Bau menyengat dari asam belerang dan uap tembaga menyumbat tenggorokan, namun tidak ada satu pun orang di dalam kamar gerbong itu yang berani terbatuk. Di bawah temaram lampu minyak yang sumbunya sengaja dipotong pendek agar cahayanya tidak bocor keluar jendela, Gavin Pramana menggerus sebongkah kristal biru murni menggunakan hulu bayonetnya yang berat. Setiap ketukan dilakukan dengan presisi tinggi dan konstan, ritmis, dan tanpa suara.
"Ini yang terakhir untuk malam ini, Sersan," bisik Dimas. Dia menyodorkan sebuah silinder logam rakitan kasar yang baru saja disegel ujungnya menggunakan lelehan karet ban bekas.
Gavin menerima benda itu, menimbangnya sebentar dengan telapak tangan, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati ke dalam peti kayu di bawah ranjangnya.
"Total berapa yang sudah siap, Roni?" tanya Gavin tanpa mengalihkan pandangan dari gerusan kristalnya.
"Empat puluh dua pucuk bom tempel konvensional, Gavin," jawab Roni, menyeka keringat bercampur jelaga di dahinya menggunakan punggung lengan. "Setiap anak di Regu Rooster akan membawa satu di balik rompi militer mereka esok pagi. Sesuai rencanamu, sisanya akan kita pasang di pilar-pilar buta perimeter benteng luar secara bertahap saat pergantian jaga malam nanti."
Dimas menatap peti kayu itu dengan cemas. "Sersan... apa kau yakin bom tanpa detonator magis ini akan bekerja? Maksudku, jika elf menyadari tidak ada fluktuasi sihir pemicu dari benda ini..."
"Justru karena tidak ada fluktuasi sihir, sensor di pulau melayang mereka tidak akan mendeteksinya sebagai senjata, Dimas," potong Gavin pendek, suaranya sedingin es. "Benda ini murni bom konvensional yang sangat sensitif. Satu-satunya cara untuk meledakkannya adalah dengan hantaman fisik Mana Bolt milik kita secara langsung dari jarak jauh. Begitu pasukan Iblis merangsek maju dan Adelaine memerintahkan kita bertahan, lepaskan Mana Bolt kalian ke arah tanah tempat bom-bom ini ditempelkan. Sisakan sepuluh untuk kita tanam diam-diam di tempat kita berbaris nanti. Pastinya itu akan berada di dekat Adelaine."
Gavin bangkit berdiri, membersihkan sisa bubuk biru dari tangannya. "Hantaman sihir kita, dikombinasikan dengan ledakan kristal tak stabil ini, akan meledakkan batuan kapur di sekitar benteng. Debu alami yang dihasilkan akan sangat tebal. Tarik perhatian semua orang ke garis depan. Buat kegaduhan masif agar mata-mata Elf mengira kita sedang bertempur mati-matian. Sementara kalian menahan Iblis dari jarak jauh di balik tabir debu... aku yang akan menyelesaikan Adelaine."
Roni menatap Gavin dalam-dalam, rahangnya mengatup rapat. "Kau mengambil risiko terbesar, Gavin. Jika jubah penyerap sihir wanita itu menahan ledakan bommu, kau akan mati dalam hitungan detik."
"Kita tidak punya pilihan, Roni. Selama Adelaine dan Thavron bernapas, pelarian kita ke Zona Liar hanya akan berakhir dengan perburuan Grifon," Gavin memakai mantel militernya, menyembunyikan cetak biru pistol dari Arya jauh di dalam saku dalamnya. "Istirahatlah. Dua hari lagi, kita jemput kebebasan kita, atau mati mencoba."
Keesokan paginya, matahari fajar di permukaan Sektor Tambang 04 tidak pernah benar-benar bersinar. Langit tertutup oleh jelaga hitam tebal yang dimuntahkan secara konstan dari cerobong-cerobong pabrik pemurnian mana.
Adelaine melangkah dengan keanggunan yang kontras di atas tanah yang berlumpur hitam dan berbau belerang. Jubah putih sutra miliknya melambai lembut, seolah-olah memiliki medan pelindung tak kasat mata yang menolak partikel debu tambang menyentuh permukaan kainnya. Di belakangnya, dua prajurit elf dari Faksi Dominion berjalan kaku dengan tombak magis terhunus, ditugaskan khusus oleh Thavron untuk mengawal sekaligus mengawasi setiap langkah sang perwira baru.
"Sektor yang sangat produktif, bukan, Nona Adelaine?" salah satu pengawal Elf bernama Elion membuka suara, nada bicaranya dipenuhi keangkuhan yang kental. "Manusia-manusia ini bekerja dua belas jam sehari untuk memastikan pasokan kristal ke ibu kota tidak pernah terlambat."
Adelaine tidak langsung menjawab. Sepasang mata peraknya menatap lurus ke dalam kawah tambang terbuka yang raksasa di sebelah kanan mereka. Di bawah sana, ribuan manusia dari orang tua yang punggungnya sudah membungkuk hingga wanita-wanita kurus kering merayap di antara bebatuan tajam. Mereka memahat dinding batu dengan linggis besi kasar.
Cthak! Bugh!
"Bergerak lebih cepat, binatang kotor!" teriak seorang pengawas Elf di bawah sana, melayangkan cambuk kulit bersalut mana ke punggung seorang wanita tua yang jatuh terduduk karena kelelahan. Wanita itu menjerit kesakitan, memeluk lututnya di atas tanah yang dingin, sementara pengawas itu kembali mengangkat cambuknya.
Adelaine menghentikan langkahnya di tepi pagar pembatas. Matanya menyipit tipis melihat pemandangan itu.
"Bagaimana menurut Anda, Nona Adelaine?" tanya Elion dengan seringai tipis.
"Sistem yang sangat... tidak efisien," sahut Adelaine, suaranya terdengar merdu namun sedingin es, menyembunyikan rasa muak yang mendalam di balik wajah pualamnya. "Memukul budak yang sudah kehabisan energi biologis hanya akan mempercepat kematian mereka, yang berarti mengurangi jumlah tenaga kerja dan menurunkan kuota harian. Thavron tampaknya lebih mengutamakan kepuasan sadis jangka pendek daripada kalkulasi logistik yang matang."
Elion tersentak mendengar kritikan tajam itu, namun tidak berani membantah perwira tinggi di depannya.
Meninggalkan area tambang yang bising oleh jeritan dan denting besi, Adelaine melangkah menuju area pemukiman para petinggi Elf. Bau belerang di udara perlahan digantikan oleh aroma alkohol magis yang kuat saat mereka mendekati sebuah bar militer bergaya neoklasik yang berdiri megah di antara reruntuhan bangunan bumi lama.