Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #2

#Chapter 2: Hai, Salah Satu Rasi Bintang Paling Terang

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela, cukup untuk mengganggu seseorang dari lelapnya. Masih dengan mata yang terpejam, Angkasa mencari-cari ponsel dengan tangannya. Saat tangan itu berhasil menemukan apa yang dicari, dengan susah payah ia membuka kedua matanya. Mata yang yang tadinya begitu sulit untuk terbuka seketika terbelalak ketika mendapati jam menunjukan pukul setengah delapan pagi.

Secepat mungkin Angkasa bersiap, bagaimanapun ini hari yang bersejarah baginya sebagai seorang ayah, karena ini adalah hari pertama Lyrae magang, dan terlambat di hari pertama magang bukanlah pertanda baik. Jadi, dengan segera ia bergerak cepat menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

Kurang dari 10 menit, Angkasa menyelesaikan persiapannya, tentu dengan kerapihan yang seadanya. Lalu segera bergegas keluar kamar sambil mempersiapkan kata maaf di dalam pikirannya. Tapi, ia tidak mendapati keberadaan putrinya di tamu atahupun ruang makan, hal itu membuat angkasa secepat mungkin berlari menaiki anak tangga untuk memastikan kalau putrinya sudah bangun

 

Pintu terbuka…

Angkasa terdiam, saat melihat kamar yang ada dihadapannya terlihat seperti kapal pecah, dengan baju yang berserakan. Sebuah pemandangan yang sudah lama tidak pernah ia lihat, ia bahkan nyaris lupa kapan terakhir kali melihat hal itu.

“Papa!!” teriak Lyrae sambil merengek, “Masa aku gak bisa nemuin seragam sekolah aku.” Sambil mengobrak-abrik lemari pakaiannya Lyrae terus merengek.

Angkasa seketika mengernyitkan keningnya saat mendengar suara manja Lyrae yang merengek, dan semakin bingung ketika ia melihat penampilan Lyrae yang mengingatkannya pada penampilan putrinya sewaktu Sekolah Menengah Pertama.

Dengan setengah rambutnya yang diikat ke sebelah kiri dengan sebuah pita.

“Tunggu, pita?? Dari mana ia menemukan pita itu?!” Angkasa yang masih sibuk memikirkan hal yang terjadi saat ini, menjadi semakin bingung ketika, “Pa!!! Kok Papa malah bengong, baju seragam aku gak ada… huaaa… aku bisa diomelin sama Bu Fifi! Malah dia galak banget lagi,” ucapaan Lyrae membuatt Angkasa ada di posisi yang snya hampir menangis.

Angkasa jelas tahu siapa orang yang sedang dibicarakan putrinya itu. Fifi, selain menjabat sebagai wali kelas Lyrae saat di kelas 2 SMP. Ia menjadi subjek gibah yang yang dilakukan putrinya selama satu tahun penuh kala itu.

Lyrae terduduk dengan wajah memelas dan air mata yang mulai membasahi pipinya. Angkasa mencoba memahami keadaan, dengan tenang ia mengatur napasnya dan berjalan pelan ke arah Lyrae, lalu duduk di sampingnya, “Gimana kalau hari ini kamu bolos aja? Kita jalan-jalan ke taman kota terus makan Soto Mie kesukaan kamu, mau?” bujuk Angkasa.

Seketika wajah sedih Lyrae berubah menjadi senyum sumringah, “Mauuuu!! Banget!!” serunya penuh semangat. “Tapi, Papa kan harus ke kantor?” seketika suara penuh semangat itu hilang berganti penuh kecewa seiring menghilang juga senyumnya.

“Papa hari ini sengaja cuti, karena Papa sudah bisa memprediksi hal seperti ini pasti terjadi,” ucapnya dengan nada percaya diri seakan ia seorang ahli ramal.

Lyrae tertawa sambil menghapus air mata lalu memeluk Papa-nya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Rumah Sakit…

           Setelah menyuruh Lyrae untuk menunggunya di kantin rumah sakit dengan alasan, ia harus memberikan barang yang diminta oleh salah seorang kerabatnya. Angkasa menunggu antrian di Poli Jiwa. Tujuannya hanya satu, mengkonsultasikan kondisi Lyrae pada sahabatnya yang seorang Psikiater.

“Bapak Angkasa, silahkan masuk.” Ucap seorang perawat memanggil pasien selanjutnya.

RAGA (49), kerabat lama Angkasa merasa bingung ketika melihat keberadaan temannya yang datang sebagai seorang pasien. Kebingungan itu bukan tanpa alasan, karena terakhir kali keduanya bertemu lima tahun lalu, pertengkaran sengit terjadi karena perbedaan sudut pandang yang mengakibatkan keduannya tidak lagi saling berkomunikasi semenjak saat itu.

“Tolong arahkan Pak Angkasa ke dokter lain ya, Sus.” Ucap Raga yang langsung mengalihkan pandangannya ke beberapa dokumen di mejanya. Suster menatap bingung sejenak, ia terdiam untuk memastikan apa yang ia dengar tidak salah

“Raga, saya mohon tolong bantu saya. Cuma kamu yang bisa tolong saya.” Angkasa segera berlutut memohon belas kasihan temannya.

“Angkasa, saya memindahkan kamu ke dokter lain bukan karena saya gak mau membantu, tapi karena itu melangggar kode etik. Saya gak bisa menangani keluarga atahu kerabat saya karena adanya kedekatan emosional diantara kita. Ada banyak Pskiater berkualitas di rumah sakit ini.” Jelas Raga.

“Ini bukan tentang aku, Ga” Mata Angkasa mulai basah, dengan suara yang terpatah-patah, “ini tentang Lyrae, Ga.”

Raga seketika mengingat alasan pertengkaran dirinya dan Angkasa lima tahun lalu, “jangan bilang kamu masih melakukan hal itu ke Lyrae?”

Lihat selengkapnya