Badai Indah

Titin Widyawati
Chapter #18

Nasihat

“Dengan belajar sungguh-sungguh kamu akan membantu meringankan beban ibu … eh Mamakmu, Pelita.” Pak Ezar berbicara tanpa senyum karena sibuk memperhatikan jalanan turunan tajam dan setir kemudi. Dia bertanggung jawab membawa keselamatan aku, Bu Rani juga mobil asrama tiba ke garasi. Mobil berderak menuruni gunung, kaca jendelanya merekam pemandangan hamparan ladang ditanami cabai, bawang daun, dan sawi sendok. Udara masih seperti tahun-tahun nenek moyang, gigil tetapi pendam sejuk di paru-paru sekalipun permukaan langit senantiasa dibungkus kabut.

Bu Rani terus memandang jendela mobil, baginya alam itu amat menakjubkan, dia berkali-kali berdecak karena beringsut dengan perasaan kagum. Bu Rani orang kota, tinggal dekat dengan mall dan alum-alun, keramaian menjadi rutinitas yang mengusik gendang telinga, tas branded, gedung-gedung bertingkat menandingi ketinggian trembesi merupakan background hidupnya. Walaupun dia tidur dan tinggal di asrama, tetapi hal-hal yang bersarang di benak tidak jauh dengan kubus-kubus mewah dan lalu lalang orang berpakaian rapi. Sementara di tempat tinggalku—halaman kampung dan tetangga-tetangga dusun, banyak wajah sekelam tanah, memiliki noda di pipi, pakaian tebal tetapi bau pupuk kandang, jika di kota gendong tas mahal, di sini orang angkut sayuran di punggung.

Aku diam, menerawang hal-hal yang akan terjadi di asrama beberapa saat lagi. Tentu penghuninya akan menciptakan nuansa sepi melebihi ngerinya kuburan. Aku diseret dengan paksa oleh Bu Rani dan Pak Ezar, dan didorong tanpa kira-kira oleh Mamak. Mereka semua tidak peduli sekalipun aku menjerit dikeluarkan dari mobil. Sesungguhnya mereka egois dengan dalih mempertimbangkan masa depan.

“Kamu harus mengubah kehidupan di keluargamu, Pelita. Setelah SMP, lanjutkanlah SMA, lalu carilah beasiswa kuliah, terakhir kerja dan hiduplah dengan baik.”

“Apakah itu masa depan cerah? Bagaimana saya bertahan di gedung bernama sekolah jika saya tidak nyaman? Saya merasa terkungkung?” sentakku di hadapan Pak Ezar.

“Itu hanya proses yang kamu lalui, kalau kamu tidak mau lelah belajar, kelak kamu tidak akan jadi apa-apa di masa depan. Hidup butuh banyak pengetahuan, semakin kecil pengetahuan di kepalamu, semakin banyak tenagamu akan terkuras,” kata Pak Ezar lagi. Sebuah kalimat sepanjang rel kereta api yang tidak ingin aku pahami. Lagi pula aku maklum latar belakang dirinya—guru—haruslah senantiasa bersikap bijak karena tertuntut memberikan hal-hal positif.

Aku diam dan berusaha tidak memedulikannya. Pikiranku mengabadikan wajah pilu Suchi, dia yang kembali dipeluk sunyi dalam kesendirian sementara Mamak mempersibuk waktu dengan menjadi babu. Disusul aura datar Ayah di permukaan kaca mobil, dia ditempeli embun, lengkung senyumnya getir, kain rumah sakit yang dipakai mulai kusam tercampur debu jalan, terbilas air hujan. Aku membayangkan Ayah berjalan mondar-mandir di trotoar, meraung-raung dalam ketidakmengertian, ditakuti anak-anak kecil, direkam dalam hiburan oleh kaum muda, dijauhi orang-orang berseragam rapi. Lalu jika Ayah lapar … bagaimana dia mengeja huruf untuk meminta bantuan? Sementara akal pikun dengan kesadaran. Apakah dia tahu jika pencernaannya butuh makan? Alasan apa yang membuatnya kabur dari kurungan rumah sakit jiwa?

Lalu ada pria tua sedang berjalan dengan tatapan kosong. Dia menggendong ransel robek di sana-sini. Pakaiannya compang-camping dan mengandung daki. Kulitnya berisik juga memiliki luka babras di beberapa titik. Langkahnya dilapisi sendal jepit yang tidak serasi. Bibirnya hitam, giginya sekuning janur, rambutnya panjang dan gimbal sebab kutafsir berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak mengenal alat canggih bernama sisir.

“Stop!” Aku berteriak lantang, “berhenti!” lanjutku karena Pak Ezar tidak kunjung menginjak rem.

Lihat selengkapnya