“Orion!!... Orion!!” orang-orang saling bersahutan memanggil nama Orion.
Hari itu, harusnya menjadi hari yang menyenangkan untuk seluruh anak-anak kelas 2 Sekolah Menengah Atas Pekerti Luhur, yang merayakan hari pramuka dengan naik ke salah satu gunung di Bogor. Sayangnya, kejadian menyenangkan itu tidak berlangsung lama. Tepat saat seluruh rombongan mencapai puncak, Ibu Rara mendapat kabar kalau salah satu mobil orang tua murid mengalami kecelakaan ketika kembali dari mengantar anak-nya.
Tanpa pikir panjang Orion berlari kencang menuruni gunung tepat saat Ibu Rara memberitahukan bahwa mobil yang mengalami kecelakaan adalah mobil orang tua Orion. Perasaan panik, sedih dan takut bergumul hebat di benak Orion. Meski ia tidak tahu arah mana yang harus ia lewati, ia terus berlari tanpa henti, yang ia tahu hanya ia harus segera turun dan memastikan kedua orang tuanya baik-baik saja.
Lyrae yang melihat Orion berlari untuk turun dari gunug, segera mengejar Orion dan mengabaikan larangan beberapa guru pengawas. Lyrae bahkan tidak menyadari ketika jari tangannya luka karena tergores semak-semak yang ia terjang demi tidak kehilangan jejak Orion.
Di sisi lain, entah sudah berapa kali Orion jatuh terpeleset karena tanah yang mulai basah seiring rintik hujan yang mulai deras. Tapi, jatuh kali ini Orion kehilangan semua tenaganya untuk kembali bangkit dan hanya menangis.
Dengan nafas terengah-engah Lyrae berjalan perlahan ke arah Orion, dengan lembut Lyrae mengelus kepala Orion. “Gue kira lo cepet banget cuma kalau di dalam air, ternyata di darat lo cepet juga yaa?” seloroh Lyrae, masih sambil mengatur napas.
Orion menatap Lyrae dengan penuh kesedihan, “Bokap-nyokap gue…gimana kalau mereka ...” ucapannya terhenti sedangkan air mata deras membasahi wajahnya, menunjukkan bagaimana ia berusaha melawan pikiran buruknya sendiri.
“Tenang aja, bokap-nyokap lo selamat kok, cuma luka ringan dan lagi ditanganin di rumah sakit. Gue dapet info dari bokap,” mencoba menenangkan, “Balik yuk” ajak Lyrae mengulurkan tangan. Orion meraih uluran tangan Lyrae.
Orion bangkit sambil melihat ke sekeliling “lo ngejar gue ke sini sendirian?” tanya Orion.
Lyrae hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban. Melihat anggukkan Lyrae, udara yang dingin seketika langsung membuat Orion merasa hangat. Senyum tipis menghiasi wajah Orion, tapi seketika lenyap ketika menyadari berarti mereka berada dalam masalah besar.
“Kenapa lo tadi senyum-senyum sendiri? Lo gak kesurupan kan?” Tanya Lyrae panik, yang langsung membuat Orion merasa tidak habis pikir. “Duh! Malah gue gak hafal ayat kursi lagi!” gerutu Lyrae dengan penuh kegelisahan.
Melihat sikap Lyrae, Orion mengerutkan kening, “Lo lebih takut gue kesurupan, dibanding mendapati kenyataan kalau sekarang kita tersesat di gunung?” Tanya Orion tidak habis pikir.
“Gapapa, yang penting gak tersesat sendirian, kan?” Dengan senyum polosnya Lyrae berharap menyudahi kekhawatiran Orion.