah. Dinginnya fajar pukul lima pagi menusuk hingga ke tulang, namun dahi Gavin justru dibanjiri keringat dingin.
Napasnya memburu. Di depannya, komponen-komponen logam dari bom tempel yang baru setengah jadi bergetar di atas meja rongsokan. Gavin buntu.
"Sialan," umpat Gavin dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa desisan.
Dia mencengkeram kepalanya sendiri. Logika yang biasanya dia banggakan, struktur berpikir mekanis yang selalu dia agungkan, mendadak runtuh malam ini. Masalahnya bukan lagi pada daya ledak bubuk Mana Crystal, melainkan pada sistem detonasi. Dia ingin membuat bom tempel yang bisa dikontrol dari jarak jauh tanpa harus memicu fluktuasi sihir serangan. Menembakkan Mana Bolt di tengah pelarian rahasia sama saja dengan menyalakan suar suar di malam hari, karena sensor sihir milik elf akan langsung mengunci posisi mereka dalam hitungan detik. Dia butuh pemicu gelombang manual. Dan sialnya, ilmu dari Arya belum sampai ke tingkat serumit itu.
Bayangan tentang apa yang akan terjadi beberapa jam lagi mulai merayap masuk ke benaknya, memicu rasa mual yang hebat di perutnya. Matahari akan terbit. Peluit akan berbunyi. Dan aku harus kembali ke atas sana. Menjadi samsak hidup.
"Cukup... aku sudah cukup," bisik Gavin, matanya memerah menatap bubuk kristal biru di hadapannya. Tangannya yang gemetar mulai meraba tuas pegas dengan kasar. Pikiran sembrono mengambil alih kewarasannya. "Pagi ini. Aku akan memasang semua bom ini di pilar penopang pos atas. Aku akan meledakkannya secara buta. Peduli setan dengan sensor elf. Peduli setan jika harus mati dihujani panah sihir dari langit. Aku lebih baik mati hancur bersama benteng itu daripada harus berdiri lagi pagi ini dan membiarkan mereka memukuliku."
Gavin mengangkat sebuah baut besar, hendak memaksa bagian pematik masuk ke dalam tabung dengan tekanan kasar, sebuah tindakan bunuh diri yang bisa memicu ledakan prematur akibat getaran amarahnya.
Set.
Dua pasang tangan kekar tiba-tiba muncul dari kegelapan, mencengkeram kedua pergelangan tangan Gavin dengan kekuatan yang luar biasa mutlak. Gavin tersentak, hendak memberontak, namun bobot tubuh orang itu langsung menekan pundaknya, mengunci gerakannya di atas meja.
"Sersan! Lihat aku! Tenang, demi Tuhan, tenang!"
Bisikan tajam itu menghantam telinga Gavin. Itu suara Roni. Pria paruh baya itu ternyata tidak sepenuhnya tidur di balik gerbong kereta. Dia telah mengawasi napas Gavin yang tidak stabil sejak satu jam lalu.
"Lepaskan aku, Roni," desis Gavin, giginya mengatup rapat, matanya menatap Roni dengan pandangan liar yang penuh kegilaan. "Lepaskan tanganmu sebelum aku meledakkan kita berdua di sini."
"Aku tidak akan melepaskannya sampai otakmu kembali waras, Gavin Pramana!" Roni membalas dengan bisikan yang tidak kalah tajam, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Gavin. "Di mana logika yang selalu kau jejalkan ke kepala Dimas? Kau mau meledakkan pos atas besok pagi? Kau mau kita semua, satu unit Rooster, mati dikuliti dan dibusukkan di tiang jemuran kamp hanya karena rencana bunuh diri konyolmu ini?!"
"Lalu aku harus bagaimana?!" Gavin akhirnya meledak, meski suaranya tetap tertahan dalam bisikan yang bergetar hebat. Air mata frustrasi yang menumpuk selama bertahun-tahun nyaris menetes dari sudut matanya yang memerah. "Setiap hari, Roni... setiap pagi aku berdiri di sana menjadi samsak hidup mereka! Tubuhku hancur! Jiwaku mati! Aku tidak kuat lagi menahan kepatuhan sialan ini!"
Perdebatan yang intens dan penuh tekanan di balik gerbong kereta itu ternyata memicu suara gesekan pelat besi. Di kegelapan, beberapa kepala mulai menyembul dari balik jendela gerbong yang pecah. Dimas dan beberapa prajurit lainnya terbangun. Mereka mengintip dengan cemas, menatap dalam keheningan yang mencekam. Untuk pertama kalinya sejak unit ini dibentuk, mereka melihat Sersan mereka, pria yang selalu sekokoh batu karang di garis depan kini tampak begitu rapuh, gemetar, dan hancur di bawah cengkeraman Roni.
Roni melihat anak-anak buahnya yang terbangun, lalu kembali menatap Gavin. Cengkeramannya perlahan melunak, berubah menjadi remasan yang menenangkan di pundak Gavin.
"Kau boleh mati, Gavin. Jika kau memang sudah menyerah, silakan ledakkan tempat ini sekarang," suara Roni mendadak melunak, namun kata-katanya berikutnya terasa seperti belati yang menghujam langsung ke ulu hati Gavin. "Tapi bagaimana dengan Maya?"
Gavin seketika membeku. Nama itu membuat seluruh otot tubuhnya menegang.
"Kau bahkan belum tahu dia ada di kamp mana, Gavin," bisik Roni, matanya menatap lurus ke dalam jiwa sang Sersan. "Kau bahkan tidak tahu apakah adik kecilmu itu masih bernapas atau sudah menjadi abu di bawah kaki bangsa Elf. Jika kau mati besok pagi sebagai bangkai pemberontak yang sembrono, siapa lagi di dunia sialan ini yang akan mencari tahu nasib Maya? Kau mau menyerah sekarang dan membiarkan adikmu sendirian tanpa pernah dicari oleh kakaknya?!"