Angkasa berlari kencang masuki rumahnya, “Bi?? Lyrae??!!” teriak Angkasa memanggil keduanya. Meskipun tak ada jawaban, langkahnya tetap dengan cepat menuju kamar Lyrae. dengan cepat Angkasa membuka ponsel untuk menghubungi Bi Mira, tapi saat ia dapati pesan dari bi Mira bahwa Lyrae sudah di bawa ke rumah sakit, Angkasa merasa cukup tenang karena berarti Lyrae sudah di tangani dokter.
Angkasa terduduk di kasur Lyrae untuk beristirahat sejenak. Merasa menduduki sesuatu, Angkasa segera bangkit untuk melihat benda apa yang baru saja ia duduki. Tepat saat ia menggeser selimut untuk mendapati benda apa yang membuat duduknya tidak nyaman, “buku?” tanpa pikir panjang Angkasa mulai membuka buku tersebut. Membaca setiap huruf tulisan Lyrae. Seketika amarah memenuhi seisi hati Angkasa.
Angkasa membanting buku tersebut dengan penuh amarah. “pasti karena ini?!” Angkasa mulai mencari-cari benang merah kenapa kondisi Lyrae menjadi memburuk beberapa waktu ini. Dan mulai menyalahkan Orion yang membuat Lyrae bisa mengingat mamanya kembali.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di rumah sakit, Orion terduduk diam…
Vega, menghampiri Bi Mira yang tidak berhenti menangis, dengan lembut Vega memeluk bi Mira. “Bi, bibi balik aja ke rumah sekarang, kan Lyrae sudah ditangani dokter. Lagipula disini juga ada saya dan Orion.”
“Bawa ini, dan tolong taro di kamar Lyrae ya, bi” ucap Vega sambil memberikan bingkisan ang sedaritadi memang ia siapkan untuk Lyrae. Bi Mira mengambil bingkisan tersebut dan menyetujui ucapan Vega untuk kembali pulang ke rumah.
Setelah berpamitan dengan Vega dan Orion, Bi Mira melangka pergi, tapi belum jauh langkah bi Mira, dari kejauhan suara derap langkah kaki yang berlari kencang terdengar. Dengan napas yang terengah-engah Angkasa memegang bahu bi Mira, “Bi, Lyrae di mana?” tanya Angkasa.
“Non Lyrae masih dalam pemeriksaan, pak.” Ucap bi Mira.
Angkasa menarik napas panjang dengan ekspresi gelisah, sampai tepat saat matanya mendapati seorang pria yang terlihat tidak asing baginya, dengan canggung Orion berusaha tersenyum pada Angkasa, tapi bukannya membalas senyuman Orion, Angksa langsung menarik kerah baju Orion dan melayangkan pukulan ke wajah Orion.
“Gara-gara kamu!!! Kamu tahu gimana susah payahnya saya jagain anak saya!!” Angkasa yang tidak kuasa menahan amarahnya berulang kali melayangkan pukulan ke wajah Orion sebelum security datang untuk memisahkan keduanya.
“Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama anak saya, KE NERAKA PUN SAYA CARI KAMU!!” Suara Angkasa terdengar kencang memenuhi lorong, hanya demi kata-katanya terdengar Orion yang dibawa petugas untuk keluar agar suasana bisa tenang.
Tepat saat suasana tenang dan petugas pergi, Vega melangkah pelan ke hadapan Angkasa.
Angkasa menatap Vega, tanpa aba-aba…
Plak!!
Suara tamparan terdengar, “Itu untuk luka seorang ibu, yang dipaksa hilang dari ingatan anaknya” Mata Vega terlihat basah.
Angkasa terdiam.
Plak!!
Suara tamparan terdengar kembali. “Dan itu, untuk gadis malang yang ada di dalam sana” Ucap Vega sambil menunjuk ke arah kamar dimana Lyrae berada. “Gadis malang yang harus kehilangan sosok ibu dalam ingatannya karena dirampas paksa oleh ayahnya.” Vega menatap tajam Angkasa dengan air mata yang tidak lagi bisa dibendung, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Angkasa yang masih terpaku.
Dengan langkah gontai, Angkasa masuk ke dalam ruang rawat Lyrae, air matanya tidak bisa berhenti. Tamparan Vega seketika mengingatkan dirinya dengan kata-kata yang diucapkan Luna.
“Ayo kita menciptakan banyak kenangan indah. Kenangan yang bisa mengobati luka yang disebabkan rindu, ketika kita mengingatnya.”
Suara Luna terus menggema di seisi kepala Angkasa. Kini air mata terus mengalir membasahi seluruh wajah Angkasa.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Angin sepoi-sepoi membasuh wajah Lyrae…
Lyrae membuka kedua matanya, senyum tersungging jelas ketika ia mendapati bahwa saat ini ia berada kembali di tempat yang paling ingin ia lihat kembali hanya dengan mencium aroma wewangian dari bunga Lily dan birunya langit yang indah. Dengan segera ia bangun dan berdiri, melihat ke segala arah hanya untuk menemukan seseorang.
“Kamu mencari siapa?” tanya Luna.
Lyrae menoleh ke asal suara, tepat di belakangnya. Senyum Lyrae merekah saat mendapati seseorang yang ia cari sekarang ada dihadapannya.
Luna tersenyum lembut. Lyrae menatap Luna dengan tatapan malu-malu. Jauh dilubuk hatinya, ia berharap adegan yang sempat tertunda waktu itu bisa terulang kembali. Sebuah adegan di mana Luna membentangkan tangannya sebagai isyarat sebuah pelukan hangat siap diberikan.
“Ada bunga lily yang baru tumbuh, apa kamu mau lihat?” tanya Luna.
Sejujurnya, bukan itu kata yang ingin didengar Lyrae, tapi melihat bunga lily yang baru tumbuh juga tidak buruk. Lyrae tersenyum menerima tawaran Luna. Langkah kaki Luna cepat berlalu, seolah ia juga tidak sabar untuk menunjukkannya kepada Lyrae.
Lyrae yang mengikuti langkah kaki Luna melihat kesegala arah, mencari-cari mana bunga yang ingin sekali diperlihatkan kepada dirinya.
“Bunganya ada di mana tante? Kayaknya sama aja kayak yang kemarin aku lihat.” seloroh Lyrae, “Spider lily, Easter lily, Peace lily” ucap Lyrae sambil terus berjalan pelan dan memperhatikan sekitar.
“Di sini.” Luna menghentikan langkahnya.
Lyrae melihat tanaman yang dimaksud Luna, dengan seksama “Hmmm” Lyrae mengernyitkan kening sambil terus berpikir ketika melihatnya. Tanaman yang terlihat seperti semak dengan daun yang agak lebar dan memanjang, di hiasi bunga berwarna putih yang sedikit menyerupai lonceng kecil yang menggantung di sepanjang ujung tangkainya yang berwarna hijau.