Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #14

#Chapter 14: Rencana Di Tengah Kejutan

Secangkir kopi tersaji, mencoba mencairkan suasana yang dingin diantara teman lama yang kembali bertemu.

“Saya tidak bisa membantu apapun jika kamu tidak mencoba menjelaskan.” Ucap Galaksi mencoba menyudahi keheningan.

Angkasa hanya terdiam, keraguan terpancar jelas di matanya, ada banyak hal yang membuat Galaksi penasaran. Tapi dengan profesinya, ia tahu betul ketenangan adalah kunci untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan saat ini.

“Saat Raga meminta saya untuk bertemu dengan seseorang yang memiliki ketertarikan dengan hipnoterapi, saya pikir kamu anak muda yang sedang mengeksplor diri.” Galaksi berusaha menenangkan Angkasa. “Jadi, apa yang bisa aku bantu dan apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Galaksi.

Angkasa meminum kopinya seperti ia sedang meminum air mineral, lalu terdiam sejenak.

“Saya hanya butuh penjelasan sederhana. Bisa menjawab pertanyaan saya dengan penjelasan yang sederhana?” tanya Angkasa tergas.

“Tentu, akan saya upayakan untuk memberi penjelasan sesederhana mungkin?” Galaksi tersenyum tenang.

Pertemanan yang dulu hangat dimana keduanya akan dipenuhi tawa setiap kali kedua keluarga mereka berkumpul kini berubah 180 derajat. Galaksi jelas menangkap perubahan sikap Angkasa.

“Apa yang akan terjadi jika hipnotis gagal?”

“Hipnotis? Gagal?” Galaksi mengulangi kembali pertanyaa yang baru saja ia dengar. “Dalam kasus yang sederhana, tidak akan terjadi apa-apa. Itu berarti apa yang coba ditanamkan di alam bawah sadar orang tersebut juga tidak berhasil.”

“Lalu pada kasus yang lebih serius? Apa yang akan terjadi?” tanya Angkasa tidak sabar.

“Sebelum seorang terapis melakukan hipnoterapi kepada pasien, ia harus lebih dulu memahami karakter pasien tersebut. Singkatnya jika pasien memiliki karakter yang sangat perasa maka terapis juga harus berhati-hati memilih kata yang ia gunakan saat melakukan hipnoterapi.”

“Berikan saya contoh” ucap Angkasa terburu-buru.

“Bayangkan jika seseorang yang memiliki karakter perasa, mengdengar kalimat ‘selami lebih dalam… lebih dalam dan lebih dalam lagi’ saat berada di sesi hipnoterapi. Apa yang mungkin terjadi?” tanya Galaksi.

Angkasa terdiam dan menatap tajam pada Galaksi.

“Dia bisa saja mati karena kehabisan oksigen karena alam bawah sadarnya menangkap ia sedang menyelam lebih dalam dan semakin dalam. Padahal saat itu terapis berniat supaya pasien memasuki kondisi yang rileks untuk memasukkan sugesti yang dibutuhkan.” Jelas Galaksi.

Angkasa mulai mengingat-ngingat apa saja kalimat yang ia pergunakan saat menghipnotis Lyrae.

“Apa yang terjadi jika seorang terapis menghilangkan satu tokoh dalam ingatan seorang pasien?” Angkasa terlihat tidak nyaman dengan ucapannya sendiri.

Pertanyaan tersebut seakan menjadi benang merah, seketika Galaksi mengingat penjelasan Orion tentang kondisi Lyrae yang tidak mengingat apapun tentang mamanya. Mendapati hal tersebut, Galaksi berusaha keras untuk tetap terlihat tenang dan bersikap professional.

Galaksi berpikir dengan hati-hati ia tahu betul apapun jawabannya akan berdampak sangat besar. Galaksi menarik napas panjang, “Jika tokoh yang kita bicarakan hanya orang baru yang memasuki kehidupan pasien, mungkin tidak akan terlalu beresiko. Tapi jika tokoh yang kita bicarakan adalah tokoh inti dan penting di kehidupan pasien, itu akan sangat berbahaya” Galaksi meminum kopinya, “tokoh inti yang saya maksudkan adalah tokoh yang berperan aktif dan penting di sepanjang hidup pasien.” Tambah Galaksi.

Angkasa terdiam, ia mulai merasa ragu tapi ia mencoba membenarkan tindakannya kembali, “Tapi bagaimana jika dengan mengingat tokoh tersebut, pasien akan merasa sangat menderita bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya?”

“mengakhiri hidupnya?” Galaksi jelas kaget mendengar pertanyaan Angkasa. “Apa boleh jika kamu menjelaskan semuanya dengan detail? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Galaksi.

“Jawab saja pertanyaan saya.” Angkasa terlihat tidak sabar.

“Kamu ingin mendapat penjelasan yang detail dengan terburu-buru sekali. Apa kamu tahu seberapa berbahaya menyimpulkan sesuatu dengan terburu-buru?” keluh Galaksi tidak menunggu jawaban. “Tapi, saya tetap tidak akan merekomendasikan menghilangkan tokoh dalam ingatan seseorang. Sebenarnya kasus siapa yang saat ini sedang kita bicarakan?” tanya Galaksi kembali.

“Lupakan.” Ucap Angkasa yang lalu berdiri “Terimakasih untuk waktu dan penjelasannya.” Angkasa berbalik, langkahnya menuju ke arah pintu. Tepat saat tangannya menggenggam gagang pintu…

“Saat jari tangan kamu terluka, apa kamu memotong seluruh lengan kamu, hanya untuk menyembuhkannya?” tanya Galaksi.

Angkasa tertegun, lalu ia menoleh ke arah Galaksi.

“Jika kamu mau belajar lebih dalam tentang hipnoterapi, besok siang saya akan mengadakan seminar. Kamu bebas untuk datang” Galaksi menawarkan dengan tenang pada Angkasa.

“Terimakasih” ucapnya yang lalu keluar dari ruang kerja Galaksi tanpa menoleh kembali.

 

Matahari Pagi bersinar, sebuah mobil terparkir di dekat taman…

Sebagian orang bersiap menjalankan harinya dan sebagiannya lagi bersiap menjalankan rencananya. Orion duduk dengan tenang, tapi tidak dengan seseorang yang sedang duduk di sebelahnya.

“Ma, mama harus banget ikut?” tanya Orion pada Vega.

“Iya dong! Kamu gak inget rencana yang kemarin malam sudah kita persiapkan dengan matang?” tanya Vega dengan ekspresi serius, mencoba mengingatkan kejadian saat makan malam kemarin…

Lihat selengkapnya