Bagaimana Jika Aku Rindu?

Aghnia
Chapter #19

#Chapter 19: Melawan Rindu

 Orion mengusap wajah Lyrae dengan handuk basah, matanya sendu menatap ke wajah Lyrae. “Kamu harus pulang untuk istirahat, mama gak mau kamu malah ikutan dirawat karena kecapekan” ucap Vega pada Orion yang tatapannya tertuju pada Lyrae.

“Aku mau jagain Lyrae.” Ucap Orion singkat.

“Di sini ada suster dan dokter! Mereka akan jagain Lyrae.” Vega berusaha menenangkan.

“Dan begini kondisi Lyrae sekarang” timpal Orion menahan kekecewaannya.

Vega terdiam, jelas ia bisa melihat bagaimana putranya merasa sangat sedih. Tidak mau beradu argument, Vega menaruh sebuah tas berisi bekal makanan. “Mama siapin makanan, harus kamu makan. Jangan sampai kamu melewatkan moment penting saat Lyrae membuka kedua matanya, karena kamu pingsan” ucap Vega, sebelum akhirnya keluar dari ruang rawat Lyrae.

Dengan lembut Orion menggenggam kedua tangan Lyrae. “Apa kata maaf tidak cukup untuk kamu memaafkan kesalahan aku?” mata Orion mulai basah dipenuhi rasa penyesalan. “Apa aku harus pergi seperti apa yang kamu mau, supaya kamu tersadar?” Orion berbicara seakan Lyrae mendengar apa yang ia ucapkan.

“Aku janji, aku akan pergi seperti yang kamu mau, setelah kamu tersadar” air mata tak lagi bisa Orion bendung. “Jadi sadarlah secepatnya, biar aku bisa pergi dengan perasaan yang tenang” Orion menyadarkan kepalanya di sisi tempat tidur dengan air mata yang deras berjatuhan.

Kini Orion mengaku kalah dengan keadaan, ia menyadari betul bahwa tidak semua kesalahan layak dimaafkan, dan mungkin kesalahan yang ia lakukan kepada Lyrae termasuk di dalamnya. Orion ingin melakukan banyak hal agar mendapatkan maaf dari Lyrae, sebagai bukti bagaimana hatinya dipenuhi penyesalan. Tapi, ia takut keegoisannya justru melukai Lyrae lebih dalam dan menyakitinya lebih parah. Tidak mampu membayakan Lyrae menderita karenanya, Orion memilih menyerah dengan keadaan, membiarkan Lyrae membenci dirinya.

Sementara itu, Lyrae yang bahkan tidak mampu membenci Orion, tidak sekalipun pernah berpikir untuk menginginkan jarak menjadi jeda diantara keduanya. Pikiran Lyrae hanya dipenuhi rasa menyalahkan diri yang tidak berkesudahan. Di kondisi yang lemah dan tidak sadarkan diri, hanya ada satu keinginan Lyrae, terbangun di tempat di mana segala yang hilang akan kembali kepada pemiliknya.

***

Aroma wewangian semerbak terbawa angin…

Lyrae yang terbaring di atas rerumputan, perlahan membuka kedua matanya dengan penuh harap. Senyum tipis terlihat di wajahnya ketika apa yang diharapkan diizinkan Sang Pencipta untuk terkabul. Seorang wanita duduk di sebelah nya dengan kedua kaki yang di tekuk. Tubuhnya yang menghadap ke arah Lyrae membuat wanita itu leluasa menatap Lyrae yang sedari tadi terlelap.

Tatapan lega terpancar jelas saat ia dapati gadis yang tertidur dalam waktu lama itu akhirnya membuka kedua matanya. Ketika kedua mata mereka beradu, bulir-bulir air mata Lyrae berjatuhan tanpa bisa di bendung,

“Mama” ucapan pertama Lyrae berhasil membuat Luna tersenyum dengan air mata yang sekuat tenaga ia tahan agar tidak menetes.

“Kenapa lama sekali menyadarinya?” keluh Luna dengan senyum yang terlihat merekah.

Lihat selengkapnya