Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #8

#Chapter 8: Kenangan Yang Dipaksa Hilang

Tepat saat Raga mematikan panggilan telepon dari Orion, seorang perempuan yang bekerja sebagai staff administrasi rumah sakit mengetuk pintu ruang kerja Raga.

“Dokter, ini nomor telepon yang dokter minta” ucapnya kepada dokter Raga.

“Oke terimakasih lho. Sorry ya ngerepotin” ucap Raga sembari menerima secarik kertas yang diberikan. Staff rumah sakit tersenyum, seakan memberikan isyarat bahwa itu bukan hal yang merepotkan. Sebelum akhirnya ia izin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

Setelah pintu ditutup, Raga melihat kertas yang baru saja diterimanya. Di sana tertera nama Angkasa, beserta nomor ponselnya. Raga mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya, ia termenung sesaat. Ingatan tentang kejadian 5 tahun lalu masih tersimpan jelas dalam ingatan Raga, dimana saat itu ia memergoki Angkasa memberikan obat tidur kepada Lyrae sebelum ia melakukan hal yang membuatnya sangat membenci Angkasa.

***

Lima tahun lalu…

Malam itu, selesai dari tugasnya di rumah sakit, Raga bergegas mengunjungi anak semata wayang dari sahabatnya yang telah tiada. Ini pertama kalinya Raga berkunjung ke rumah itu setelah sang sahabat tiada. Bagi Raga datang ke rumah itu tanpa keberadaan sahabatnya bukanlah hal yang mudah. Raga masih mengingat dengan baik, bagaimana sahabatnya itu selalu menyambut kedatangannya dengan senyum yang sumeringah setiap kali ia keluar dari mobil.

Raga menutup pintu mobil sambil membawa beberapa hadiah kecil untuk menghibur kedukaan Lyrae atas sepeninggal mamanya dua minggu lalu. Sebuah duka hebat yang sebenarnya juga menjadi luka bagi Raga. Tapi, demi menepati janjinya pada sang sahabat Raga mengabaikan perasaan duka di hatinya sendiri dan memilih untuk memastikan orang-orang yang dicintai sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja.

Tepat saat memasuki rumah Luna, Raga mendapati Bi Mira sedang menuruni anak tangga, kedua tangannya sibuk membawa kardus dari lantai atas ke bawah. Merasa heran, “Ini kardus apa Bi?” tanya Raga.

“Dokter Raga. Kapan dokter datang?” Tanya Bi Mira yang kaget mendapati keberadaan Raga.

“Baru datang kok, Bi. Ini kardus apa Bi?” Raga mengulangi kembali pertanyaannya.

Dengan ekspresi bingung, Bi Mira berusaha mengalihkan pembicaraan kembali. “Dokter Raga mau minum apa? biar saya buatkan.”

“Ini kardus apa, Bi?” Tanya Raga dengan tatapan tegas.

Bi Mira terdiam dengan wajah yang tertunduk.

Raga membuka kardus tersebut, “Semprotan serangga, gunting, cutter, jarum, jangka, gulungan pita” ucap Raga saat membuka kardus tersebut.

Deg…

Jantung Raga berdegup kencang, pikiran buruk mulai memenuhi seisi kepalanya. “Ini barang dari mana?” Tanya Raga dengan tatapan dingin ke pada Bi Mira.

Dengan suara ragu, “Dari kamar non Lyrae” ucap Bi Mira dengan hati-hati, takut kalau ia salah bicara.

Tidak ada pertanyaan lanjutan dari Raga, ia berusaha menenangkkan diri dengan mengatur napasnya. Perlahan Raga berjalan menuju tangga, tanpa memerlukan izin ia menaiki anak tangga, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar Lyrae. Dengan sangat pelan ia membuka pintu kamar Lyrae. Di sana ia mendapati Angkasa sedang duduk di pinggir tempat tidur. Dari sudut pandang Raga saat ini, ia hanya melihat punggung Angkasa. Raga melangkah maju memasuki kamar Lyrae dengan langkah perlahan, khawatir kalau Lyrae mungkin sudah tertidur. Tapi pada langkah ke tiga, Raga menginjak sebuah botol kecil, yang bertuliskan “Kloroform” membaca tulisan di botol kecil tersebut, membuat Raga mengeritkan kening.

“Lupakan… lupakan semua ingatan kamu tentang mama kamu. Kamu tidak mempunyai mama. Mama kamu meninggal saat melahirkan kamu.”

Raga yang masih bingung dengan keberadaan sebotol obat bius, merasa semakin bingung saat mendengar ucapan yang baru saja ia dengar. Mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi, Raga berdiri dan melangkah lebih dekat ke arah tempat tidur dimana ia melihat Angkasa duduk dengan posisi membelakangi dirinya.

Tik…tok…tik…tok…tik…tok…

Semakin dekat dengan keberadaan Angkasa, Raga mendapati Angkasa sedang memegang sebuah bandul jam yang memperdengarkan suara detik yang cukup kencang.

“Lupakan semua kenangan dengan Mama kamu… kamu tidak memiliki Mama… Mama kamu meninggal saat melahirkan kamu… kamu tumbuh tanpa pernah mengenal mama kamu…Lupakan semuanya…Lupakan… jangan ada yang tersisa” ucap Angkasa mengulangi perkataannya terus menerus

Mendengar ucapan Angkasa, membuat amarah bergejolak di dalam diri Raga. “Bagaimana bisa seorang ayah berusaha menghilangkan sosok ibu dalam ingatan anaknya?” Raga melanjutkan langkahnya sambil mengepalkan tangannya sekuat tenaga, menunjukkan kalau ia berusaha keras menahan amarah yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Langkah Raga terhenti, dari posisi ini, ia jelas bisa melihat keadaan Lyrae yang terlihat setengah sadar, adegan itu mutlak membuat Raga hilang kesabaran.

“Apa yang kamu lakukan sama anak dari sahabat saya?” tanya Raga dengan suara yang menahan amarah.

Suara Raga sontak membuat Angkasa kaget, ia segera berdiri dari posisi duduknya. Tanpa sempat memberikan penjelasan apapun Raga langsung melayangkan pukulan tepat di wajah Angkasa. Secepat mungkin Angkasa mencoba bertahan, tapi sia-sia, Raga berulang kali berhasil mendaratkan pukulan di wajah dan perut Angkasa. Tidak mau menyerah Angkasa mencoba membalik keadaan, kini Raga berusaha menangkis pukulan Angkasa. Dengan cepat angkasa menarik kerah baju Raga dan mendorongnya ke arah dinding.

“Apa yang kamu lakuin ke Lyrae?!” Raga berteriak sambil sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Angkasa dari kerah bajunya.

“Perduli apa kamu! Minggu lalu saya minta kamu untuk memeriksa keadaan Lyrae, tapi kamu jawab apa? Kamu malah sibuk ceramah tentang kode etik!!” Angkasa berteriak tepat di wajah Raga, “Omong kosong tentang kode etik!” Tegas Angkasa. “Kalau ini menyangkut nyawa anak saya!” Tambahnya.

“Saya cari dokter terbaik untuk Lyrae!!” Raga berusaha menjelaskan.

“Terus untuk apa gelar dan seluruh penghargaan yang kamu dapatkan itu? Ha??!” Teriak Angkasa, yang membuat Raga terdiam.

Teriakan Angkasa membuat Bi Mira berlari ke kamar Lyrae bersama PAK TONO (58) tukang kebun di kediaman rumah keluarga Lyrae. Melihat kedatangan keduanya, “Bawa dia ke luar dari rumah ini, dan jangan pernah biarin dia masuk ke dalam rumah saya.” Perintah Angkasa.

Lihat selengkapnya