Orion terduduk di ayunan sambil termenung, ia mengingat kembali perkataan dokter Raga sebelum berangkat menuju tempat pertemuan dengan Lyrae. “Hari ini, hari meninggal Mama-nya Lyrae. Bawa Lyrae ke makam Mama-nya. Perkataan dokter Raga terus menerus mengganggu pikiran Orion.
***
Di kantin rumah sakit…
Raga menatap Orion dengan seksama, memastikan bahwa orang dihadapannya ini benar-benar bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membantunya menepati janji yang bertahun-tahun lalu ia buat.
“Hari ini, adalah tahun ke-5 meninggalnya Luna”
“Luna??” Orion mencoba mencerna, sebelum akhirnya merasa tidak percaya, “Tante Luna?? Mamanya Lyrae?” tanyanya memastikan.
Raga menganggukkan kepalanya. “Misi pertama yang akan saya berikan ke kamu adalah, bawa Lyrae ke makam Mamanya. Tenang aja, sesampainya di sana, kamu akan di pandu sama Pak Adi, untuk sampai di makam Luna.” Jelas dokter Raga.
Orion terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja didapatkan. “Lima tahun lalu? Tanggal 02 Oktober? Dokter yakin?” tanyanya memastikan.
“100% yakin, saya yang mengurus pemakamannya, karena Angkasa dan Lyrae terlalu terpukul saat itu. Kenapa? Ada yang salah?”
“Lima tahun lalu di bulan Oktober saya masih di Jakarta dan saya gak tahu sama sekali kalau tante Luna meninggal”. Ucap Orion.
“Saya gak tahu hal apa yang membuat kamu tidak mendapatkan kabar penting itu, yang pasti tugas kamu adalah mengembalikan ingatan Lyrae terhadap Mamanya.”
“Mengembalikan ingatan Lyrae?” Orion mengulangi ucapan Dokter Raga, “caranya?” tanya Orion.
“Bukankah kamu teman Lyrae dari masa SMP sampai SMA? Dan bukannya kamu juga kenal dekat dengan keluarga Lyrae? Jadi, pergunakan ingatan kamu, untuk menuntun Lyrae mendapatkan kembali ingatannya.”
Orion termenung, ia mencoba menemukan alasan kenapa Lyrae sampai kehilangan ingatan tentang Mama-nya? Ekspresi bingung Orion membuat Raga sedikit meragukan keputusan yang diambilnya untuk mempercayai pria di hadapannya.
“Satu hal yang perlu kamu ingat, Lyrae harus mendapatkan ingatannya dengan perlahan. Saya gak mau dia mengalami shock yang mengakibatkan trauma hebat dan berdampak buruk pada kejiwaannya.” Raga mencoba memperingatkan. “Dan usahakan Lyrae mendapatkan kembali kenangan manis dengan Mama-nya lebih dulu, sebelum mendapati kenangan paling buruknya tentang duka yang diakibatkan kematian” tambah Raga.
Mendengar ucapan dokter Raga, Orion semakin merasa bingung, “Lalu membawa Lyrae ke makam Mamanya apa itu tidak berbahaya untuk kondisi Lyrae, Dok?” tanya Orion memastikan.
Dokter Raga menarik napas panjang, “Kamu tahu apa itu Mitokondria?”
Orion menggelengkan kepalanya, ia merasa asing dengan kata tersebut.
“Menurut penelitian, itu adalah organ sel penghasil energi yang diwariskan oleh seorang ibu secara khusus kepada anaknya. Jadi, biarkan sel itu mendapat getaran langsung dari yang telah mewariskannya.”
Orion terdiam, ia mulai memahami tujuan dari dokter Raga, meskipun sedikit ragu.
“Sekali lagi saya peringatkan, tuntun Lyrae mendapatkan ingatannya dengan PER-LA-HAN” tegas dokter Raga. “Kamu hanya perlu membawa Lyrae ke makam Mamanya, tanpa memberitahukan bahwa itu adalah makam mamanya!”
“Lalu alasan apa yang harus saya kasih ke Lyrae, Dok?” terpaku bingung.
“Terserah, itu urusan kamu. Kamu bebas mengarang.” Ucap Raga dengan enteng seakan ia tidak mau ambil pusing terhadap tanggungjawab orang lain. “Kamu bisa berangkat sekarang.” Perintah Raga.
Orion berdiri dan mengikuti perintah, ia mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja, tepat sebelum ia melangkahkan kaki untuk pergi, Raga mencengkram tangannya erat.
“Jika terjadi sesuatu dengan Lyrae, segera hubungi saya!” ucap Raga dengan tatapan mata yang dingin. Orion menganggukkan kepalanya, tanda ia mengerti dengan perintah yang diberikan.
***
Di taman…
Orion terhentak kaget dari lamunannya ketika seorang wanita berteriak memanggil namanya dengan sekuat tenaga dari kejauhan, “Oooriiiioonn!!.”
Setelah sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya ia mendapti asal suara tersebut. Seorang gadis berlari sekencang yang ia bisa untuk sampai tepat di hadapannya. “Ma..a..af… Tadi.. Gue… ke..tidur..an” ucapnya mencoba menjelaskan dengan sisa-sisa napas yang dimilikinya.
Orion menatap lekat ke arah Lyrae. Ada kebahagiaan yang terpancar jelas tapi berusaha sekuat tenaga ia tutupi.
“Lo marah?” Tanya Lyrae polos setelah berhasil mengatur napasnya kembali.
“Tidur jam berapa sih lo?!! Lo gak tahu gimana panasnya itu matahari!!” Bentak Orion sambil menunjuk ke arah matahari dengan kesal. Tapi, sedetik kemudian Orion terdiam, ia tahu betul sikapnya pada Lyrae jelas berlebihan. Anehnya, sikap itu bahkan tidak bisa ia kontrol setiap kali ia berhadapan dengan Lyrae, semenjak keduanya bertemu pertama kali saat masa SMP.
Sejujurnya daripada ingin membentak Lyrae, Orion jelas lebih ingin memeluk erat gadis di hadapannya sambil meminta maaf atas semua perlakuan jahat yang pernah ia lakukan beberapa tahun lalu. Tapi, entah kenapa setiap kali berhadapan dengan Lyrae, semua Tindakan yang orion perlihatkan selalu saja bertolak belakang dengan apa yang hatinya ingin tunjukkan. Setelah 5 tahun tidak bertemu, bahkan itu menjadi sebuah kebiasaan yang belum bisa ia rubah.
“Iya, maaf. Gue yang salah” ucap Lyrae dengan penuh rasa penyesalan.
“Untuk kali ini gue maafin.” Timpal Orion. “Yaudah ayok temenin gue” ucap Orion sambil berlalu meninggalkan Lyrae, yang ia yakini akan mengikuti langkahnya dari belakang. Merasa gengsi untuk melihat ke arah belakang, Orion memperhatikan bayangan Lyrae yang terpantul di jalan. Ia merasa lega ketika ia dapati bayangan Lyrae tetap mengikuti langkahnya.
Sesampainya di parkiran mobil, Langkah Lyrae terhenti saat mendapati Orion masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
“Ayo masuk, ngapain diem aja?”
Dengan cepat Lyrae menggelengkan kepala. “Lo kan belum punya SIM! Kita masih 16 tahun Orion! Masih kelas dua SMA!” ucap Lyrae panik.
Orion menghelah napas Panjang. Ia mulai memutar otaknya untuk meyakinkan Lyrae, “Gue kan udah diajarin bokap! Lo juga kan tahu! Lo lupa?” ucap Orion yang seketika ingat kalau dulu Lyrae pernah ikut saat dirinya sedang belajar mobil.
“Iya, justru karena gue inget. Makanya gue gak mau masuk mobil.” Timpal Lyrae.