Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #11

#Chapter 11: Kenangan Yang Mulai Menemukan Arah

Lyrae duduk di tepi tempat tidur sambil memegang buku yang diberikan Orion padanya. “Kenapa Orion menyuruh aku menulis buku ini tanpa sepengetahuan Papa?” belum selesai dengan satu pertanyaan itu, seketika muncul banyak pertanyaan baru, “Kenapa Papa juga gak boleh tahu tentang buku ini? Terus ponsel ini? Kenapa Orion menyuruh aku aku tetap memegang ponselnya dia? Nanti kalau tante sama om tanya gimana?...” selorohnya yang dipenuhi kebingungan sambil memegang ponsel milik Orion yang ada di genggaman tangan kirinya. Pandangan Lyrae kini kembali pada buku pemberian Orion yang ada di genggaman tangan kanannya. “Terus harus mulai tulis dari mana? Malah lima halaman lagi.” Rengeknya sambil merebahkan diri di tempat tidur.

Tidak mau menghabiskan banyak waktu Lyrae segera bangkit dan berpindah ke meja belajarnya, dengan segera ia duduk dan mulai menulis di buku yang Orion berikan. Lyrae mulai menceritakan kegiatannya dari pagi, dimulai dari dirinya yang bangun kesiangan dan terlambat bertemu dengan Orion, lalu ke makam seorang kenalan Orion yang bernama Luna Aurora. Tepat saat menuliskan kejadian di makam, Lyrae terdiam sesaat. Ada sebuah perasaan yang yang tidak bisa dijelaskan, pikirannya terus menerus memperlihatkan potongan-potongan ingatan tentang seorang wanita. Lyrae memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.

Seorang wanita yang selalu muncul dalam mimpinya, kini menjelma sosok yang nyata dalam ingatan Lyrae, potongan-potongan ingatan itu memperlihatkan bagaimana wanita tersebut tersenyum di setiap situasi.

Lyrae menarik napas panjang, mencoba mengatur napasnya. Setelah merasa lebih baik dan mulai bisa kembali fokus, dengan susah payah, Lyrae kembali menggerakkan penanya, ia melanjutkan cerita yang sedang ditulisnya. Huruf demi huruf mulai membentuk kata kembali, lalu merangkai kalimat dari apa-apa saja yang ia simpan dalam ingatannya di hari ini.

Terasa ada yang janggal ketika air mata Lyrae deras berjatuhan tepat saat ia sedang menulis cerita tentang Lilya dan Mamanya. Perasaan Iri dan sedih bercampur menjadi satu. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga ingin tahu bagaimana rasanya dicintai oleh seorang ibu.

Kini, entah bagaimana caranya kata rindu menerjang hati tanpa aba-aba, lalu menawan ribuan kenangan di ruang hampa tanpa instruksi untuk menyelamatkan jiwa yang kian membiru. Sesak yang di rasakan Lyrae saat ini terasa nyata, dengan terburu-buru ia berusaha menghirup oksigen tapi anehnya paru-paru Lyrae seakan menolak asupan oksigen yang dibutuhkan. Mulai kehabisan tenaga karena kurangnya oksigen, Lyrae mencoba berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi, tak ada satu huruf pun keluar dari mulutnya.

GABRUK…

Lyrae terjatu dari kursinya, ia tergeletak di lantai dan mulai tidak sadarkan diri tepat saat bi Mira masuk sambil membawakan vitamin untuk Lyrae minum.

“Non Lyrae!!” teriak bi Mira panik yang langsung melepaskan seluruh bawaannya cepat-cepat ia menghampiri Lyrae.

“Non… Non… bangun non” Bi Mira mencoba menampar pelan wajah Lyrae untuk menyadarkannya. “Pak Tono!!!... Pak Tono!!!” Bi Mira berteriak kencang meminta pertolongan.

Suara orang berlari kencang terdengar, hanya saja yang memenuhi panggilan bi Mira bukan hanya pak Tono melainkan juga Angkasa.

Angkasa yang melihat putrinya tergeletak di lantai sgera berlari panik ke arah Lyrae. Bi Mira berdiri memberikan ruang agar tuan-nya mengambil tindakan yang terbaik untuk putrinya. Tepat saat bi Mira berdiri ia melihat buku yang terbuka di meja belajar Lyrae, melihat ada nama Luna tertulis di buku tersebut, bi Mira segera mengambil buku tersebut dan menembunyikannya di balik baju.

Sedangkan Angkasa yang dibantu oleh pak Tono segera bergegas membawa Lyrae ke rumah sakit.

Saat tidak sadarkan diri, Lyrae melihat ada sebuah cahaya putih yang teramat menyilaukan matanya bahkan ketika ia tahu betul bahwa saat ini matanya sedang terpejam. Samar-samar cahaya itu meredup, dan memperlihatkan sesosok bayangan seorang wanita yang tidak asing baginya.

"Aahh, aku bermimpi lagi kah? Kenapa selalu saja ada dirinya di setiap mimpiku?” ucap Lyrae membatin. Tapi anehnya, ada perasaan senang didalam hati Lyrae.

***

 

Dalam ke tidak sadaran Lyrae…

Bayangan seorang wanita berambut hitam panjang yang bergelombang semakin lama terlihat semakin nyata. Wajahnya terlihat khawatir seakan menunggu Lyrae untuk tersadar.

Dengan perlahan Lyrae membuka ke dua matanya.

“Sudah bangun?” tanya Luna sambil tersenyum.

Lyrae menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kepada siapa wanita dihadapannya ini sedang bicara.

“Tante bicara sama aku?” tanya Lyrae memastikan. Diam-diam Lyrae menatap kagum pada kecantikan wanita dihadapannya. Ia terlihat lebih cantik dari biasanya, mungkin karena kali ini ia mengenakan gaun berwarna putih panjang, atau karena ini pertama kalinya ia melihat wanita tersebut dari jarak sedekat ini?.

Luna menganggukan kepalanya. “Memang ada siapa lagi di sini?” dengan suara yang lembut Luna bertanya kembali, sambil tersenyum.

Lihat selengkapnya