Semenjak mengusir Angkasa dari ruang praktiknya, Raga dihantui rasa bersalah pada mendiang sahabatnya, seolah ia sedang melakukan hal yang sangat jahat. Tepat saat pasien selesai ia tangani keluar dari ruangannya. “Suster, saya mau ke luar dulu sebentar, kira-kira 10 menit” Ucap Raga pada suster yang sedang sibuk mendata pasien berikutnya.
Raga bahkan tidak tahu mau ke mana, ia hanya merasa perlu menenangkan perasaannya sebentar. Tatapan putus asa yang diperlihatkan oleh Angkasa, juga terus mengganggu pikiran Raga sehingga ia tidak bisa konsentrasi bekerja. Tapi, disisi lain ia menganggap Angkasa memang pantas mendapat perlakuan seperti itu, setelah apa yang ia lakukan pada putrinya sendiri. Bagaimana bisa seorang ayah merampas salah satu harta paling berharga yang dititipkan seorang ibu pada anaknya.
Mata Raga mulai basah, saat mengenang mendiang sahabatnya.
***
Potongan-potongan kenangan menerobos masuk dalam ingatan…
Luna terlihat menatap langit dari jendela rumah sakit, tatapanya sendu tapi sekejab hilang saat menyadari kedatangan Raga.
“Harus segera ditangani Lun, gak bisa ditunda-tunda lagi” ucap Raga dengan lembut, menutupi seluruh kekhawatirannya.
“Untuk apa? untuk seperti itu?” tanya Luna sambil mengarahkan pandangannya pada seorang pasien perempuan yang baru keluar dari sebuah ruangan dengan didorong kursi roda oleh seorang pria, sepertinya itu pihak keluarga si pasien.
“Paling enggak, dia sedang memperjuangkan hidupnya, dan harusnya kamu juga melakukan hal yang sama, Lun.” Raga menatap Luna dengan perasaan penuh harap agar Luna mengubah keputusannya.
“Daripada harus terlihat menyedihkan seperti itu di depan Angkasa dan Lyrae, lalu membuat mereka dipenuhi rasa khawatir disetiap detiknya, lebih baik aku memberikan banyak kenangan yang indah untuk mereka sebelum benar-benar pergi. Memastikan, mereka memiliki amunisi yang cukup saat menghadapi rindu”
“Dan kamu akan membuat mereka terluka parah karena kehilangan orang yang paling mereka cintai. Kamu tahu bagaimana hebatnya duka mampu mengguncang jiwa?”
“Tahu. Mungkin itu fungsinya Tuhan menjadikan kita sahabat.” Luna tertawa kecil, membenarkan ucapannya yang sembarangan. Kini tatapan mata Luna nampak serius menatap Raga, “Demi persahabaan kita 20 tahun ini, janji sama aku…. Setelah kepergian aku, pastikan Angkasa dan Lyrae tidak berlarut dalam rasa kehilangan yang membahayakan jiwa mereka.”
“Demi persahabatan kita 20 tahun ini, jelaskan bagaimana caranya?! Apa kamu kira berdamai dengan keadaan yang disebabkan rasa kehilangan itu mudah?”
“Justru karena tidak mudah, makanya aku minta bantuan.” Luna memasang wajah memelas. “Kamu bisa kenalkan wanita yang baik-baik dan cantik ke Angkasa, membuat dia merasakan cinta kembali, lalu memiliki semangat hidup baru.” Luna menarik napas panjang, mencoba menutupi kesedihan yang dibumbui rasa cemburu. “Lyrae membutuhkan Papanya. Jadi, selamatkan angkasa lebih dulu. Sejauh ini aku tahu betul Angkasa sangat mencintai aku, dan kehilangan aku akan menjadi pukulan telak untuk dia” Sekuat tenaga Luna mencoba tersenyum, walau tatapannya menyiratkan kesedihan yang utuh.
“Yakin? Kamu gak akan cemburu?” Raga menyipitkan mata sambil tersenyum meledek.
“Pertanyaan bodoh macam apa itu! Tentu cemburu. Tapi membayangkan dia kehilangan semangat untuk hidup hanya karena meratapi kepergian aku…, itu terasa lebih menyakitkan.”
“Maka dari itu, jangan buat mereka merasa kehilangan!” Bantah Raga.
“Maka dari itu, janji sama aku untuk tetap memastikan mereka baik-baik aja setelah aku pergi” Luna mengulurkan kelingkingnya, “demi persahabatan kita 20 tahun ini” ucap Luna melanjutkan.
Raga mengabaikan janji kelingking yang diminta Luna, tapi dengan sigap Luna menarik tangan Raga dan menyatukan jari kelingkingnya dengan jari kelingkin Raga. “Kalau sampai kamu ingkar, aku akan datang ke dalam mimpi kamu dengan wajah yang seram, mata melotot yang dipenuhi amarah dan memastikan itu menjadi mimpi yang paling mengerikan yang pernah kamu alami!” tambah Luna dengan wajah serius, yang sesaat berubah tersenyum. Seakan ia yakin kalau sahabatnya tidak akan mungkin untuk ingkar janji.
***
Langkah Raga terasa berat, mungkin karena matanya yang mulai basah…
“Jadi, itu alasan kenapa kamu datang ke dalam mimpi aku dengan wajah yang penuh amarah, tadi malam?” gerutu Raga entah pada siapa. “Jahat sekali, padahal selama ini kamu gak pernah datang ke dalam mimpi aku” Raga mulai mengelap air matanya.
Orion berlari kencang sambil menggendong Lyrae yang sedang pingsan menuju ke UGD. Melihat seorang pemuda berlari kencang sambil menggendong seorang gadis, Raga memberikan jalan pada pemuda tersebut, sambil ikut lari dan mengikutinya dari belakang.