Sisa-sisa kabut asap dari Hutan Sol’Mor bergulung rendah, mengantar derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas tanah berbatu. Dua puluh prajurit penyihir dari Faksi Dominion bergerak dalam formasi baji yang kaku, jubah perak mereka berkilat di antara sela-sela pepohonan yang meranggas. Di tangan mereka, tongkat sihir bersalut emas putih telah diarahkan ke depan, permata mana di ujungnya berdenyut merah, siap memuntahkan kepunahan.
"Jejak kakinya berakhir di sini! Mereka menuju ke arah pesisir tebing!" teriak sang komandan pengejar, wajahnya mengeras oleh amarah. Kematian Thavron adalah tamparan hebat bagi harga diri ras Tinggi Elf di Sektor 04.
Begitu formasi mereka menembus batas vegetasi hutan, pemandangan laut lepas langsung membentang. Di bawah tebing batu kapur setinggi lima belas meter yang curam, sebuah kapal layar kayu berukuran sedang sudah mulai melepas jangkar. Ombak samudra yang ganas menghantam lambung kapal, berbusa putih. Di atas dek, tampak Roni dan Dimas yang basah kuyup baru saja merayap naik dibantu oleh beberapa orang asing, sementara Arya berdiri di dekat buritan, bersiap memotong tali layar.
"Angkat tongkat kalian!" perintah sang komandan Elf, suaranya melengking tinggi membelah gemuruh ombak. "Rapkan mantra Aero-Bolt massal! Tenggelamkan kapal itu bersama tikus-tikus tanah di dalamnya!"
Dua puluh permata sihir menyala serentak, mengisap energi mana dari udara sekitar hingga memicu distorsi visual yang mendengung pekat.
Namun, tepat sebelum untaian mantra itu dilepaskan, sebuah raungan udara yang teramat panas memotong medan perang. Suara itu datang dari bawah tebing, merayap naik bagai desisan naga yang terbangun dari tidur panjangnya.
"Tak kan kubiarkan, Gago!"
Sesosok bayangan melesat vertikal dari balik bayang-bayang tebing laut. Dua kaki manusia menyemburkan kobaran api murni yang luar biasa masif, berfungsi ganda sebagai roket pendorong yang mengoyak gravitasi bumi. Udara di sekitar tebing mendadak memanas, membuat kabut belerang di sekitar parit menguap dalam sekejap.
Bayangan itu berhenti, melayang dengan tenang tepat di udara di hadapan barisan pasukan sihir Elf. Kobaran api di kakinya mengecil menjadi riak-riak lava yang konstan, menahan tubuhnya tetap berada di atas angin.
Sang komandan Elf melangkah mundur, matanya membelalak lebar, menatap sepasang mata cokelat yang menyala-nyala di balik rambut hitam yang dipangkas berantakan. Wajah pria itu persis seperti lembaran kertas sihir berpendar yang tertempel di dinding-dinding bar militer tertinggi atas.
"Kau... Alab Dimaguiba?!" suara sang komandan bergetar, zirah peraknya terasa mendadak mencekik lehernya sendiri. "Buronan dari Sektor 09... mengapa kau ada di sini?!"
Alab merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Seringai gila yang provokatif terukir di wajahnya yang dihiasi tato suku kuno di sepanjang lengan. Di bawah kendali batinnya, api neraka yang pekat mendadak meledak keluar dari telapak tangannya, menari-nari liar seolah-olah memiliki nyawa sendiri.
"Tak ada yang bisa kabur di sini... layaknya kalian tak membiarkan manusia kabur, tangina!" Alab tertawa lepas, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan mutlak terhadap ras yang menganggap diri mereka dewa.
"Tembak dia! Bunuh dia sekarang-"
Alab tidak memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan satu kata pun. Kedua kakinya menyemburkan api masif yang mendorong tubuhnya melesat vertikal ke atas langit fajar. Dia bergerak begitu cepat, menembus awan jelaga hitam pabrik pemurnian, menghilang dari pandangan selama satu detik yang mencekam.
Lalu, langit di atas tebing mendadak memerah.
Dari titik tertinggi di antara awan beracun, Alab membalikkan posisi tubuhnya. Kakinya di regangkan ke bawah, kedua tangannya disilangkan di depan dada, mengumpulkan seluruh sisa energi mana mentah yang ada di atmosfer luar. Udara di sekelilingnya terdistorsi hebat, menciptakan pusaran api raksasa yang membungkus tubuhnya menjadi meteor jatuh.
"SKYWARD IMPACT!"