Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #17

#Chapter 17: Kenangan Yang Kembali Pada Pemiliknya

Lyrae membuka kedua matanya, hal pertama yang terdengar dari ruangan itu adalah suara tangis histeris yang terdengar membawa pilu bagi siapapun yang bisa mendengarnya. Tidak lama beberapa suster masuk ke ruang rawat Lyrae.

Para suster mencoba menenangkan, “Lyrae, apa ada yang sakit?” dengan nada suara tenang salah seorang suster mencoba bertanya.

Tidak ada jawaban kecuali suara tangis yang makin lirih. Saat mendapati kondisi Lyrae yang semakin tidak bisa mengontrol dirinya, seorang dokter datang untuk langsung memberikan arahan pada suster agar segera menyuntikan obat penenang. Beberapa menit kemudian Lyrae terlihat lebih tenang dan mulai tertidur kembali.

Dokter tersebut menoleh ke satu sudut dimana Raga berdiri disana.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Angkasa duduk terdiam dihadapan Raga…

  “Jadi apa alasan kamu memindahkan Lyrae ke rumah sakit ini?” Tanya Raga tidak mau basa-basi.

“Karena ada kamu.” Jawaban singkat Angkasa membuat Raga menatap tajam padanya.

  “Kenapa baru sekarang?” tanya Raga.

Angkasa terdiam, tapi air matanya mulai menetes. Tatapan Raga menangkap kesedihan dan keputus asaan dari cara Angkasa terdiam dan menahan air matanya.

 “Apapun alasannya, terimakasih karena mengizinkan saya, menebus kesalahan saya dimasa lalu karena terlalu takut mengambil tindakan. Untuk kali ini, saya sendiri yang akan menangani Lyrae.” ucap Raga dengan sungguh-sungguh.

 Angkasa tersenyum, dengan air mata yang mulai berjatuhan. “Jadi, tenanglah. Ayo kita berusaha bersama untuk membuat Lyrae pulih” Ucap Raga mencoba menenangkan Angkasa yang terlihat sangat bersedih.

“Semoga kali ini, Luna datang ke dalam mimpi saya dengan perawakan yang tidak lagi mengerikan, ataupun tatapan yang menakutkan” keluh Raga sambil menghela napas panjang.

“Datang ke mimpi?” tanya Angkasa penuh rasa ingin tahu.

“Iya.” Jawab Raga singkat

 “Dia bahkan tidak pernah sekalipun datang ke dalam mimpi saya selama ini” keluh Angkasa. “Kenapa dia bahkan tidak mau menghampiri mimpi suaminya?” senyum getir menghiasi wajah Angkasa. Di lubuk hatinya yang paling dalam, tentu ia tahu betul apa alasannya.

 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Orion menggenggam tangan Lyrae…

Tatapan lembut Orion menunggu dengan sabar, kapan gadis dihadapannya ini akan membuka kedua matanya. Kali ini ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Lyrae saat ia membuka kedua matanya. Saat hal itu terjadi, Orion berniat memberikan senyumnya yang paling hangat untuk menyambut Lyrae.

Bagai doa yang terkabul, perlahan Lyrae membuka kedua matanya. Senyuman hangat menyambut gadis itu. “kamu sudah bangun?” tanya Orion.

Lyrae menoleh pelan ke arah suara terdengar, tatapan bingung terlihat jelas, seakan Lyrae mencoba mencerna keadaan saat ini. Dengan sekuat tenaga, Lyrae mencoba untuk duduk. Orion membantu Lyrae untuk duduk. Tertegun, Lyrae terus menatap kembali sosok seorang pria yang ada dihadapannya saat ini.

Setelah seluruh ingatan menempati kembali tempatnya masing-masing, Lyrae segera menepis tangan Orion. Tatapan bingung yang tadi diperlihatkan Lyrae kini berganti tatapan dingin. Dia mengibas-ngibaskan tangannya, “lo, terlalu menjijikan! Jauhkan diri lo dari gue!” ucapan dan tatapan dingin Lyrae, jelas berhasil membuat Orion menyadari betul bahwa gadis di hadapannya telah mendapatkan kembali ingatannya. Dalam hitungan detik adegan itu berhasil membuat Orion kembali pada waktu lima tahun yang lalu…

***


Di kolam renang sekolah, seluruh siswi dan siswa kelas 2 F berkumpul…

Orion yang baru kembali dari Singapore setelah pemeriksaan panjang, memutuskan kembali ke Jakarta untuk berpamitan pada teman-temansatu sekolahnya sebelum pindah ke Singapore. Operasi dan masa pemulihan yang diperkirakan akan memakan waktu cukup lama membuat keluarga Orion memilih untuk memindahkan sekolah Orion sekalian ke Singapore.

Dua orang siswa menghampiri Orion, “Woi, udah balik?” anak laki-laki bernama Beni, dengan potongan rambut cepak serta warna kulit yang putih, dengan tubuh yang sama tingginya dengan Orion datang dan merangkul Orion.

Langkah Orion yang masih tertatih dengan dibantu oleh sebuah tongkat, langsung berhenti ketika mendapati salah seorang temannya menyapa.

“Cuma untuk pamitan. Gue pindah ke Singapore hari ini”

“Serius lo?” Damar, seorang anak laki-laki yang sedari tadi ada di belakang Orion menyeletuk.

Orion mengangguk sambil tersenyum. “Lyrae mana?” tanya Orion dengan mata yang terus mencari-cari keberadaan Lyrae.

“Itu di sana, sama pacarnya.” Ucap Damar. “Kali…” timpal Damar kembali, karena ia sendiri hanya menerka-nerka.

“Pacar?” Orion mengerenyitkan keningnya, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

“Anak baru.” Tambah Beni. “Eh, iya! Kita punya temen baru tahu!” ucap Beni penuh semangat, “namanya Dito, di sekolah lamanya dia juga perwakilan sekolah untuk kejuaraan renang tingkat provinsi.” Jelas Beni.

“Paling enggak pak Riko gak perlu panik lah ya, nyari pengganti lo. Kan, ada Dito.” Celetuk Beni. “Bisa sengsara kita kalau di suruh latihan setiap hari cuma untuk gantiin lo ikut kejuaraan Tingkat provinsi.” Timpalnya sembarangan.

Mendengar ucapan Damar dan Beni seketika membuat darah Orion mendidih. “Mana Lyrae?” suara Orion terdengar dingin saat ini.

Mendapati hal tersebut kedua teman Orion segera membantu mencari keberadaan Lyrae. “Lagian sih, lo jutek terus sama Lyrae, keduluan cowok lain kan jadinya.” Seloroh Beni sembaranagan, sambil tetap mencari-cari keberadaan Lyrae.

Lihat selengkapnya