Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #18

#Chapter 18: Panggilan Alam Baka

Raga membuka pintu perlahan, langkahnya pelan menuju tempat dimana Lyrae terbaring. Dengan lembut Raga membelai rambut Lyrae. “Lyrae Andromeda, tahukah kamu, Lyrae adalah nama salah satu rasi bintang paling terang?” tanya Raga tanpa meminta jawaban, “maka dari itu, jangan tersesat dalam kegelapan di saat kamu membawa cahaya yang paling terang.” Raga.

Lyrae tetap memejamkan matanya tapi, bulir air mata mulai terjatuh satu persatu membasahi wajahnya. Raga tahu betul bahwa semenjak kedatangannya untuk memeriksa kondisi Lyrae, ia selalu berpura-pura tidur, seakan tidak mau terhubung dengan siapapun

“Kali ini, om datang bukan sebagai dokter yang sedang merawat pasiennya. Kali ini, om datang sebagai om- kamu, sebagai sahabat dari mama kamu. Ada yang mau om bicarakan sama kamu, kalau kamu mau berbicara sama om, apa boleh kamu membuka ke dua mata kamu?” tanya Raga.

Raga menunggu dengan tenang, tapi tak ada jawaban dari Lyrae, ia tetap memejamkan matanya. “Baiklah, kalau nanti kamu sudah mau berbicara sama om, kamu bisa meminta perawat untuk memanggil om. Saat itu, kamu bebas untuk memilih, ingin berbicara sebagai seorang pasien kepada dokter, atau sabagai keponakan kepada om-nya.” Ucap Raga dengan suara yang tenang, “selamat malam Lyrae Andromeda.” Raga tersenyum lembut memandang Lyrae, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Tepat saat pintu di tutup Lyrae membuka kedua matanya perlahan, air matanya kian deras mengalir. Ia mengingat dengan jelas bagaimana setelah selesai mengurus pemakaman mamanya, om Raga terduduk sambil menangis tersedu. Sebuah tangis yang dia tahan sekuat tenaganya dalam waktu yang cukup lama, hanya agar bisa menopang kesedihan suami dan anak dari sahabatnya.

“Maafin aku om…” isak tangis Lyrae terdengar menyayat dalam heningnya ruangan itu.

Lyrae bangun dari tempat duduknya, “pembawa sial” suara-suara mulai kembali terdengar memenuhi kepala Lyrae, “semua salah aku!” Lyrae mulai turun dari tempat tidurnya. “Siapa lagi yang akan jadi korban?” Lyrae mulai berjalan, dengan kaki telanjang Lyrae terus melangkah, “Anak macam apa yang mencelakai ibunya sendiri?” Langkah demi langkah berlalu tanpa tujuan, “Orion kehilangan mimpinya, karena aku.” Air mata mulai kembali membasahi wajahnya, “Papa kehilangan istri yang paling dicintainya, juga karena aku” tanpa henti, Lyrae terus melangkah, “Om Raga harus kehilangan sahabat terbaiknya, dan itu juga karena aku” Suara teriakan terdengar dari segala arah, “MINGGIR WOY!!”, “AWAS LO MAU MATI!! TOLOL!!”

Tiiinnn… Tiiiinnnn!!!!

Suara klakson saling bersahutan dengan tidak sabar.

“Harusnya bukan mama, tapi aku” langkah pelan yang Lyrae kini berganti lari, sekencang mungkin ia berlari ke arah truk yang melaju ke arahnya.

TTIIIINN!!! TTTTIIIIIINNNNNNNN!!!!!!...

Suara klakson terdengar kencang dari truk, berharap Lyrae menghindar. Sayangnya, ia justru seakan menantang dengan lari yang semakin kencang.

“Minggir!!!”

Suara warga sekitar yangmelihat mulai teriak histersis membayangkan kecelakaan mengerikan yang akan terjadi.

Supir truk berusaha mengerem, tapi truk berhenti tepat ketika ia menabrak, kecelakaan tidak dapat dihindari. Truk tersebut menabrak dua orang. Iya, dua orang! Lyrae dan Angkasa.

Angkasa yang mendapati Lyrae berjalan menuju ke perempatan jalan raya, mulai menyadari apa yang akan dilakukan putrinya, dengan segera Angkasa berlari sekencang ia mampu untuk menghindari sebuah tragedi.

Malam ini, diantara riuh suara teriakan manusia dan bising suara klakson mobil, rintik-rintik hujan jatuh perlahan sebelum akhirnya berubah deras menghantam bumi. Katanya hujan yang turun dimalam hari selalu membawa sentuhan romansa. Namun, pada hujan kali ini tidak ada kisah romansa, yang ada hanya kisah yang menyayat hati, tatkala seorang anak perempuan tergeletak dalam pelukan ayahnya dikala truk menghantam keduanya.

Pada sisa-sisa kesadarannya, dihadapan sorot lampu mobil, Angkasa samar melihat siluet seorang wanita melangkah maju ke hadapannya, sebelum ia tidak sadarkan diri.

***

 

Angkasa membuka kedua matanya…

Lihat selengkapnya