Blurb
Cemara kembali ke tanah air setelah lima tahun menimba ilmu di luar negeri. Sebuah pesta penyambutan sekaligus perayaan ulang tahunnya yang ke-23 digelar oleh keluarganya. Namun, di malam yang seharusnya penuh suka cita, sebuah kejutan datang—sesuatu yang tak pernah ia duga.
Di tengah lampu taman yang tiba-tiba padam dan musik yang terhenti, muncullah seorang badut.
Bukan badut biasa.
Ia adalah Trian—lelaki dari masa lalu yang selama bertahun-tahun diam-diam menunggunya, menjaga taman tempat mereka pernah menanam harapan, dan menyimpan perasaan yang tak pernah benar-benar berubah.
Namun malam itu, tanpa sepengetahuan Cemara, keluarganya telah menyiapkan lamaran resmi dari Andreas, pria baik yang dijodohkan untuknya.
Trian hadir bukan sebagai kekasih.
Ia datang sebagai badut pengantar cincin.
Tanpa kata, ia menyerahkan cincin itu kepada Cemara, lalu pergi membawa luka yang tak sempat ia ungkapkan.
Sejak malam itu, Cemara dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang datang terlambat. Ia kembali menelusuri kenangan mereka—surat-surat lama, pohon ketapang, bunga-bunga yang pernah mereka tanam, dan bangku taman tempat janji yang tak pernah selesai diucapkan.
Namun ketika ia mencoba mencari Trian, rumah lelaki itu telah kosong.
Tak ada kabar. Tak ada jejak. Seolah waktu telah menghapusnya dari kehidupan Cemara.
Kini Cemara harus berhadapan dengan satu pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih bisa menemukan seseorang yang telah pergi karena dirinya?
Badut Pengantar Cincin adalah kisah tentang cinta yang tak sempat diungkapkan, penyesalan yang datang terlambat, dan pencarian terhadap seseorang yang mungkin telah memilih untuk menghilang.
Karena kadang, cinta tidak gagal—ia hanya datang di waktu yang salah.