Malam ini, di kamarnya yang terletak di lantai dua, LYRAE (20) menatap langit dari jendela, sambil menikmati hamparan bintang yang memenuhi seisi langit. “Aku rindu, tapi… merindukan apa?” sambil meletakan tangan kanan diatas dadanya, Lyrae menghela napas panjang. Sebuah perasaan yang mengusik seisi hatinya beberapa waktu ini, tapi ia tidak tahu diperuntukan kepada siapa rindu yang mengusik itu.
ANGKASA (48) berjalan pelan menaiki anak tangga. Selayaknya tugas yang diemban seluruh orang tua di muka bumi yang selalu memastikan anak-anak mereka sudah lelap tertidur, begitu pula yang dilakukan Angkasa. Ia ingin memastikan keadaan putri semata wayangnya, sebelum dirinya beristirahat, melepas lelah yang dibawa hari.
Dengan ketukkan pelan, tanpa menunggu izin, Angkasa membuka pintu kamar Lyrae dengan perlahan. “Kamu belum tidur, sayang?” tanya Angkasa, saat mendapati putrinya yang masih terjaga.
“Ini baru mau tidur, Pa” Lyrae berjalan perlahan ke arah kasur.
“Kenapa? Kamu kepikiran karena besok hari pertama kamu magang?” Angkasa mengelus lembut rambut Lyrae yang panjang dan agak ikal, sekilas ingatan-ingatan tentang bagaimana dulu ia menyisir rambut putrinya saat masih kecil memenuhi pikirannya.
“Mungkin.” Jawab Lyrae seadanya sambil terduduk di tepi tempat tidur.
Ekspresi wajah bingung Lyrae membuat sang papa cukup penasaran, tapi alih-alih bertanya ia lebih menunggu Lyrae menceritakannya sendiri. “Yasudah, kalau begitu kamu istirahat supaya besok gak telat,” kecupan mendarat di kening Lyrae dengan lembut.
Tepat sebelum Angkasa keluar dari kamar Lyrae, “Pa…” panggil Lyrae ragu.
Langkah Angkasa terhenti, ia menoleh ke arah putri semata wayang-nya.
“Apa mungkin kita bisa merindukan seseorang yang tidak pernah kita temui?”
“Maksudnya?” Angkasa sedikit mengernyitkan kening.
“Kayaknya aku kangen sama Mama.”