Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #13

#Chapter 13: Aroma Dan Kenangan

Sambil menyemprotkan parfum, Vega menatap bayangan dirinya di cermin. Galaksi masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya termenung dengan tatapan sedih. Seorang wanita yang suka sekali tertawa, semenjak pembicaraan mereka dengan Orion, sering kali ia dapati istrinya terdiam dengan tatapan yang dipenuhi kesedihan.

Dengan langkah hati-hati Galaksi berjalan mendekat ke arah di mana istrinya sedang temenung. “Tumben kamu pakai parfum ini, jadi inget waktu kita ngedate pertama kali” selorohnya mencoba membuat istrinya melupakan sesuatu yang mengganggu seisi hatinya.

“Kamu tutup odol sehabis dipakai aja suka lupa, bisa-bisanya inget parfum yang aku pakai saat first date kita.” Vega tersenyum kecil, saat kenangan masa lalu membawa kebenaran bahwa apa yang dikatakan suaminya tentang parfum yang ia pakai saat ini, sama dengan parfum saat kencan pertama mereka, memang benar.

“Yang ada dalam ingatan kamu tentang aku tuh, hanya hal-hal semacam itu aja ya?” keluh Galaksi. “Jangan salah ya, kadang kenangan itu gak cuma tersimpan di kepala” Galaksi menunjuk ke arah kepalanya sendiri, “tapi juga di seluruh panca indra” jelas Galaksi dengan lembut sambil membelai wajah Vega yang menatapnya dalam.

Mendengar penjelasan suaminya, Vega berpikir keras, ada sesuatu yang menjelma secercah harapan. Mata yang sendu kini berbinar terang, seketika membuat Galaksi bingung saat mendapatinya.

“Sayangg!!! Kamu tahu?? Kamu itu pinter banget!!” Ucap Vega sambil mengguncang-guncangkan tubuh suaminya, “Kamu tahu?? Aku cinta banget sama kamu!!” tegasnya dengan penuh semangat sambil mencubit pipi suaminya, sebelum akhirnya ia membuka lemari parfumnya dan dengan perlahan memastikan sesuatu sebelum akhirnya mengambil salah satu parfum dan berlari keluar dari kamarnya, meninggalkan Galaksi yang kebingungan melihat tingkah istrinya.

Dengan langkah setengah berlari Vega mulai menaiki anak tangga, saking bersemangatnya ia sampai lupa mengetuk pintu di hadapannya sebelum pintu itu ia buka.

Tepat saat pintu terbuka ia dapati Orion terduduk di kasurnya dengan atapan kosong. Berkas dokumen yang berserakan di tempat tidurnya membuat Vega merasa semakin khawatir. Ia tahu betul bahwa putranya memiliki karakter yang sangat rapih dan terstruktur, jadi melihat hal janggal itu, jelas kekhawatiran Vega bertambah besar.

Kini Orion bahkan tidak bereaksi apapun saat mendapati mamanya sudah memasuki kamar.

Semangat yang tadi berkobar di hati Vega seketika padam saat melihat Orion yang wajahnya pucat. “Kamu kenapa sayang? Kamu baik-baik aja?” tanya Vega dengan ekspresi wajah khawatir.

Orion menggelengkan kepalanya dengan lemas, “Bagaimana bisa aku baik-baik saja saat mengetahui ini” ucap orion sambil memperlihatkan tiket keberangkatannya ke Singapore lima tahun lalu.

Vega mengambil lembar tiket lima tahun lalu sambil memberikan ekspresi wajah penuh tanya.

“Tante luna meninggal tepat di tanggal itu.” Ucap Orion.

Vega terdiam, ia mencoba memahami kesedihan yang dirasakan Orion.

“Jelaskan ke aku bagaimana caranya bisa mendapatkan maaf Lyrae, ma?” air mata Orion mulai menetes. “siang itu aku memperlakukannya dengan buruk, dan malamnya ia harus kehilangan mamanya” suara Orion terdengan pilu, “Aku jahat banget sama dia, ma.” Air mata Orion tak lagi tertahan.

Pelukan segera Vega beri untuk menenangkan perasaan anaknya. Dengan pelan dan penuh kehati-hatian, Vega mencoba memberikan ide yang sempat ia dapatkan tadi.

“Menurut kamu, mana yang lebih penting… membantu Lyrae mendapatkan kembali ingatan tentang Mamanya atau, menghadapi ketakutan kamu jika Lyrae mengingat hal buruk yang kamu lakukan kepada dia?”

Pertanyaan mamanya membuat Orion tersadarkan. Bagaimana bisa ia bersikap sejahat dan seegois itu? Ia lupa hal paling penting yang harus ia lakukan, adalah mengembalikan ingatan berharga Lyrae tentang mamanya.

“Membuat Lyrae mendapatkan kembali kenangan tentang mamanya.” Ucap Orion berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

Vega menatap tenang kepada Orion, “kamu pasti sangat menyukai gadis itu ya?” tanya Vega sambil tersenyum. Orion menatap mamanya dengan tatapan tidak mengerti, “gapapa, mama juga suka banget sama gadis itu” selorohnya tanpa menunggu jawaban apapun dari Orion.

“Mama mau ketemu sama Lyrae.” ucap Vega tiba-tiba.

“Ha?” Orion memberikan ekspresi wajah kebingungan.

“Ini, parfum tante Luna.” Vega memperlihatkan parfum yang ia bawa dari kamarnya.

“Kalau ingatan Lyrae gak juga mau kembali pada pemiliknya, ayo kita buat ingatan itu datang sendiri kepada pemiliknya!” dengan senyum percaya diri Vega menatap Orion.

“Maksud mama?” Orion mencoba memastikan.

“Kenangan itu bisa muncul dari seluruh panca indra, termasuk indra penciuman! Jadi…”

“Kayaknya itu ucapan papa tadi” ucap Galaksi sambil memasuki kamar anaknya.

Vega dan Orion menoleh ke arah Galaksi, “Nah, mama dapet ide ini dari papa kamu” Vega mencoba menambahkan, “jadi, ayo kita bekerja sama untuk mendapatkan kembali ingatan Lyrae tentang mamanya.” Ucap Vega.

“Bekerja sama?” Orion terdiam sesaat dengan wajah ragu.

Vega menatap Orion dengan sendu, “Mama harap, jika suatu saat nanti mama udah gak ada, kamu tetap bisa mengingat mama dengan baik, bahkan terhadap hal kecil tentang mama.” Senyum getir terlihat jelas diwajah Vega. “Mama gak bisa membayangkan sesedih apa Luna, jika tahu kalau anak yang paling dicintainya bisa mengingat banyak hal kecuali apapun tentang dirinya.” Vega seolah bisa turut merasa kesedihan teman dekatnya itu.

Sambil merangkul istrinya, “Papa juga akan bantu apapun yang kamu butuhkan.” Ucap Galaksi pada Orion.

Orion yang sempat putus asa dan dilanda kekhawatiran yang bahkan belum terjadi, kini merasa kembali memiliki harapan. Paling tidak untuk membuat Lyrae mendapatkan kembali kenangan tentang mamanya.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lihat selengkapnya