Galaksi keluar dari sebuah restoran sambil membawa beberapa kantong belanjaan, langkahnya terhenti tepat ketika ia mendapati bayangan dari sosok yang tidak asing baginya. Tanpa berpikir panjang Galaksi mendekat ke seorang pria yang terlihat seumuran dengannya. Penampilan yang cukup gagah dengan tubuh tegap dan rambut yang sebagian besarnya juga masih berwarna hitam. “Angkasa?” ucap Galaksi sambil menyentuh bahunya.
Angkasa terhentak kaget, ia memandang lekat sesosok pria yang kira-kira seumuran dengannya. Hanya dengan sekali melihat, Angkasa jelas tahu siapa yang saat ini sedang ada di hadapannya. Dengan tatapan menyesali pertemuan tersebut Angkasa mencoba tersenyum seperlunya.
“Kamu apa kabar? Luna sama Lyrae gimana kabarnya?” tanya Galaksi penuh semangat.
“Aku ada janji sama klien, sudah dulu ya” ucap Angkasa yang berlalu meninggalkan Galaksi. Dengan senyum seadanya, Galaksi yang nampak bingung mencoba memahami keadaan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di ruang VIP sebuah restorant…
Raga duduk dengan tenang.menunggu seseorang yang sejujurnya tidak ingin ia temui.
Ckrek…
Pintu terbuka dengan perlahan, seorang pelayan masuk, diikuti oleh langkah seorang pria dibelakangnya. Setelah menyelesaikan tugasnya untuk mengantar tamu yang sedaritadi di tunggu, pelayan keluar dan kembali menutup pintu dengan perlahan.
Angkasa berdiri tepat dihadapan Raga. Keduanya saling menatap tajam.
“Mau sampai kapan kamu berdiri?” tanya Raga, seakan menunjukkan kalau pertemuan mereka akan berlangsung lama.
Angkasa menarik bangku yang berada tepat dihadapan Raga. “Langsung saja, harus segera pulang” ucap Angkasa.
Senyum sinis terukir di wajah Raga, “untuk apa? Menghilangkan ingatan seseorang?” sindir Raga.
Angkasa menarik napas panjang, ia berusaha mengontrol emosinya.
“Lima tahun lalu, saat kita bertengkar di kamar Lyrae…” ucapan Raga terhenti sejenak, berharap apa yang sempat ia pikirkan adalah sebuah kesalahan, “saya melihat Bi Mira membawa kardus berisi barang-barang Lyrae. Saya ingat dengan jelas benda-benda apa saja yang ada di kotak itu.”
“Terus?” tanya Angkasa tidak sabar.
“Jangka, penggaris besi, cutter, gulungan pita, gunting, silet, dan jarum.” Raga kembali menjelaskan. Saat mendengar hal tersebut Angkasa terlihat tidak nyaman mendengar ucapan Raga. “Apa yang terjadi dengan Lyrae saat itu?”
“Kamu terlambat 5 tahun untuk baru menanyakan hal itu.” Tatapan dingin Angkasa tertuju pada Raga, “Saya rasa ini pembicaraan yang tidak penting.” Ucap Angkasa yang bergegas berdiri. Tapi, belum sempat ia merubah posisi sepenuhnya,
“Jika seperti ini terus, Lyrae bisa seprti penderita dimensia.”
Angkasa terpaku, ia berharap Raga menjelaskan lebih jauh tentang apa yang baru saja ia ucapkan, tanpa memintanya. “Apa kamu mau Lyrae bukan hanya melupakan Mamanya. Tapi, ia juga akan lupa dimana ia menaruh barang, yang mungkin sedang ia pegang saat itu, atau ia lupa apa ia sudah makan, padahal ia sedang mengunyah makanan, atau ia lupa bagaimana caranya membersihkan diri setelah selesai buang air.” Jelas Raga.
“Omong kosong.” Ucap Angkasa, yang diam-diam berharap ucapan Raga tidak akan pernah terjadi.
“Darimana kamu mempelajari hal itu?” tanya Raga.
“Bukan urusan kamu” tandas Angkasa.
“Bagaimana bisa kamu terlihat tenang seperti sekarang?” Tanya Raga dengan tatapan kecewa. “Saya bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah melihat kondisi Lyrae kemarin.”
Angkasa berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang sama dengan Raga.
“Dari seorang pencopet di halte” jawab Angkasa seadanya.
Seketika Raga mengernyitkan keningnya, “seorang pencopet?” ulang Raga, yang dijawab anggukkan oleh Angkasa.
Angkasa termenung, tatapannya menerawang ke masa lalu, “Saat itu…”
***