1944—Peristiwa Tungku Padam.
Api di dalam tungku masih menyala ketika mereka datang.
La Ramma kecil berdiri di sudut rumah panggung itu, kakinya telanjang menyentuh papan yang masih hangat oleh bara. Ia memandangi ayahnya—La Nappa—yang sedang bekerja seperti biasa. Palu di tangan, besi merah menyala di atas landasan. Setiap dentang terdengar mantap, berirama, seperti napas yang menjaga rumah itu tetap hidup.
Bau arang, besi panas, dan keringat bercampur menjadi satu. Bau yang sejak kecil ia kenal sebagai bau rumah.
Ibunya, Sitti Ramlah, duduk tak jauh dari tungku, memilah kayu bakar untuk dijual besok pagi. Sesekali melirik ke arah suaminya, dengan wajah lelah tapi tetap hangat.
Malam itu seharusnya biasa saja.
Namun dentang itu berhenti begitu saja, La Nappa mengangkat kepalanya, derap langkah kaki yang sengaja dipelankan ditangkap indranya.
Beban tubuh menekan daun-daun kering di luar sana. Banyak dan teratur.
La Ramma ikut menoleh ke arah pintu. Di luar sana, angin malam berdesir melewati kolong rumah, membawa suara yang tidak seharusnya ada di desa mereka.
Ibunya sudah berdiri, dengan raut wajah yang berubah. "Asap *battu laukang," tangannya mencengkram kusen pintu.
Asap tebal bergelung-gelung ke udara dari Barat—di sebuah bukit tak jauh dari pemukiman warga.
Sebuah isyarat bahaya.
"Ke belakang *ko, Nak," bisik Nappa kepada Ramma, suaranya bergetar.
La Ramma tidak bergerak, ia belum mengerti sepenuhnya. Namun tubuhnya sudah mulai dingin.
Langkah itu semakin dekat.
Lalu—pintu didobrak hingga terbuka kasar. Kayu tua terhempas ke lantai, angin malam masuk bersama bayangan-bayangan gelap yang langsung memenuhi ruangan.
Beberapa orang tentara, dengan seragam kaku. Tatapan mereka jauh lebih kaku lagi.
Tidak ada salam, hanya langkah yang masuk seolah rumah itu bukan milik siapa pun.
La Ramma mundur, lengannya ditarik perlahan oleh ibunya. Jantung mereka sama berdebarnya.
Ayahnya berdiri, ia tidak lari. Tidak bersembunyi dari apa pun.
Ia melangkah satu langkah ke depan, berdiri di antara tungku dan keluarganya.
"*Punna nia' salah, paumi," ucapnya pelan—jika ada salah, katakan.
Suaranya tidak tinggi, tetapi berat.
"*Tau mangkasara' antu tena na lari." Imbuhnya.
Salah satu tentara maju.