Fajar di batas luar Sektor 04 tidak membawa kehangatan, hanya warna abu-abu pekat yang jatuh di atas dedaunan keperakan Hutan Sol’Mor. Hutan magis yang biasanya berpendar indah itu kini tampak seperti rahang monster yang siap menelan apa saja. Kabut belerang merayap rendah di antara parit-parit pertahanan, membawa bau tanah basah bercampur mesiu.
Di dalam parit garis depan, tiga regu manusia berdiri dalam keheningan yang mencekam. Regu Rooster di bawah pimpinan Gavin, Regu Raven yang dipimpin Arya, dan Regu Hound yang dipimpin oleh Sersan Aris Kombaitan, seorang veteran bertubuh tegap dengan bekas luka cakar melintang di mata kirinya yang buta.
Aris Kombaitan mengetatkan pelindung lengannya, lalu melirik Gavin yang berdiri dua meter di sebelahnya. "Kau terlihat pucat, Sersan Gavin. Jika nyalimu menciut melihat apa yang ada di balik pohon-pohon itu, serahkan garis depan pada anjing-anjing Hound-ku."
Gavin tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke dalam kegelapan Hutan Sol’Mor. "Simpan bicaramu untuk iblis, Aris. Pastikan anak buahmu tahu kapan harus mundur."
"Mundur?" Aris mendengus kasar, memicingkan satu mata sehatnya. "Hound tidak pernah mundur sebelum dipukul rata dengan tanah. Tapi... jika rencanamu dan Arya benar-benar bisa membawa kita keluar dari lubang kotor ini, aku akan ikut gila bersama kalian."
"Mereka datang," potong Arya dari barisan Regu Raven. Suaranya tenang, namun tangannya sudah mencengkeram belati taktis dengan erat.
BUM... BUM... BUM...
Bumi di bawah kaki mereka mulai bergetar. Dari kedalaman Hutan Sol’Mor, pepohonan magis bertumbangan. Raungan mengerikan yang memekakkan telinga memecah kesunyian fajar. Lima ratus pasukan infanteri Iblis, makhluk-makhluk setinggi dua meter dengan zirah kulit hitam berduri dan kapak raksasa merangsek maju seperti gelombang ombak kegelapan yang lapar akan darah.
Di belakang mereka, Thavron berdiri dengan senyum sadis yang mengembang. Di sebelahnya, Adelaine berdiri tegak, jubah putihnya berdesir ditiup angin perang, matanya yang seiras perak menatap dingin ke arah parit manusia.
"Manusia-manusia tak berguna!" suara Thavron menggelegar, diperkuat oleh sihir udara. "Maju dan tahan barisan depan! Siapapun yang berbalik arah akan dieksekusi di tempat oleh panah sihirku!"
"Sesuai rencana," Gavin berbisik tajam. "SEKARANG!"
"Regu Hound, Rooster, Raven! Mundur satu langkah ke dinding batu! Tembak tanah!" teriak Aris Kombaitan dengan suara menggelegar.
Alih-alih merangsek maju menjemput maut seperti yang diinginkan Thavron, belasan prajurit manusia justru melangkah mundur, menempel pada dinding parit. Secara serentak, mereka melemparkan puluhan silinder kaleng bekas bom tempel rakitan murni ke atas tanah berlumpur di depan parit.
"Lepaskan Mana Bolt!" perintah Gavin.
BLAAM! BLAAM! BLAAM!
Rentetan cahaya biru dari sarung tangan sihir manusia menghantam bom-bom konvensional tersebut. Ledakan beruntun pecah seketika. Bubuk Mana Crystal yang tidak stabil menghancurkan struktur batuan kapur dan tanah belerang di tepi Hutan Sol’Mor. Dalam hitungan detik, badai debu putih yang masif bercampur dengan jelaga hitam pekat membubung ke angkasa, menggulung seluruh medan perang.
Kabut Perang telah tercipta. Jarak pandang hancur total hingga kurang dari dua meter. Sensor magis milik Thavron seketika menjadi buta, hanya mendeteksi kekacauan energi tanpa visual.
"Sialan! Apa yang terjadi?!" terdengar teriakan panik Thavron jauh di belakang pasukan yang mulai tertutup debu. "Adelaine, bersihkan kabutnya!"
Di dalam selubung debu yang pekat, suara desingan Mana Bolt dari prajurit manusia terus bersahut-sahutan, sengaja ditembakkan secara acak ke arah depan untuk menciptakan ilusi pertempuran frontal yang sengit. Fokus Adelaine dan Thavron tersedot sepenuhnya ke arah suara bising di garis depan tersebut.
Momen itu adalah detak jantung dari seluruh rencana. Gavin menyelinap dalam kabut dengan kecepatan luar biasa memanfaatkan titik buta di sisi kiri tempat Adelaine dan Thavron berada. Insting gerilyanya menuntunnya melewati kabut tanpa suara, menuju tempat para perwira Elf berada.
Thavron sedang memaki-maki pengawalnya saat kabut tebal bergulung ke arah mereka. "Di mana para manusia itu?! Kenapa sihir sensorku tidak-"
SRET!
Dari balik tirai debu putih, Gavin muncul seperti hantu dari neraka. Sebelum Thavron sempat menarik pedangnya, Gavin menerjang maju dengan seluruh berat tubuhnya. Tangan kiri Gavin mencengkeram rahang Thavron dengan cengkeraman besi, memaksa mulut perwira Elf itu terbuka lebar dengan paksa.
"Kau-" Thavron terbelalak, matanya memancarkan horor yang murni saat melihat wajah Gavin yang berlumur debu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Tanpa membuang satu milidetik pun, tangan kanan Gavin menghantam maju, menjejal paksa sebuah pasak bom tempel rakitan terbesar yang dia miliki langsung ke dalam rongga mulut Thavron hingga masuk ke tenggorokannya.
"Thavron, menjauh dari dia!" Sebuah teriakan jernih memecah kabut.