Bad Omen

Rivandra Arcana
Chapter #5

Ide Gila Menuju Kebebasan #5

Adelaine melangkah setapak maju, membiarkan ujung sepatu bot kulitnya yang bersih berada hanya beberapa sentimeter dari jemari Gavin yang berlumuran darah di atas tanah. Dia sama sekali tidak melirik Thavron yang masih mengusap kepalan tangannya dengan seringai puas. Di bawah langit fajar Sektor Tambang 04 yang kelabu dan berbau belerang, suara Adelaine terdengar begitu merdu, namun membawa bobot dingin yang sanggup meremukkan mental siapa pun yang mendengarnya.

"Perhatian untuk seluruh anggota Regu Rooster," kata Adelaine, suaranya tidak keras, namun sihir pengeras suara dasar membuat suaranya menggema ke setiap sudut pos penjagaan. "Berdasarkan dekret militer terbaru dari Markas Besar Tinggi Kekaisaran, unit kalian diperintahkan untuk bergerak ke garis depan Sektor Luar dalam waktu tiga hari dari sekarang."

Gavin, yang masih berlutut menahan rasa sakit di ulu hatinya, perlahan mengatur napas. Dia tidak mendongak, namun telinganya menangkap setiap suku kata dengan tajam.

"Intelijen sihir kami mendeteksi adanya pergerakan masif dari kedalaman wilayah Iblis," lanjut Adelaine tanpa emosi, seolah sedang membacakan daftar inventaris barang mati. "Gelombang serangan diperkirakan berjumlah sekitar lima ratus unit pasukan infanteri Iblis, lengkap dengan barisan Iblis Elit pengguna Dark Magic dan pedang kutukan. Tugas Regu Rooster adalah berdiri di baris paling depan benteng luar, menahan laju mereka sampai pasukan inti Elf siap melakukan ritual pembersihan."

Mendengar angka lima ratus unit dan keberadaan Iblis Elit, kesunyian di barisan Regu Rooster pecah menjadi getaran ketakutan yang hebat. Dimas meremas tangannya sendiri hingga buku jarinya memutih, sementara Roni hanya bisa memejamkan mata, mengutuk takdir di dalam hatinya. Lima puluh manusia dengan sihir tangan dasar tingkat rendah diperintahkan menghadang lima ratus Iblis bersenjata magis. Ini bukan lagi sekadar misi berat, ini adalah vonis mati terselubung. Sebuah eksekusi mati massal bermodus tugas militer.

"Laksanakan persiapan kalian. Jangan mengecewakan Kekaisaran, Sersan Gavin," ucap Adelaine datar. Dia berbalik dengan keanggunan seorang bangsawan, jubah putihnya melambai anggun menyapu udara malam yang kotor saat dia melangkah kembali menuju gedung komando perwira Elf.

Thavron terkekeh rendah, menatap tubuh Gavin yang masih bertumpu pada lututnya dengan pandangan meremehkan. "Tiga hari lagi, Sersan. Nikmati sisa hari-harimu sebagai bangkai yang berjalan," ujarnya sebelum berbalik, menyusul langkah Adelaine dengan tawa puas yang menggema getir.

Setelah langkah kaki kedua perwira tinggi itu menghilang di balik pintu baja gedung komando, ketegangan di halaman pos mengendur, digantikan oleh keputusasaan yang pekat. Beberapa prajurit manusia di barisan belakang mulai berbisik panik, sebagian lagi menatap kosong ke langit kelabu.

Gavin menekan perutnya yang terasa mati rasa akibat pukulan Thavron, lalu memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri. Logikanya yang sempat retak beberapa jam lalu di stasiun bawah tanah kini telah kembali sekeras baja. Rasa sakit di tubuhnya justru menjadi jangkar yang menjaga kesadarannya tetap tajam.

Dengan langkah yang diseret sengaja agar terlihat sangat menderita, Gavin berjalan perlahan menuju sudut halaman pos. Tujuannya adalah tong sampah besi rongsokan yang berada di dekat pilar pembatas.

Setibanya di depan tong sampah, Gavin berpura-pura batuk hebat. Dia mengeluarkan saputangan kulitnya, menyeka darah segar yang mengalir dari bibirnya, dan dalam satu gerakan sekelebat mata yang sangat natural di bawah hidung para penjaga pos atas, jemari tangan kirinya menyelinap ke dalam tumpukan rongsokan besi di dalam tong.

Dapat.

Lihat selengkapnya