Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #9

#Chapter 9: Lyrae Yang "Terusir"

Orion mencoba mencari-cari ingatannya tentang tante Luna dan Lyrae. Berharap menemukan satu kenangan yang bisa membuat Lyrae seakan menemukan sebuah kunci yang bisa membuka kotak ingatannya.

Tepat saat hujan turun, suara rintiknya mengingatkan Orion pada kejadian yang tidak terlupakan, saat Lyrae diusir dari rumah oleh Ibu kandungnya sendiri, ketika keduanya berusia 13 tahun.

“Siapa nama anaknya tante Luna?” tanya Lyrae, menyadarkan Orion dari lamunannya.

“Namanya, Li…” hampir saja Orion menyebutkan nama Lyrae, “Lilya” dengan cepat Orion mencoba mengarang dengan nama yang sedikit mirip dari Lyrae, untuk tetap pada arahan dokter Raga agar Lyrae tidak mengalami trauma karena mengingat terlalu banyak hal diwaktu besamaan.

“Waktu itu…”

***


7 Tahun lalu…

 Orion dan mamanya sedang berjalan menuju ke luar komplek, tepat saat melewati rumah keluarga Lyrae, Vega melihat Luna dibantu dengan asisten rumah tangganya, Bi Mira mengangkut barang-barang dari dalam rumah.

“Kamu lagi ngapain, Lun?” tanya Vega.

Dengan sedikit kaget, “Oh, ini aku lagi ngeluarin baju dan buku-buku Lyrae” jelas Luna dengan ekspresi menahan kesal.

“Kenapa? Sudah pada rusak?” tanya Vega.

“Enggak, mau aku usir anaknya.” Sambar Luna tidak sabar.

“Lho? Kenapa?” tanya Vega tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Sampai jam segini dia belum pulang, Vega.” Keluh Luna, “terus dia gak ada ngasih kabar. Ponselnya juga gak diangkat pas tadi diteleponin” Jelas Luna dengan jengkel, tepat saat menyadari keberadaan Orion, Luna mengalihkan pertanyaannya pada anak laki-laki itu. “Orion, kamu sekelas kan sama Lyrae?” tanya Luna.

Orion menganggukkan kepalanya. “Iya, tante” jawabnya polos.

“Kamu lihat gak Lyrae kemana?” ekspresi kesal yang tadi terlihat jelas, kini berubah menjadi khawatir.

Orion menggelengkan kepala, “aku gak tahu tante, soalnya tadi pas pulang, aku langsung pulang” jelas Orion.

“Coba tolongin tante yaa, tanyain ke teman-teman kamu.” Pinta Luna.

“Iya tante, nanti aku coba tanya di grup kelas. Kali aja ada yang lagi bareng Lyrae.” Ucap Orion. “Nanti kalau aku dapat kabar, aku hubungin tante yaa” tambah Orion berusaha menenangkan Luna.

“Terimakasih sayang” ucap Luna sembari mengelus kepala Orion.

“Yaudah, aku ke minimarket dulu ya Lun, semoga Lyrae baik-baik aja dan cepet pulang ke rumah” ucap Vega dengan penuh rasa simpati.

Orion dan Vega melanjutkan perjalanan, dengan segera dan dengan perasaan yang juga jadi ikut mengkhawatirkan Lyrae, Orion segera mengambil ponsel dari kantong celananya lalu langusng menanyakan keberadaan gadis itu di grup kelas.

“Guys, ada yang lagi bareng sama Lyrae. Bilang ke anaknya, cepetan balik dicariin nyokapnya”

Di minimarket, Vega tersenyum sendiri sambil mulai memasukan detergen dan beberapa cemilan ke dalam keranjang. Melihat hal tersebut, Orion yang merasa penasaran mendekati mamanya sambil membawa beberapa cemilan yang baru saja ia ambil dari rak makanan ringan. “Mama kenapa ketawa-ketawa sendirian gitu?”

“Gapapa, mama cuma lagi membayangkan ekspresi lucu wajah Lyrae pas dia lihat semua bajunya dan buku-bukunya di garasi.” Ucapnnya sambil menahan tawa.

Sambil menyipitkan mata kepada mamanya, “Kejam” seloroh Orion.

“Lyrae tuh ekspresif banget, mama selalu ketawa setiap kali lihat kelakuan dia” jelas Vega, sambil terus menahan agar tawanya tidak terdengar.

Drreettt...ddrreett…

Tidak lama kemudian, ponsel Orion bergetar, sebuah chat diterima, “Lyrae baru balik. Tadi nyelesaiin tugas kelompok dulu di sekloah. Kenapa memangnya?” Jawab salah seorang teman di satu kelasnya.

Selesai membaca pesan itu, Orion merasa lega. Dengan santai tanpa merasa berdosa, Orion membalas, “mau diusir sama nyokapnya, karena pulang telat gak ngabarin dan gak bisa dihubungin.”

Seketika ponsel Orion terus bergetar, menandakan pesan masuk silih berganti.

“Baterai ponselnya habis tadi.” diakhiri emot sedih, pesan dikirim dari salah seorang teman Lyrae.

“Serius? Fotoin dong. Lumayan buat berita mading nih”

“Foto? Video lah. Lebih mantep, wkwkwk”

“Judulnya, ‘peraih mendali emas Karate, melawan raja terakhir’ wkwkwkw”

“Plis banget, mau liat mukanya Lyrae pas diusir, kocak pasti”

“Live dong nanti. Laporan langsung dari TKP. Kita tunggu ya!”

Kira-kira itu pesan yang sempat terbaca oleh Orion. Sambil menghelah napas panjang Orion segera mematikan ponsel dan memasukkannya ke saku celana. Dengan cekatan ia lebih memilih membantu mamanya membawa barang-barang yang sudah dihitung kasir, daripada memberi balasan pesan kepada teman-teman satu kelasnya.

Saat perjalanan kembali ke rumah dari mini market, Vega dan Orion yang kembali melewati rumah keluarga Lyrae, mendapati keberadaan Lyrae dari kejauhan. Semakin mendekat, mereka melihat dengan lebih jelas Lyrae yang sedang terduduk di garasi mobil sambil melipat pakaiannya yang berserakan di lantai.

“Sayang” Panggil Vega, kepada Lyrae.

Lyrae menoleh kepada suara yang memanggil namanya. Air mata membasahi seluruh wajah Lyrae, dengan sesugukan Lyrae menjawab panggilan Vega dengan ekspresi sedih anak kecil yang hilang di tengah kerumunan, “Tante… aku diusir mama, tante…” rengeknya. “Aku gak punya rumah sekarang…” ucap Lyrae sambil berusaha mengatur napasnya. “Aku…a..a..aku.. anak terlantar sekarang, tante… wwhhuuaaa” ucapnya sambil sesugukan dengan air mata yang mengalir deras.

Melihat kejadian itu Orion hanya mengeritkan kening, seakan ia tidak menemukan kata yang tepat untuk menanggapi sikap Lyrae yang menurutnya terlalu berlebihan. Selesai mendengar rengekan Lyrae, Vega segera berbalik membelakangi Lyrae, yang berarti kini Vega berhadapan langsung dengan anaknya, Orion.

Lihat selengkapnya