Raga membawa beberapa bungkus burger dan minuman, sebelum memasuki mobil. “Jalan” perintah Raga pada seseorang yang duduk di bangku kemudi, sedangkan ia sibuk membuka bungkus burger dan mulai memakannya.
“Dok, tugas tambahan saya jadi supir pribadi dokter?” tanya Orion yang masih terdiam sambil memandang bungkusan burger yang sedang dibuka oleh Raga.
“Gak usah banyak tanya, cepet jalan!” perintah Raga.
Tidak ada pergerakan sedikitpun, dengan wajah memelas Orion masih terdiam sambil memandang Raga yang mengunyah makanannya. “Kalau sampai burger saya jatoh karena kamu lihatin terus, awas kamu ya!” ancam Raga, yang membuat Orion menarik napas panjang.
“Tenang aja, saya juga beliin buat kamu, sekarang cepetan jalan”.
“Masalahnya, kita mau jalan ke mana, Dok?” tanya Orion bingung.
“Ke rumah Lyrae lah, menurut kamu kemana lagi?”
“Tapi saya gak tahu rumah Lyrae dimana dok” timpal Orion.
“Kamu bisa lacak keberadaan ponsel kamu, yang kamu taro di dalam tas Lyrae kan? Salah satu tujuan kamu menaruh ponsel kamu ke dalam tas dia, itu kan? Kamu kira saya bodoh?”
Tidak ada bantahan dari orion, “tapi lokasi ponsel saya ini agak jauh lho dok.” Mencoba meyakinkan sambil mempelihatkan kalau sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
“Ya gapapa, kan kamu yang ngendarain mobil.” Ucap Raga dengan entengnya, “Kenapa? Kamu keberatan?” tanya Raga kembali saat meliat Orion terlihat pasrah.
“Enggak kok Dok, mana berani” sanggah Orion segera.
“Nah, nanti setelah kita dapet alamat Lyrae, kamu jangan lupa anterin saya pulang ke rumah dulu baru kamu pulang.” Seloroh Raga yang disambut helaan napas panjang Orion membayangkkan lelahnya perjalanan kali ini, namun wajah lelah itu langsung berganti dengan senyum penuh semangat saat mendapati Raga yang menatapnya dingin. Tanpa berlama-lama Orion segera melajukan mobilnya
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lyrae termenung di tempat tidurnya,…
Ia mengenang kembali wajah Orion. Senyum lembut terlukis samar di bibrirnya, berganti seirirng teringat kembali bagaimana bekas luka di kaki Orion terlihat sangat menyakitan. Lyrae mencoba merebahkan dirinya sampai terdengar nada panggilan telephone entah dari arah mana. Lyrae mencoba mengelilingi kamarnya mencari-cari dari mana asal suara yang cukup mengganggu itu. Langkahnya terhenti tepat di atas meja belajarnya. Dengan cepat ia mengangkat tas dan beberapa barangnya yang berada di atas meja untuk menemukan sumber suara itu. Tapi, tak juga ia temukan, sampai ia menyadari, dering telepon itu berasal dari dalam tasnya.
Dengan perlahan Lyrae mengambil tas lalu membukanya. “Ini, ponsel siapa?” ucap Lyrae pada dirinya sendiri. Dengan ragu Lyrae mengangkat ponselnya.
***
Panggilan dijawab…
“Ha-- lo?” sapa Lyrae menjawab panggilan dengan sedikit ragu.
“Halo, Lyrae?”
“Ya, ini siapa ya?” tanya Lyrae.
“Ini Orion.”
Mendapati orang yang menelponnya adalah Orion, seketika Lyrae terdiam, jantungnya berdegub dengan kencangnya.
“Haloooo… Lyrae? Lo masih di sana?” Orion kembali memanggil karena tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya.