Tubuh lelaki itu jatuh di bawah kolong rumah panggung, membawa bau darah dan kematian yang belum selesai.
Suara benturan itu pelan, tetapi cukup untuk membuat Tenri Basse menghentikan gerakan tangannya.
Jarum yang sejak tadi menari di atas kain mendadak berhenti di tengah jahitan. Ujung benangnya menggantung, berayun pelan mengikuti embusan angin malam yang menyusup lewat celah dinding papan.
Ia mengangkat kepala.
Hening.
Hanya suara ombak yang terdengar dari kejauhan, memecah di bibir pantai seperti bisikan yang tak pernah berhenti sejak matahari tenggelam. Bau asin laut bercampur dengan aroma kain basah dan minyak kelapa yang menguar dari pelita kecil di sudut ruangan.
Tenri Basse menahan napas. Tadi ia yakin mendengar sesuatu. Seperti benda berat yang jatuh dari bawah rumah.
Ia menoleh ke arah pintu, lalu ke arah adiknya yang terbaring di tikar pandan, meringkuk dengan selimut tipis menutup hingga dagu.
Tenri Ana masih tertidur.
Napas kecil gadis itu naik turun pelan, sama sekali tak terusik oleh suara yang barusan terdengar.
Tenri Basse menggigit bibir bawahnya.
Mungkin hanya kelapa jatuh.
Atau kayu kering yang roboh tertiup angin.
Ia mencoba kembali fokus pada jahitannya—sehelai baju pesanan seorang ibu nelayan yang harus selesai sebelum pagi. Namun entah kenapa, jarinya terasa kaku. Jarum di tangannya terasa lebih berat dari biasanya.
Dan kemudian—suara itu terdengar lagi.
Pelan.
Seperti sesuatu sedang bergerak di atas tanah.
Jantung Tenri Basse berdetak lebih cepat.
Tangannya perlahan menurunkan kain yang sejak tadi dijahitnya. Pelita kecil di sampingnya bergetar pelan, membuat bayangan di dinding bergerak seperti makhluk hidup.
Ia berdiri, lantai papan rumah berderit halus di bawah telapak kakinya. Setiap langkah terasa terlalu keras di tengah kesunyian malam.
"Siapa di bawah?" suaranya lirih, hampir seperti bisikan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara ombak dan angin.
Namun justru karena itulah rasa takut mulai merambat pelan di dalam dadanya.
Ia melangkah menuju pintu.
Tangannya meraih pelita kecil, mengangkatnya setinggi dada. Cahaya kekuningan menari di permukaan kayu tua, menciptakan bayangan panjang yang mengikutinya hingga ke ambang pintu.
Tenri Basse membuka pintu perlahan, angin laut langsung menyergap wajahnya.
Dingin dan asin.
Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu, menatap ke arah tangga kayu yang menurun menuju tanah.
Gelap.
Hanya gelap.
Namun dari bawah sana—ia mencium sesuatu.
Bau besi, bau yang tidak asing. Bau anyir darah.
Napasnya tercekat, tangannya menggenggam pelita lebih erat.