Orion berjalan cepat dengan langkah yang terburu-buru, ia bertanya kepada beberapa perawat yang sedang sibuk menangani pasien tentang keberadaan dokter Raga, sayangnya tidak ada yang tahu. Mendapati hal itu, Orion menyerah untuk menemukan Raga di rumah sakit. Langkahnya yang tadi terburu-buru seketika melamban, dibebani rasa khawatir pada sesosok gadis yang bahkan tak bisa ia temui saat ini.
Dengan langkah putus asa Orion berjalan menuju parkiran. “Bagaimana jika saat ia tersadar, hal pertama yang ia ingat justru tentang kejadian itu?” pikiran Orion semakin dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ia takutkan.
“Kamu mau kemana?” ucap seseorang dari arah belakang sambil memegang bahu Orion.
Orion berbalik, ia tahu betul suara siapa itu. Tepat saat melihat sesosok yang dari tadi ia cari untuk dimintai pertanggungjawaban, “kenapa dokter gak bisa di hubungin?” Orion meremas bahu Raga dengan wajah yang tertunduk.
“ooh, itu kerena…” penjelasan Raga terpotong ketika ia melihat Orion menatapnya dengan air mata yang tertahan.
“Lyrae masuk rumah sakit, dok” sepatah kata dengan nada suara yang menyiratkan ribuan kekhawatiran terucap oleh Orion.
“Maksud kamu.”
“Lyrae masuk rumah sakit, kata bi Mira dia pingsan saat menulis jurnalnya. Kenapa dok??” Orion makin kencang mencekram bahu Raga, sambil mengatur perasaannya “kenapa harus dimulai dari makam tante Luna?”.
Raga mencoba memahami perasaan Orion, dengan sabar ia mengatakan, “tenang lah, dia pasti baik-baik saja.” Sambil menepuk-nepuk pelan bahu Orion, Raga mencoba menenangkan.
“Baik-baik saja” Orion mengulangi ucapan Raga yang terdengar tenang.
Padahal tanpa sepengetahuannya, Raga menyembunyikan seluruh kekhawatiran yang ia rasakan agar tidak ada yang tahu.
Orion menepis tangan Raga, seakan hal itu sama sekali tidak bisa menenangkan dirinya. “Bagaimana jika Lyrae terbangun dengan mengingat yang tidak seharusnya? Apa dokter bisa bertanggungjawab?!!” Orion mulai kehilangan kendali
Raga yang juga kalut dengan berbagai hal di pikirannya menatap tajam Orion, “saya akan bertanggungjawab terhadap kondisi Lyrae. Tapi, saya gak bisa bertanggungjawab sama kesalah pahaman yang pernah terjadi antara kamu dan Lyrae.” Ucap Raga, yang seketika membuat Orion terdiam, seakan kata-kata tersebut menjelma tamparan kencang yang menyadarkannya. “dari pembicaraan kita di mobil saat itu, saya bisa menangkap, ada kesalah pahaman yang terjadi antara kamu dan Lyrae.” jelas Raga, “Lalu saat kamu menyadari hal itu, kamu juga menjadikan keadaan ini untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Lyrae, benar kan?” tatapan dingin Raga seakan menunggu jawaban dari Orion.
Sayangnya, Orion hanya bisa terdiam sambil tertunduk, bahkan untuk menyanggah ucapan Raga, ia sama sekali tidak memiliki nyali untuk memenangkan ego dengan bantuan kebohongan.
“Kalau kamu mau membantu Lyrae…” Raga mencoba mengelola emosinya sebaik mungkin. Dengan perlahan ia mengatur napasnya, “lebih baik sekarang kamu pulang ke rumah, tenangkan diri kamu, dan pelajari kondisi Lyrae, lalu berikan laporannya ke saya, besok.” Ucap Raga sebelum meninggalkan Orion.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di ruang rawat inap…
Bi Mira menatap Lyrae dengan tatapan sedih, perlahan bi Mira melangkah mendekat lalu menggenggam tangan Lyrae. “Non, cepet sehat ya, Bibi kangen sama non Lyrae yang dulu.” Ucapnya sembari mengingat-ingat bagaimana periangnya gadis itu semasa mama-nya masih hidup.
Kreek…
Pintu terbuka, angkasa yang melihat keberadaan bi Mira, “Bibi ke sini?” tanya Angkasa.
Mencoba menyembunyikan kesedihannya, bi Mira mencoba tersenyum, “iya pak. Saya bawa titipan bapak.” Ucap bi Mira memberikan tas berisi pakaian Lyrae.
“Oooh, iya terimakasih, bi.” Angkasa mengambil tas tersebut lalu menaruhnya di dalam lemari.
Melihat bi Mira menatap Lyrae dengan tatapan sedih, Angkasa mencoba menghibur, “Kata dokter dia baik-baik aja, cuma tekanan darahnya memang agak rendah kemarin, makanya pingsan. Besok palingan dia udah bisa pulang.
“Terus kenapa non Lyrae masih belum bangun pak?” bibi bertanya dengan nada suara yang dipenuhi kekhawatiran.
“Dikasih obat sama dokter biar bisa istirahat dulu, bi. Sekarang bibi pulang dan bantu doa dari rumah aja ya. Di rumah sakit banyak virus, nanti malah kita serumah pada sakit lagi” Ucap Angkasa.
Bi Mira mengikuti perintah tuannya. “Saya pamit pulang ya pak” ucap bi Mira.
Tepat saat bi Mira menutup pintu kamar, tangisnya tak lagi bisa di bendung. Hatinya kalut ia takut jika tuannya melakukan hal yang dulu pernah ia lihat dan mengakibatkan Lyrae hidup menjadi orang yang berbeda, seperti manusia yang kehilangan cahayanya. Padahal, baru saja ia merasa cahaya itu telah kembali. Ia hanya menyayangkan jika cahaya itu harus kembali padam hanya karena rapalan mantra yang menyesatkan.