Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #6

#Chapter 6: Beberapa Kenangan Mulai Muncul Kembali

Jam menunjukkan pukul 02:00, di ruang keluarga Angkasa terduduk sambil terus melihat jarum jam bergerak. Ia menggenggam sebuah rantai dengan bandul jam di ujungnya, ekspresi cemas terlihat jelas di wajahnya. Angkasa meremas kuat-kuat koin di tangannya. “haruskah? Tapi… Bagaimana jika ia mengingatnya kembali?" pertanyaan itu terus memenuhi seisi pemikiran Angkasa.

Angkasa berdiri dari duduknya dan mulai melangkah menaiki anak tangga satu per satu. “Lakukan saja lagi, kamu harus memastikan dia tidak mengingat yang tidak perlu diingat.” Ucapnyaa meyakinkan diri sendiri sambil lanjut menaiki satu anak tangga lagi - lagi - dan lagi hingga langkahnya berhenti tepat di depan kamar Lyrae.

“Tapi, bagaimana jika kata-kata Raga dulu benar? Bagaimana jika nanti aku membuat Lyrae justru kehilangan dirinya sendiri?” Angkasa sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. “Untuk kali ini, sepertinya tak perlu. Lagi pula sampai saat ini, Lyrae tidak mengingat apapun tentangnya.” Angkasa mencoba meyakinkan dirinya sendiri, lalu memilih berbalik dan menuruni anak tangga untuk menjauh dari kamar Lyrae.

***

Di kamar, Lyrae yang terlelap mulai direngkuh mesra oleh sang malam untuk memasuki alam mimpi, seakan ada yang telah menunggunya di sana….

Lyrae melangkah pelan, kecuali suara derap langkah kakinya, tak ada suara yang terdengar. Dengan cahaya seadanya, deretan pintu yang tertutup rapat berjejer dihadapan Lyrae, pintu dengan aneka warna dan bentuk ia lewati satu per satu, sampai langkahnya terhenti di sebuah pintu berbentuk lingkaran dengan daun pintu berwarna cokelat kayu yang ditumbuhi tanaman rambat dengan bunga berwarna kuning terang, berukuran yang sangat kecil.

Pintu yang sedaritadi sedikit terbuka itu, membuat Lyrae penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.

Suara dari balik pintu, “Lyrae… Sayang… Kamu itu mau makan, mau membaca buku atau mau tidur?” suara lembut seorang wanita terdengar tidak asing di telinganya.

Rasa penasaran itu menjadi semakin besar saat mendengar suara seorang wanita memanggil namanya. Dengan langkah yang sedikit ragu, Lyrae memberanikan diri untuk membuka pintu sedikit lebih lebar agar ia bisa melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi di dalam. Ia melihat seorang wanita sedang membelai lembut rambut seorang gadis kecil, mungkin gadis itu berumur sekitar 6 tahun. Lyrae sedikit menyipitkan mata untuk memastikan siapa gadis kecil yang wajahnya belepotan dipenuhi cream cokelat itu. “Ha! Itu aku!…” ucapnyaa kaget, “aku saat masih kecil, ternyata sangat menggemaskan.” Seloroh Lyrae dengan gemas pada dirinya sendiri.

Lyrae kecil yang duduk manis di kursinya, masih berusaha mengunyah kue choux yang ada digenggaman tangan kanannya, ia terlihat bersusah payah untuk tetap bisa membuka kedua matannya. Sambil terkantuk-kantuk ia juga tetap berusaha membaca buku cerita yang ada di tangan kirinya. Wanita yang dari tadi memperhatikan Lyrae kecil terlihat menahan tawa, sambil perlahan duduk di hadapan Lyrae kecil, “Kamu harus memilih salah satu sayang.” Sambil tersenyum ia terus memandangi wajah gadis kecil yang sudah kalah dalam peperangannya melawan rasa kantuk.

Dengan hati-hati wanita itu mengambil sisa makanan yang masih digenggam Lyrae kecil, lalu membersihkan sisa cream cokelat di wajahnya. Setelah itu, ia terus memandangi wajah Lyrae kecil sambil mendaratkan kecupan hangat di pipinya. “Bagaimana ini? kenapa putri Mama terlihat begitu manis?” ucapnya sambil tersenyum.

Lyrae tersentak, “Ma--ma?” tanyanya entah pada siapa. “Mama?” ia mengulangi kembali ucapannya sambil mengeritkan kening.

Masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, wanita itu menoleh ke arah Lyrae. “Hai sayang” Ia berdiri dan melangkah mendekat ke arah Lyrae dengan perlahan, sebelum pemandangan itu terlihat semakin samar dan lenyap dari pengelihatan Lyrae. “Hai sayang…” Suara Wanita itu masih terdengar jelas di telinga Lyrae. “Sayang….” Suara Wanita itu kini mulai berubah menjadi suara seorang pria yang tidak asing. “Sayang, bangun…”

***

“Sayang… Lyrae… Bangun sayang.” Dengan lembut Angkasa mengecup kening Lyrae, sambil terus mengelus lembut rambutnya.

Dengan susah payah Lyrae membuka kedua matanya, meregangkan tubuhnya sambil menguap. Seketika matanya terbelalak saat menyadari sinar matahari sudah menerobos masuk kedalam kamarnya lewat jendela kamar yang sudah terbuka lebar.

“Papa gak kerja?” tanya Lyrae panik.

“Ini papa mau berangkat, tenang ini baru jam tujuh kok.” Ucap Angkasa sambil memperlihatkan jam di tangannya.

“Kamu inget kejadian kemarin?” tanya Angkasa dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Lyrae menganggukkan kepalanya. “Ingat, kemarin aku ke rumah sakit, dan papa bilang hari ini aku gak usah masuk untuk sekolah dan harus istirahat sampai beberapa hari kedepan, kan?” Lyrae mencoba memastikan

“Iya, yaudah, kamu istirahat dan jangan lupa minum vitaminnya ya! Seminggu ini kamu gak usah masuk sekolah dulu, biar Papa info ke sekolah nanti.” Ucap Angkasa mengarang.

Lihat selengkapnya